Dari Aku, Untukmu

self-love

DARI AKU, UNTUKMU

Advertisement

Entah kenapa tahun ini berlalu begitu cepat bagiku, sehingga tak terasa sekarang sudah bulan November. Kalau sudah memasuki bulan-bulan yang berakhiran ‘–ber’ seperti biasa kita akan diberikan rahmat oleh Yang Maha Kuasa berupa musim hujan seperti ketika aku sedang menulis tulisan ini, hari Selasa pukul 21.00 WIB tanggal 5 November 2019. Hujan yang sangat deras diiringi dengan dentuman dari gemuruh-gemuruh yang saling bersahutan membuatku ingin segera merebahkan diri di atas kasur sambil memeluk guling dan mengurung diri di bawah selimut, "Ah pasti nikmat sekali", pikirku.

Tapi sebagai mahasiswa tingkat akhir aku harus bisa melawan itu semua karena ada revisi yang harus diselesaikan. Ya, karena satu dan hal lainnya aku tidak bisa lulus tepat waktu. Aku tahu pasti aku telah membuat kedua orang tuaku kecewa, namun bersedih atau menyesali apa yang sudah terjadi tidak akan mengubah apapun. Yang harus aku lakukan sekarang adalah mencoba untuk fokus menyelesaian tugas akhir ini dan bisa lulus di tahun ini juga. Di saat otakku sudah mulai terasa jenuh akan tulisan-tulisan ini, aku beristirahat sejenak agar pikiranku kembali segar sembari bermain telefon genggam.

Saat aku mengaktifkan handphone banyak sekali pesan yang masuk, ternyata pesan dari sahabatku. Ya, aku sangat beruntung memiliki sahabat yang sangat pengertian dan selalu memberikan support di kala aku sedang down. Seperti biasa, mereka menyemangatiku untuk segera menyelesaikan skripsi. Jujur sebenarnya aku senang karena ada orang yang peduli denganku tanpa aku minta, hanya saja terkadang ada beberapa kalimat yang mereka ucapkan membuatku tersinggung. Aku yakin sebenarnya maksud mereka hanya bercanda, namun sebagai manusia biasa kita terkadang punya sisi yang lebih sensitif dari biasanya.

Advertisement

Tapi aku selalu mencoba untuk tidak terlalu bawa perasaan (baper, kalau kata anak-anak zaman now). Ada beberapa kebiasaan orang Indonesia yang menurutku seharusnya diubah, misalnya saja kebiasaan basa-basi. Mungkin ini dilakukan agar tidak merasa canggung dalam perbincangan. Hanya saja sering kali pertanyaan yang diberikan adalah hal-hal basi yang sering membuat sakit hati. Misalnya, ditanya kapan lulus, dimana kerjanya, bahkan ditanya kapan nikah pun kapan punya anak, dan seterusnya. Aku yakin setiap orang yang ingin sukses pasti mengusahakan yang terbaik dalam mencapai apa yang diinginkan. Hanya saja terkadang ada kendala yang tidak bisa mereka kendalikan. Kebanyakan orang terlalu sering men-jugde padahal mereka tidak mengetahui persis apa saja yang orang lain itu telah lalui. Dan pelajaran itulah yang aku dapatkan selama aku berkutat dengan tugas akhir ini. Aku mencoba untuk tidak sembarangan menilai orang lain atau memandang remeh pencapaian orang lain karena kita tidak tahu apa saja yang telah mereka lalui.

Untuk mencoba melupakan hal-hal tersebut aku membuka salah satu akun media sosialku. Disaat sedang asyik berselancar di dunia maya, tiba-tiba aku melihat seorang temanku yang sekarang sudah merantau ke kota besar dan bekerja disana. Seketika hati ini berkata, "Kapan ya aku seperti mereka?" Aku juga ingin seperti mereka, bisa bekerja di perusahaan yang bergengsi dan bisa membuat orang tua ku bangga. Padahal aku sudah berusaha sekeras yang aku bisa tapi sepertinya begitu banyak halangan yang menghambat proses keberhasilanku.

Advertisement

Di saat perasaanku semakin down, tiba-tiba aku mendapatkan notifikasi telfon masuk dan ternyata dari orang tuaku. Notifikasi yang selalu aku tunggu setiap harinya karena hanya dengan mereka keluh kesahku bisa berkurang. Seperti biasa mereka menanyakan kabarku dan hal yang aku lakukan hari ini. Tiba-tiba Ibuku bercerita bahwa salah satu anak tetanggaku sudah bekerja di perusahaan asing. Aku mengerti maksudnya, mungkin mereka tidak bermaksud mendesakku, mereka hanya ingin melihat anaknya bisa sukses seperti anak-anak yang lainnya. Aku pun hanya bisa bergumam dalam hati, "Suatu saat aku janji akan membuat kalian bangga."

Waktu sudah menunjukkan pukul 23.00 WIB, aku memutuskan untuk tidur agar bisa bangun lebih pagi. Saat sudah terlelap aku bermimpi bertemu dengan seorang gadis kecil. Entah mengapa ketika melihatnya aku merasa tidak asing dan seperti sudah saling kenal. Dia kemudian bercerita kepadaku, dia menceritakan pengalaman yang telah ia lalui dan hal yang telah berhasil ia dapatkan bahkan sampai hal terkecil sekalipun. Dia mengatakan bahwa setiap orang memiliki kemampuan dan cerita suksesnya masing-masing. Tidak perlu iri melihat kesuskesan seseorang, yang perlu aku lakukan hanyalah fokus dan terus berusaha agar impianku tercapai, karena setiap orang memiliki waktu untuk sukses yang berbeda.

Sontak aku seperti tertampar mendengarnya dan ingin sekali memeluknya. Di saat aku memeluknya, aku terbangun. Aku tersadar bahwa selama ini aku terlalu fokus dengan pencapaian orang lain sehingga lupa untuk bersyukur atas apa yang aku miliki. Mungkin ini saatnya aku mengubah mindset agar lebih mengapresiasi pencapaian yang telah aku dapatkan bahkan hal kecil sekalipun.

Untuk itu, aku ingin mengucapkan terima kasih kepada seseorang yang selalu ada, di saat semua orang mencoba meninggalkan.

Aku ingin berterima kasih untuk seseorang yang selalu berusaha bangkit di saat semua orang mencoba menjatuhkan.

Aku ingin berterima kasih untuk seseorang yang selalu tersenyum di saat semua orang mencoba  menertawakan.

Aku ingin berterima kasih untuk seseorang yang selalu kuat di saat semua orang mencoba menggoyahkan.

Dan aku ingin berterima kasih untuk seseorang yang tidak pernah patah semangat di saat semua orang mencoba merendahkan.

Maaf karena telah membuatmu melalui banyak hal pahit, tapi aku minta bertahanlah sedikit lagi sampai kita mencapai apa yang kita impikan.

 

Dari aku,

 

                               untukmu,

 

diriku.

 

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

CLOSE