Aku tak berkata jangan menikah muda. Toh usia memang bukan tolok ukur kedewasaan menjalin rumahtangga. Hanya saja jangan menutup mata, umur juga memberi waktu untuk belajar lebih banyak darimana saja. Kuharap kita sama percaya bahwa pengalaman adalah guru terbaik. Pengalaman sangat intim dengan peristiwa. Untuk bersentuhan dengan peristiwa yang tak itu-itu saja tentu kita kadang perlu merasakan lingkungan yang berbeda. Seumpama makanan, jangan hanya puas makan di warung satu saja.

Sesekali cicipi  masakan dari warung lainnya. Walaupun pada akhirnya, fovoritmu ya tetap warung itu. Setidaknya kamu tau ada banyak rasa dan cara makan di luar sana. Sehingga kamu tidak kaget, kalap, lalu mudah melabeli yang hanya tampak mata atau tertulis saja.  Kamu yang lebih banyak belajar ilmu agama, tentu lebih tahu bahwa nasehat baik harus dihormati bahkan dijadikan panutan sekalipun yang menyampaikan kelakuannya berkebalikan. Sebab, barangkali itu pesan Tuhan.

Advertisement

Tenang saja, aku sependapat denganmu bahwa hal baik harus disegerakan. Salah satunya menikah. Itu akan menekan angka dosa dan bisa dibalikkan berkali-kali lipat jadi pahala. Tapi, apa benar selalu demikian? Tidak, aku tidak meragukan firman-Nya, tidak meragukan dalil-dalil yang menguatkan.

Kamu yang sedang memelihara iman, tolong jangan menernak amarah pada statemen yang baru pembukaan. Kembali pada pembahasan, bukankah ada banyak firman dan dalil yang menyatakan hal-hal kecil bisa jadi dosa besar dalam pernikahan. Semisal suami tak adil, suami tak dapat menafkahi, istri membantah suami, dsb. yang mana detail penjelasan dari perkara itu sangat lebar.

Dari kacatama awam, aku menilai perkara-perkara itu lebih banyak karena tak siap mengahadapi kenyataan. Bahwa yang terlihat mudah kadang bisa jadi pelik. Bahwa kita pikir menikah dengan orang yang gelar agamanya baik, pasti baik pula rumah tangga yang dibina. Tak perlu dipertanyakan lagi.

Advertisement

Tak apa menjadi istri kedua Pak Haji, keikhlasan kita akan membuka surga. Ketaatan kita padanya nanti juga membuka surga. Secara finansial tentu ia mampu menafkahi. Kemungkinan kita juga bisa menjalani ibadah haji. Atas restu istri pertama maka pernikahan itu benar-benar jalan ke surga yang tidak diberikan pada semua orang.

Tapi apakah benar demikian? Benarkan izin dari istri pertama adalah keikhlasan? Mungkin kamu perlu taaruf dengan istrinya juga. Kamu perempuan yang sangat peka. Tentu memahami perasaan perempuan lain sama baiknya. Sebagai perempuan yang tak ingin disakiti tentu kamu tak mau menyakitinya pula. Bukankah menyakiti saudara seagama itu dosa?



Sebagai calon ibu, tentu kamu ingin menyayangi dan melindungi anak-anakmu. Memastikan mereka aman dan hidup berkecukupan atas pendidikan formal, pendidikan agama, kebutuhan sehari-harinya, dan cinta kasih dari orangtua. Firman yang singkat nyatanya harus dipahami dalam-dalam. Benarkah kamu diinginkan anak-anak istri pertama Pak Haji atau justru dianggap ancaman? Bukankah keluarga adalah perlindungan pertama mereka.

Apa jadinya jika ia tumbuh dalam kebencian? Sejujurnya, bila kamu nanti dikaruniai anak kandung. Mampukah kamu berbagi sayang tanpa pembedaan? Sementara masih banyak ibu-ibu yang kuwalahan membagi cinta antara anak pertama dengan anak berikutnya. Bila kamu mampu, apakah anakmu ridho kamu bersikap demikian?



Sungguh itu baru segelintir permasalahan yang dapat mengubah hati dan hidup orang. Masih amat banyak yang perlu dijawab penuh pertimbangan. Semisal, apakah kamu sanggup sering ditinggal-tinggal suamimu yang jadi ustadz dengan jadwal sangat ketat. Sedang kamu lagi sakit, butuh teman untuk mengambilkan makan dan obat, tapi jangankan ia bisa merawat, mendengar suaranya saja perlu perjuangan hebat.

Apakah kamu benar siap menikah dengan hafiz quran tanpa penghasilan tetap? Sedang kehamilanmu nanti butuh makanan bergizi tinggi dan kamu tak boleh kerja berat-berat lagi. Apakah kamu benar siap menjadi istrinya anak Pak Kyai dan bersaing dengan orangtua santri/santriwati yang terus menawari anak gadis untuk diperistri meskipun tau posisi itu sudah terisi.



Hai, saudara perempuan yang sedang mengejar surga. Apakah kamu pernah mendengar cerita bahwa pernah ada seorang yang amat ahli dalam ibadahnya sebab lingkungannya amat terjaga. Lalu suatu hari ia harus keluar dari lingkungan itu. Ia masuk dunia yang dalam tebal  iman dirutukinya. Tapi, Tuhan Maha Membolak-balikkan hati. Pagi ia pejuang iman, sore ia pejuang dosa. Secara psikologi orang demikian hanya tak siap mental. Pendiriannya porak-poranda begitu keluar dari zona nyaman.

Hai, saudara perempuan yang sedang mengejar surga. Apakah kamu menutup mata pada banyak berita seorang guru agama mencabuli anak asuhannya. Apakah kamu menutup telinga pada kabar seorang pemuka agama menipu umatnya?



Hai, saudara perempuan yang sedang mengejar surga. Apakah setelah ini kamu tetap kukuh berta'aruf hanya sekelebat mata, lalu menyegarakan nikah dengan pria yang tak kamu kenal benar. Yang mungkin saja gila sex, tak pandai menjemput rezeki, dan suka melakukan kekerasan. Hingga kamu dihadapkan pada pilihan bercerai hingga Ars'-Nya terguncanng. Atau bertahan dengan menabung dosa pernikahan, hidup dan ibadah tidak tenang dalam rumah tangga yang berantakan.

Kenali calon imammu baik-baik, tak perlu terburu. Bukankah Tuhan memastikan segala sesuatu tertulis jauh sebelum kelahiranmu?

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya