Dari Perempuan untuk Perempuan: Tubuh Perempuan dan Penghormatan Kepada Hidup

Penghormatan terhadap tubuh perempuan adalah penghormatan paling tinggi kepada hidup.

Ada berita seorang anak perempuan yang hamil di luar perkawinan, seorang teman perempuanku berkomentar di sosial media. “Makanya, kalau punya anak diajari menutup aurat sejak kecil agar tidak salah pergaulan: pacaran, seks bebas, hamil.” Ia lalu menambah keterangan bahwa Islam punya instrumen aturan berjilbab untuk menjaga kehormatan perempuan dan melindungi diri dari bentuk kejahatan seksual. Dalam hati, ingin kukabarkan kepadanya bahwa banyak janda di kampungku hamil di luar perkawinan tapi tak ada urusan dengan jilbab. Mereka adalah buruh migran yang di pulangkan setelah di siksa dan ketahuan dihamili oleh tuannya di negeri tetangga.

Advertisement

Ada berita seorang istri ustaz yang dikhianati suaminya karena poligami, seorang teman perempuanku berkomentar lagi. Ia bilang “Istri si ustaz hebat sebab ikhlas dengan keputusan suami.” Poligami adalah sesuatu yang disyariatkan dalam Al-Quran dan bagi perempuan yang mampu menerima, surga adalah balasannya. Dalam hati, aku mau bilang padanya bahwa Rasulullah SAW berpoligami pada sepuluh tahun terakhir periode dakwahnya ketika banyak terjadi peperangan.

Pilihan Nabi untuk menikahi janda-janda pada fase itu menerangkan fase sosial yang khas, yakni pada masa kini ketika tak ada kebutuhan atas situasi yang sama khasnya, pilihan poligami dengan tegas boleh ditolak. Islam datang menerangkan konsep pembatasan jumlah serta konsep keadilan yang diakhiri dengan syariat larangan bilamana laki-laki tak mampu berbuat adil.



Dinding Pembatas Kemerdekaan Perempuan Berjenis Tiga Hal:

Pertama, adalah tradisi. Sekalipun negara telah menetapkan Undang-Undang yang membatasi praktik pernikahan dini, misalnya pengadilan agama dan Kantor Urusan Agama selama ini masih banyak yang tunduk pada penduduk lokal dan memberikan dispensasi. Tradisi pernikahan dini dihubungkan dengan mitos bahwa jika seorang perempuan telah di lamar oleh seorang laki-laki, tak boleh di tolak apabila tak mau anak itu gagal mendapatkan jodoh seumur hidup. Selain itu, kultur Indonesia juga masih menempatkan perempuan sebagai warga kelas kedua. Mempercepat perkawinan gadis sering kali menjadi solusi untuk berbagai alasan ekonomi, sosial, anggapan pendidikan tidak penting dan stigma negatif terhadap perawan tua.


 

Kedua, doktrin agama. Banyak dari teman perempuan muslimah saya sering kali mempersempit diskusi-diskusi tema “Perempuan dan Islam” hanya pada bahasan soal jilbab dan ketaatan. Sintesis yang keluar dalam diskusi itu terbatas pada simpulan bahwa perempuan harus taat agar tidak ditinggalkan oleh suaminya. Perempuan tampak berjuang keras sekali pada ranah-ranah itu, padahal di sisi lain perempuan boleh lebih maju untuk berdiskusi perihal tingginya angka kematian ibu melahirkan dan problematika sosial lainnya.

Advertisement



Ketiga, kapitalisme. Akar dari seluruh persoalan kekerasan berbasis gender atas nama apa pun adalah soal kekuasaan, soal dominasi dan penindasan oleh yang kuat dengan yang lemah. Laki-laki terkondisikan tidak boleh menangis sejak kecil sedangkan perempuan yang baik adalah stereotip perempuan lembut dan tidak melawan. Pada peristiwa sederhana catcalling (bersiul pada perempuan asing di jalan) misalnya, yang terjadi bukan hal kompleks seperti doktrin agama bahwa laki-laki tak mampu menundukkan pandangan, tapi semata sejak mula laki-laki menganggap dirinya sebagai pribadi lebih kuat yang punya kuasa untuk menjudge perempuan serta keyakinan bahwa banyak perempuan lebih sering di intimidasi dan tidak mampu melawan. Kapitalisme memandang tubuh perempuan sebagai aset yang sejak dulu boleh di objektifikasi pada Billboard iklan, pada siaran televisi juga bahasa media yang mereduksi entitas keperempuanan sebatas kata “cantik atau seksi”.



Beritahukan kepada sesama perempuan bahwa perempuan boleh berkata tidak, boleh meminta bantuan dan boleh bekerja sama.

 

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Explorer - Write

CLOSE