Daging dari Limbah, Makanan Masa Depan Penyelamat Lingkungan

Daging merupakan salah satu sumber protein utama yang dikonsumsi oleh masyarakat di Indonesia. Daging mengandung nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh seperti asam amino, zat besi, zinc, serta vitamin. Karakteristik rasa serta tekstur yang unik membuat daging digemari. Sebagian masyarakat lainnya menganggap bahwa daging adalah makanan mewah, karena harganya yang lebih mahal dibandingkan lauk pauk atau sumber protein sejenis seperti daging ayam, telur, dan ikan. Daging yang kita jumpai saat ini kebanyakan merupakan daging yang diproduksi dari peternakan.

Advertisement

Sayangnya, industri peternakan yang memproduksi daging ternyata tidak cukup ramah lingkungan

Peternakan turut menyumbang 14.5% gas rumah kaca global. Jumlah yang cukup untuk menyebabkan kerusakan atmosfer yang berujung pada perubahan iklim. Perubahan iklim ini membuat suhu bumi menjadi semakin panas, es di kutub mulai mencair, dan dampak lain yang mungkin akan lebih terasa beberapa tahun ke depan.

Selain itu, ternyata produksi daging memerlukan air yang tidak sedikit. Organisasi Pangan Dunia (Food and Agriculture Organization) menyebutkan bahwa untuk memproduksi 1 kilogram daging ternyata dibutuhkan 15.000 liter air. Bisa dibayangkan air yang selama ini kita hemat ternyata justru banyak dibuang hanya untuk memproduksi daging dalam jumlah yang sedikit. Selain itu, konsumsi daging sebaiknya juga perlu dibatasi untuk orang yang berusia 35-70 tahun karena dapat menyebabkan penyakit kardiovaskuler. Hal ini seharusnya menjadi perhatian kita untuk lebih memperhatikan jumlah konsumsi makanan dan air kita. Tentunya, kita sebaiknya mulai mengurangi konsumsi daging dan menggantinya dengan makanan yang lebih ramah lingkungan.

Advertisement

Pengembangan produk daging tiruan ternyata sudah lama dilakukan

Sejak tahun 1960 hingga sekarang, banyak peneliti dan perusahaan di dunia yang mengembangkan alternatif bahan pengganti daging. Bahan yang populer digunakan adalah protein kedelai. Misalnya seperti Impossible Food yang membuat daging dari protein kedelai, Beyond Meat yang membuat produk daging dari protein kacang polong dan tepung kentang, Quorn yang membuat daging dari jamur Fusarium venetatum, dan masih banyak lagi perusahaan lain yang sukses membuat dan memasarkan produk daging berbasis tumbuhan. Bagaimana dengan di Indonesia?

Advertisement

Banyak sekali alternatif protein di Indonesia yang dapat dimanfaatkan menjadi bahan untuk membuat daging tiruan. Misalnya, bungkil kacang tanah yang oleh masyarakat Malang, Jawa Timur diolah menjadi tempe. Belum diketahui sejarah dibalik pembuatan tempe bungkil kacang tanah ini, namun tempe bungkil sangat populer di kalangan masyarakat Malang dan Jawa Timur. Orang luar Malang biasanya akan membawa pulang produk ini sebagai oleh-oleh ketika berkunjung ke Malang.

Produksi tempe bungkil di Malang terbilang cukup tinggi dikarenakan bahan bakunya mudah didapatkan. Kepopuleran tempe bungkil tidak kalah dengan tempe kedelai yang saat ini digadang-gadang menjadi magic food dan tengah ramai diperbincangkan oleh orang-orang di seluruh dunia. Menurut masyarakat, tempe bungkil juga memiliki rasa yang lebih gurih dibandingkan tempe kedelai.

Jadi, bagaimana cara membuat daging dari bungkil kacang tanah?

Seperti yang kita ketahui, sebagian besar komposisi daging adalah protein. Dengan demikian, bungkil kacang tanah yang mengandung kurang lebih 55% protein cocok untuk dijadikan pengganti daging. Kita bisa mencampurkan bungkil kacang tanah dengan kacang tanah segar, kemudian menambahkan bahan pelengkap seperti perasa daging, gula pasir, bubuk tomat, bubuk cabai, dan soy sauce. Bahan tersebut kemudian diberi air dan dimasak selama 1,5 jam hingga membentuk adonan. Adonan ‘daging’ yang sudah matang kemudian dimasukkan ke dalam kulkas selama semalaman. Keesokan harinya, ‘daging’ dapat digiling menggunakan penggiling daging dan dapat dibentuk seperti patty. Sebelum disajikan dengan kondimen yang lain, ‘patty’ dipanggang terlebih dahulu selama 20 menit.

‘Daging’ bungkil akan memiliki rasa yang mirip dengan ‘daging’ yang terbuat dari protein kedelai dengan harga yang lebih murah serta lebih ramah lingkungan dikarenakan terbuat dari limbah pengepressan kacang tanah. 

Bagaimana dengan nutrisinya?

‘Daging’ bungkil mengandung protein sekitar 31.70%, hampir memenuhi setengah dari konsumsi protein yang dianjurkan. Selain memanfaatkan bungkilnya, bungkil yang sudah diolah menjadi tempe juga dapat dimanfaatkan menjadi tiruan daging dalam bentuk nugget. Dari penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa Universitas Brawijaya pada tahun 2020, GK Sadewa, nugget yang dibuat dari campuran tempe bungkil kacang tanah dan campuran nangka muda menghasilkan nugget dengan kadar protein 5.64%.

Di masa depan, produk-produk seperti inilah yang akan banyak mewarnai meja makan dan piring kita. Proses penanaman serta pengolahan protein nabati yang lebih mudah dan cepat dibandingkan dengan protein hewani, dapat meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan. Tidak menutup kemungkinan, produk olahan bungkil kacang tanah juga bisa mengikuti jejak tempe kedelai yang sudah lebih dahulu populer di dunia sebagai pangan masa depan karena memiliki segudang manfaat bagi tubuh. 

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Seorang mahasiswi pascasarjana Ilmu Pangan di IPB University dan merupakan alumni Universitas Brawijaya. Sangat senang menulis, namun sangat perlu untuk lebih banyak belajar dan menulis kembali.

CLOSE