Siang itu matahari terik dengan indahnya. Disudut kota arah perempatan jalan inilah kantor itu berdiri. Ya benar, aku telah bekerja disana selama tiga tahun. Kantor kecil dengan banyak kenangan manis yang pernah terukir didalamnya. Halamannya tidak terlalu luas, namun cukup asri dan lapang untuk lokasi parkiran. 

“Kenapa muka abang? Ada masalah lagi?”, tanyaku sambil menyeruput air mineral. Dari ekspresi yang tercetak jelas di wajahnya, aku tau siapa si pengirim pesan itu.

Advertisement

“Iya, Lin”, ucapnya sambil menarik-hembuskan nafas perlahan. Kalimatnya hanya sampai disana, dan dari raut wajahnya aku tau, kalau ia takkan mau membahasnya lebih jauh denganku.

Wanna say something?”, pancingku.

“Gak sekarang ya Lin, nanti kalau abang mau cerita, pasti bakalan abang ceritakan”, balasnya.

Advertisement

“Oke”, ucapku sambil tersenyum.

Bohong, ya jelas. Tahukah kau bahwa aku penasaran setengah mati, dan yang paling aku tidak suka adalah saat melihat raut wajahnya yang sedih dan hampir dipenuhi dengan keputus-asaan. Hanya karena seorang wanita, yang bahkan belum menjadi istrinya.

Aku memanggilnya Bang Fras, namanya Frasetia Adnan. Dia lima tahun lebih tua dariku dan seniorku di kantor ini. Aku dekat dengannya sejak awal bekerja dan ditempatkan diruangan yang sama dengannya. Bahkan meja kerjaku persis disebelah mejanya. Sejak itu, kami sering sharing cerita dan bertukar pikiran. Kami sering saling bergurau dan terkadang membahas hal-hal yang receh untuk diceritakan.

Bang Fras orang yang ramah, bahkan humoris. Ia selalu berhasil membuatku tertawa hanya dengan gurauan spontannya yang terucap. Pernah suatu ketika, disaat awal aku membawa bekal makan siang ke kantor, aku melebihkan porsinya menjadi porsi untuk dua orang. Tujuanku memang untuk dimakan berdua dengan Bang Fras.

Saat aku mengeluarkan bungkusan dan membukanya, Bang Fras dengan spontannya berkata, “Bongkahan nasinya gede ya Lin, sebesar batu longsor”, ucapnya saat itu yang sukses membuatku tertawa terbahak-bahak. Ia juga ikut tertawa dan bilang, “Abang ikutan ketawa karena liat kamu ketawa Lin. Tawa kamu tu nular”, ucapnya.

Dia adalah tipe pria yang mudah dekat dengan orang lain, karena pembawaannya yang tenang. Namun, tetap saja. Masalah akan selalu datang tanpa memandang keadaan seseorang. Termasuk ke Bang Fras. Aku pernah menanyakan hal ini padanya dulu, saat masa kerjaku masih tiga bulan pertama.

“Abang, kapan nikah? Kan udah ada calonnya, kerjaan juga udah ada, umur udah cukup. Nunggu apalagi?” sahutku kala itu, sambil sedikit tertawa menggoda. Wajahnya yang semula ceria, mendadak berubah muram. Ia hanya menghela nafas dan berkata, “Entahlah Lin, gimana mau nikah kalau ‘dia’nya belum mau?” ucapnya datar.

Pikiranku langsung mengarah pada pacarnya, yang dia sebut ‘dia’ tadi. Setahuku, mereka seumuran dan sudah cukup lama menjalin hubungan. Aku tahu, aku mungkin terlihat seperti orang yang kepo dan ingin tau masalah orang lain. Tapi percayalah, bahwa aku seperti ini hanya kepada orang-orang terdekatku saja. Terlebih kepada Bang Fras, yang sudah mulai akrab denganku.

Jawaban dari Bang Fras semakin membuatku penasaran dengan hubungannya. Aku lanjut bertanya cukup banyak, namun tetap dalam pembawaan yang tenang. Bang Fras mulai menceritakan sedikit tentang kekasihnya. Hingga aku tau, masalah utamanya adalah pada ‘dia’.

Aku kemudian tak bertanya lagi, karena ku rasakan bahwa Bang Fras belum mau bercerita banyak kepadaku. Hari-hari kemudian berlanjut seperti biasa, aku ke kantor seperti biasa, bercanda gurau dengan Bang Fras dan teman-teman se-kantor lainnya.

Semua berjalan seperti biasa dan terasa baik-baik saja, hingga sore itu ku temukan Bang Fras duduk di kursinya dengan wajah lesu dan muram. Terlihat hampir menangis namun ditahan. Saat itu suasana kantor mulai sepi karena jam kantor telah habis, dan para karyawan lainnya kebanyakan telah pulang.

Aku melihat wajah itu. Wajah yang biasa ku lihat tersenyum dan ceria, serta bahagia saat menjahiliku, sore itu berubah menjadi rapuh. Seolah-olah sedang menghadapi akhir dari hidupnya. Aku menahan perasaan untuk tidak ikut menangis didepannya. Ku putuskan untuk bertanya pertanyaan pembuka, “Ada apa?”, mengambil kursi dan duduk di dekatnya.

Ia melihatku, pandangannya sedikit menerawang ke kanan dan kemudian bibirnya mulai berbicara. “Hubungan abang sedang diujung tanduk Lin”. Hanya itu, ya cuma itu. Aku memberanikan diri untuk menanyakannya lebih lanjut. Aku tak ingin melihat wajah sedih itu, jangan lagi. Aku juga akan ikut terhanyut nanti.

“Abang kecewa Lin”, ujarnya lagi, lirih. Semakin ingin ku bertanya lebih lanjut, semakin aku tidak mengerti dengan permasalahan ini. Aku seakan berada dalam misteri yang sebenarnya tidak rumit, tapi dibawa rumit oleh tokohnya.

“Makasih Lin, udah ada untuk abang. Kamu mau temani abang, saat abang begini”, ucapnya lagi. Kemudian dia menekurkan kepala dan tak lagi berbicara kepadaku. Aku tak tahan lagi dengan wajah sedihnya yang juga ikut membuatku sedih. Aku tak ingin melihat wajahnya begini lagi, batinku.

Tuhan, aku mohon. Segerakanlah selesai apapun permasalahan Bang Fras, yang membuatnya rapuh seperti ini. Doaku dalam hati. Jujur, aku tak tau harus bagaimana. Tak tau apa yang harus ku lakukan untuk menenangkannya.

Aku bangkit, dan mendekatinya. Ku peluk dia dengan lembut, dan ia menyandarkan kepalanya ke pundakku. Ku rasakan emosi dan perasaan Bang Fras, walaupun ia tak mengatakan sepatah kata pun setelahnya. Setelah cukup tenang, kami memutuskan untuk pulang. Aku dan Bang Fras selalu beriringan saat pulang dengan motor masing-masing, meskipun rumah kami berbeda lokasi.

Setidaknya sama hingga seperempat perjalanan, karena arahnya juga sama. Namun sore itu, Bang Fras memutuskan mau mampir ke rumah temannya, yang artinya dia takkan beriringan pulang denganku.

“Abang singgah tempat teman dulu ya Lin, kamu pulang duluan aja. Nanti abang kabari”, katanya.

Bohong, batinku. Aku tau ia takkan mampir ke rumah temannya, tidak untuk saat ini, disaat dia sedang ada masalah seperti ini. Aku tau dia butuh waktu untuk menenangkan diri entah kemana dan bersama seseorang yang mungkin lebih dia percayai, selain aku. Aku hanya mengangguk dan menjawab, “Oke, entar kabari Elin ya Bang”.

Dia hanya membalas dengan satu anggukan, dan langsung memacu motornya ke arah yang berlawanan dari yang biasa kami lalui disaat pulang. Aku melihatnya dari kaca spion hingga menghilang di persimpangan, lalu memacu motorku pulang. Selama di perjalanan pulang, aku juga tidak tenang. Terima kasih Bang Fras, kehadiranmu ke dalam hidupku membuatku mempertanyakan kembali hatiku.

Sebelumnya, saat aku masih dibangku perkuliahan, aku menyukai seorang temanku, lebih tepatnya hanya menyukainya sebelah pihak, karena aku tak pernah tau bagaimana perasaannya kepadaku. Kami sudah saling mengenal sejak kurang lebih empat tahun lamanya. Dan selama tiga tahun setelah setahun masa pengenalan, aku menyukainya.

Dia pria yang cukup sulit untuk ku tebak perasaannya, bahkan setelah berteman dengannya selama empat tahun. Aku tau dia tidak sedang menjalin hubungan dengan seseorang, dan aku juga tau dia tidak sedang mengincar wanita manapun. Namun, selama empat tahun itu, perasaanku hanya seperti berjalan ditempat. Tak ada kemajuan apapun, walau sesering apapun interaksiku dengannya.

Sahabat baikku, Andrea pernah suatu ketika berkata, “Mending kamu lupain ajalah si mister es itu. Entar kalau udah kerja, kamu bakal dapat yang baru, mudah-mudahan lebih baik dari yang ini. Ngapain kamu berharap ke orang yang sama sekali gak mengharapkan kamu?”, ujarnya menasehatiku saat aku menginap di kosannya. Saat itu, aku masih belum bisa melupakan perasaanku. Karena, yah, aku masih menyukainya.

Dan kini, setelah semua yang terjadi dan hari-hari yang ku lalui selama di kantor ini, aku merasakan perubahan pada hatiku. Dan saat aku mengingat kembali semua perubahan yang terjadi, semua bermuara ke satu kesimpulan yang selama ini tak ku sadari. Ya, aku menyukai Bang Fras. Aku menyukai teman se kantorku itu, yang sekarang sedang berada dalam masalah asmara dengan pasangannya.

Perlahan tanpa sadar, air mataku mengalir. Aku mulai menangis, dan masih dalam keadaan mengendarai motorku.

Ku hapus perlahan air mata yang keluar, dan saat hampir sampai di persimpangan komplek rumah, aku membelokkan arah motorku. Bukan hanya Bang Fras yang butuh ketenangan diri saat ini, tapi juga aku. Fakta bahwa aku mulai menyukainya, membuatku tersadar bahwa aku harus menghapus perasaan ini. Aku tak mau menjadi orang ketiga, ataupun menyukai seseorang yang sudah memiliki pasangan.

 Aku berhenti di salah satu bangku taman, dekat sebuah universitas swasta di area itu. Didepan bangku itu terhampar sungai yang indah jika dilihat saat siang hari dan dengan suasana hati yang baik. Aku pernah ke sana dengan Bang Fras, sepulang dari kantor. Kami membeli kebab dan segelas minuman dingin sambil memandang sungai dengan canda tawa.

Kala itu, saat kami sama-sama bahagia dan dalam suasana hati yang baik. Tapi tidak sekarang, lain ceritanya. Aku hanya sendirian disini, meskipun ada di bangku taman lain yang tak jauh dariku, sepasang pria dan wanita juga melakukan hal yang ku sebutkan tadi. Nyatanya aku tak mengenali mereka dan aku memang sendirian di bangku ini.

Tak ku inginkan namun terjadi lagi, aku kembali menangis. Aku rindu Bang Fras dan tawanya. Aku rindu saat dia mengejekku dengan wajahnya yang lucu. Aku kangen hangat tangannya saat mencubit pipiku sambil mengatakan, “Elin bau, jarang mandi”, lalu ia akan tertawa puas dan aku juga tertawa meskipun awalnya pura-pura cemberut.

Aku membuka tas dan mengeluarkan secarik kertas dan pulpen. Ku tuliskan beberapa kata yang menjadi kalimat hingga menjadi semacam pesan, untuk Bang Fras. Tapi aku berjanji ke diriku takkan pernah memberikan kertas ini ke tangannya. Aku menuliskan pesan rindu untuknya.

Hai,

Aku Cuma mau mengatakan, bahwa aku rindu kamu. Ya, kamu. Kamu yang biasa ku kenal. Kamu dengan tatapan meneduhkan. Kamu dengan kehangatan hatimu. Kamu dengan senyuman khasmu.

Ya, kamu. Aku benar-benar rindu kamu. Aku tak ingin kau jauh dariku. Permintaanku sederhana tapi mungkin berat bagimu. Aku bahagia denganmu. Aku nyaman denganmu. Hatiku menginginkanmu. Aku tak tau kenapa.

Entah sejak kapan, rasa ini mulai tumbuh. Kalaupun takkan berbalas, tak mengapa. Aku tak akan memaksa, walau hati berat terasa. Aku ingin menua bersamamu, memulai kisah baru bersamamu. Hanya itu, kita berdua.

Aku tak berlama-lama di bangku itu. Ku lihat notifikasi di ponsel, tak ada pesan masuk dari Bang Fras. Dia tak mengabariku apapun. Aku semakin kecewa dan memutuskan untuk bergegas pulang.

***

Mungkin banyak orang yang bertanya, mengapa aku begitu peduli kepada Bang Fras. Jawabannya sederhana saja, karena Bang Fras adalah orang pertama yang telah memberikan warna dalam hidupku. Aku melihatnya seperti bunglon, karena ia bisa berubah-ubah.

Sosoknya tak hanya sebagai Abang, tapi juga sebagai sahabat, teman sepermainan, bahkan kadang aku melihatnya seperti sosok seorang ayah. Mungkin itu semua yang aku butuhkan selama ini, terlebih lagi aku sudah kehilangan ayahku saat usiaku delapan belas tahun. Sosok yang ku rindukan itu kini hadir dalam diri Bang Fras. Entah secara kebetulan saja, ataukah takdir dari Yang Maha Kuasa.

Bang Fras dulu pernah bilang, “Lin, kamu udah kerja disini lima bulan ya”. Aku dengan santainya menjawab, “Iya Bang. Terus?”, tanyaku.

“Baru lima bulan. Tapi abang merasa kayak udah kenal kamu bertahun-tahun Lin”, ucapnya yang sukses membuatku terdiam. Saat itu aku membalas ucapannya dengan gurauan saja, “Jodoh kali”, ucapku sambil tertawa terbahak-bahak. Namun Bang Fras hanya tersenyum setengah tertawa menatapku. Aku yang saat itu, tak tau makna dibalik senyum Bang Fras sore itu. Aku juga tak tau, bahwa Bang Fras ternyata sudah cukup lama merahasiakan penyakitnya ke semua orang terdekatnya, bahkan ke keluarganya.

Pernah suatu ketika, selepas kerja disaat hendak pulang, Bang Fras mendadak merintih hebat karena sakit perut. Aku saat itu berpikir mungkin sakit perut hendak buang air besar, namun Bang Fras membantah bukan karena itu.

Semakin lama, rasa sakitnya semakin pedih. Aku menyarankan untuk pergi ke dokter atau rumah sakit terdekat saja, tapi Bang Fras menolak. Ia tak mau dibawa ke klinik ataupun rumah sakit, dan berdalih bahwa obatnya ada di kosan nya. Aku tetap memaksanya untuk ke dokter karena aku tak tega melihatnya menahan sakit seperti itu. Tapi ia tetap bersikukuh bahwa ia akan baik-baik saja setelah meminum obatnya.

“Abang udah biasa begini Lin. Kamu tenang aja ya. Abis minum obat juga udah ketawa lagi entar”, ucapnya saat itu, mencoba menenangkanku.

“Keluarga abang udah tau?”, tanyaku. “Belum. Yang tau tentang ini cuma dua orang. Satu teman abang pas kuliah dulu, dan sekarang dia di Jakarta. Satu lagi, kamu Lin. Kamu orang terdekat abang disini. Abang gak ada keluarga di sini, cuma ada kamu”, balasnya.

Mendengarnya berkata begitu, aku rasanya ingin menangis, terlebih saat melihat wajah Bang Fras yang menerawang keluar jendela sambil berkata “Kalau entar ada apa-apa sama abang, kamu tolong hubungi keluarga abang ya. Mereka udah tau nomor kamu kok, untuk jaga-jaga aja”, ucapnya sambil memaksakan sedikit senyuman.

Ya, kau benar. Itu hanya senyuman palsu yang ia perlihatkan padaku. Aku tau betul bahwa mata coklat muda yang meneduhkan itu terasa ingin menangis, sangat. Aku terdiam, tak berkata apapun. Mungkin karena itu Bang Fras tak mau ikut saat aku ajak periksa ke dokter.

Ia tak mau aku tau tentang penyakitnya. Ia tak mau orang lain mengetahuinya. Bang Fras pernah bilang, kalau ia nanti meninggal, ia tak ingin merepotkan semua orang. Ia tidak ingin orang-orang menangisi kepergiannya, sehingga ia memilih untuk merahasiakannya selama bertahun-tahun.

***

Seminggu berlalu, kami menjalani hari-hari seperti biasa, Bang Fras pun juga, karena ia menerapkan prinsip profesionalitas dalam bekerja kepadaku dulu. Siang itu, saat jam istirahat makan siang, Bang Fras menghadap ke arahku dan memutar arah kursinya.

“Lin, sabtu depan abang izin ya. Abang gak ngantor, ada keperluan”, ucapnya datar.

“Abang kemana?”, tanyaku penasaran. “Mau ke Bengkulu”, balasnya.

Bang Fras pernah mengatakan kalau ia berencana untuk menemui orang tua kekasihnya dan hendak melamarnya. Saat itu, aku mendukung keputusannya dengan hati yang juga ikut senang. Namun, kini aku mendukung keputusannya dengan hati yang hancur.

“Iya bang. Kerjaan disini entar Elin backup. Semoga lancar ya bang”, ucapku tersenyum hambar.

Bang Fras menatapku, dan berkata “Makasih ya Lin, semoga ada ujung dari masalah ini”.

“Good Luck bang”, balasku, sambil mengacungkan kedua jempol tanganku ke arahnya. Dia hanya membalas dengan sebuah senyuman. Aku menyadari bahwa Bang Fras masih menyayangi kekasihnya. Ia masih menyimpan foto mereka didalam dompet. Bahkan nama kontak di ponselnya masih nama panggilan yang sama saat mereka menjalin hubungan dan dari raut wajahnya masih ku rasakan ‘perasaan’ itu.

Sepulang kantor hari itu, aku kecewa. Kecewa karena akhirnya aku patah hati. Setidaknya Bang Fras akan berbahagia nanti. Dan ku harap aku juga akan bertemu orang baru nantinya. Hanya itu bisikan-bisikan positif ditelingaku.

Realitanya, tidak semudah itu. Aku kembali mengenang masa-masa aku berkeliling dengan Bang Fras ke berbagai sudut kota. Hampir disemua tempat di kota ini, pernah kami telusuri. Sambil bercanda di atas motor, dia pernah bertanya, “Lin, kalau abang udah gak ada lagi, entar kamu sedih gak?”.

 Aku yang sebelumnya sedang tertawa, spontan terdiam. Maksudnya apa ini. “Kenapa emangnya?” tanyaku. “Kamu kebiasaan ya Lin, kalau abang nanya, kamu suka nanya balik”, balasnya sambil memasang wajah cemberut.

“Ya sedih lah. Entar siapa yang jahilin Elin lagi dikantor? Siapa yang jadi lawan perang bola kertas Elin pas dikantor?”, ucapku sambil masih dalam nada bercanda. Aku tau dia bertanya serius saat itu, tapi aku tak mau menjawabnya, bahkan membayangkannya saja aku tak mau. Aku belum siap untuk keadaan itu.

Aku berhenti di tepi muara, tempat dimana aku pernah ke sana dengan Bang Fras. Aku duduk di salah satu jenjang dekat bibir muara dan bersandar disebuah tiang sambil memandangi para pejalan kaki dan kendaraan yang berlalu lalang. Hatiku berkata bahwa semua sudah berakhir.

Tiga tahun ku bekerja disana dan mengenalnya, sudah cukup rasanya. Aku ingin menghapusnya. Aku tak ingin patah hati berlarut-larut. Tepat pada saat itu, Andrea, menelponku. Ia menanyakan kabarku dan bagaimana aku disini. Aku meluapkan semuanya pada Andrea.

Andrea adalah sahabatku sejak SMA dan satu-satunya teman yang selalu setia mendengarkan ocehan dan setiap masalahku. Ia terdiam cukup lama setelah selesai mendengarkan semua ceritaku.

“Lin, kamu kesini gih, bareng aku disini. Aku gak mau liat kamu stres disitu sendirian, ntar aku jadi janda karena ditinggal kamu”, ucapnya.

“Ih, orang lagi serius juga. Ini aku harus gimana?” tanyaku.

“Ikhlaskan dan lepaskan, sayang. Kamu berhak bahagia. Udah terlalu lama kamu menunggu. Tiga tahun bukan waktu yang sebentar. Buka hatimu untuk cinta yang baru, kamu akan temukan itu. Tapi saranku, kamu menjauh darinya mulai sekarang, kalau benar-benar mau move on”.

“Kenapa?” tanyaku.

“Karena kalau kamu masih disana, kamu hanya akan tambah patah hati liat dia bahagia sama orang lain, didepan matamu. Kapan kamu bisa move on nya?”. Dalam hati aku membenarkan ucapan Andrea. Aku harus mulai bisa menatap ke depan.

“An, makasih ya. Kamu selamatkan aku lagi kali ini dari jurang kegalauan”, kataku sambil menerawang melihat jalanan.

“Iya, segera ke sini ya. Aku bakalan ajak kamu muter-muter Bogor, sambil cariin kamu jodoh”, sahutnya tertawa.

“Iye neng, tunggu aja kabarnya. Soon ya, An”, balasku.

Aku mulai mengambil langkah pasti, apa yang harus ku lakukan setelah ini. Ku pikir takdir akan mendukung keputusanku. Tapi ternyata aku salah prediksi, bahwa takdir justru menunjukkan hal lain kepadaku, dengan cara yang tidak ku sangka.

***

Bang Fras kembali tiga hari setelah kepergiannya ke Bengkulu. Aku awalnya mengira dia akan libur lebih lama, karena yah, mengurus hal-hal tentang pernikahan tidaklah sebentar. Tapi nyatanya ia sudah berada di hadapanku sekarang dan masih dengan gayanya yang seperti biasa.

Ia menghampiri dan mengejekku, “Abang pergi lama ya Lin? Kamu kangen abang gak?”, ujarnya sedikit menggoda.

Aku menatapnya dengan tatapan ‘sok gak butuh’ dan berkata, “Enggak tuh, biasa aja”.

Dia menatapku setengah tertawa dan membalas, “Kamu gak bisa bohong sama abang, Lin. Muka kamu merah tuh”, ucapnya.

Kau benar, aku berbohong lagi. Ingin rasanya ku peluk sosok itu. Aku rindu dia, sangat malah. Aku uring-uringan saat dia pergi. Selama kepergiannya, tak ada komunikasi apapun diantara kami. Aku tak tau, apakah Bang Fras juga merindukanku ataukah tidak. Sisi lain diriku pernah merasa bahwa tak mungkin dia merindukanku, karena bukan aku orang yang diharapkannya.

Biasanya aku akan langsung menggelitikinya sampai dia memohon ampun. Tapi setelah perbincanganku dengan Andrea tempo hari, ku putuskan untuk mulai menetapkan hati. Aku harus bisa move on. Ku rasa Bang Fras juga merasakan hal itu, kalau aku agak menghindarinya belakangan ini. Mungkin ia juga tak tahan dengan situasi yang canggung ini.

Sore itu, Bang Fras mendatangi meja ku. “Lin, abang ada salah ya?”, tanyanya dengan wajah yang sedikit memelas.

Aku menatapnya. Biasanya saat melihat pipi yang agak gembul itu, aku langsung mencubitnya. Tapi kali ini ku tahan. “Gak kok bang”, ucapku. Aku mencoba biasa saja, seolah tak terjadi apa-apa padaku.

Dia menatap mataku, seakan mencari kebenaran dari kata-kataku barusan. “Beneran?”.

“Iya, biasa ajalah”, balasku. Ya, seperti biasalah Bang, agar aku juga bisa dengan cepat menghilangkan perasaanku.

“Okelah”, ucapnya kemudian. Aku rasa saat itu aku sudah aman. Semakin aku seperti ini, akan semakin cepat penyembuhan luka dihatiku. Tapi ternyata aku kalah dalam melawan takdir.

Malam itu aku memantapkan hati sekali lagi, menimang kembali amplop coklat berisikan surat pengunduran diriku. Benar, aku memutuskan untuk resign. Lucu memang, bahwa alasan dibalik itu hanya karena masalah perasaan. Tapi hey, pikirkanlah. Aku hanya tak ingin terluka lebih dalam, mendengarnya akan segera menikah saja membuat hatiku hancur. Aku tak ingin semakin terpuruk.

Esok paginya, aku mendatangi ruangan atasanku, Pak Edi. Ia general manager di perusahaan ini. Tapi saat diparkiran, tak ku temukan mobil yang biasa dibawa Pak Edi. Mungkin beliau belum datang, pikirku.

Teman kerjaku, Lilian yang melihatku hanya berdiam diri didepan ruangan Pak Edi, menepuk pundakku. “Bapak gak ngantor hari ini Lin. Lagi keluar kota”, sahutnya, seperti bisa membaca raut wajahku.

Setelah mengucapkan terima kasih kepada Lilian, aku menghampiri ruanganku dan Bang Fras. Saat itu masih pagi, aku terlalu dini berangkat ke kantor. Bang Fras belum datang, dan biasanya memang aku yang sering datang lebih dulu. Aku tak ingin menemuinya hari ini. Terlalu pedih untuk mengucapkan salam perpisahan kepadanya. Ku lirik tiket pesawat didalam tas yang sudah ku beli kemarin. Aku akan terbang besok ke Bogor. Dan hari ini, aku tak ingin menemui Bang Fras.

Ku pacu motorku pergi. Tak jelas kemana arah tujuanku, yang jelas aku pergi dulu dari lingkungan kantor. Sepanjang jalan, aku hanya memikirkan antara aku dan Bang Fras. Ingatan-ingatan akan memori indah bersamanya kembali tergambar. Rasanya setiap hari, selalu ada kenangan dengannya. Tapi sekarang tidak akan ada lagi. Aku akan segera pergi ke Bogor dan dia akan berbahagia dengan kekasihnya.

Kuatlah Elin, tegarlah. Kamu bukan gadis kemarin sore. Kamu akan segera bertemu penggantinya. Batinku seakan berteriak kepadaku, bahwa aku bisa melalui ini semua.

Tanpa ku sadari, aku sudah sampai di muara. Hatiku menuntunku ke sana. Bang Fras-lah yang mengenalkanku pertama kali tempat ini. Dan ini menjadi tempat favoritku setelah itu. Aku sering mengajaknya ke sini, sekedar menghirup udaranya yang sejuk, ataupun sambil menikmati semangkok mie rebus. Lalu kami akan mulai mempermasalahkan apa saja yang tampak. Mulai dari berapa jumlah perahu yang ada di lautan sana, hingga apakah aku berani terperangkap di hutan sendirian.

Aku pernah menanyakannya suatu kali, saat itu selepas maghrib dan kami memesan minuman hangat. Suasana laut tampak gelap dan berkabut. Aku yang pertama kali bertanya, “Kalau abang terkurung di hutan sendirian, abang berani gak?”, tanyaku.

Dengan santainya ia menjawab, “Berani. Abang kan mantan anak pramuka, Lin. Kamu lupa?”. Lalu ia balik bertanya, “Elin berani?”.

“Enggak bang, Elin takut kalau sendirian”, ucapku sambil sedikit merinding membayangkannya.

“Kalau sama abang, gimana?” tanyanya.

“Kalau ada orang lain, Elin berani”.

“Makanya Elin jangan jauh-jauh dari abang. Abang bakal jagain Elin”, ucapnya kala itu.

Ingatan itu seolah baru terjadi kemarin, dan masih segar dalam benakku. Kini kamu takkan menjagaku lagi, Bang. Karena ada seseorang yang akan kamu jaga nantinya, dan itu bukan aku.

Kini aku berada di tempat itu lagi. Di kursi dan meja yang sama, minuman yang sama dengan yang ku pesan dulu, namun dengan hati yang berbeda. Penelusuranku yang tak tentu arah telah menghabiskan banyak waktu. Aku sampai disana sore, selepas ashar.

Ku keluarkan secarik kertas lusuh dari dalam tas. Ini kertas yang berisikan pesan rindu yang pernah ku tulis untuk Bang Fras. Andaikan pesan ini sampai dibaca oleh Bang Fras, dia pasti akan menertawakanku. Lihatlah sekarang, betapa rapuhnya aku. Mengingat-ingat memori bersama seseorang yang akan segera menjauh dariku.

Aku melipat kertas itu menjadi origami. Origami bunga tulip. Tadinya ingin ku buang ke laut, toh aku takkan bertemu dengan Bang Fras lagi. Tapi ku urungkan niatku. Suara hatiku berkata untuk meninggalkan origami tulip itu diatas meja ini, dan aku menurutinya. Ku lihat jam tangan, sudah hampir maghrib. Ku putuskan untuk berangsur pulang.

Masjid itu, tempat biasa aku dan Bang Fras sholat maghrib jikalau pergi ke muara ini. Masjid yang juga punya kenangan tersendiri antara aku dan Bang Fras. Pernah saat setelah selesai sholat maghrib, dia menungguku selesai berdoa. Ia menyadar ke salah satu dinding masjid dan memperhatikanku tanpa ku sadari. Setelah selesai merapikan jilbabku, aku menghampirinya.

“Kamu beda ya Lin, pas pakai mukenah”, ucapnya dengan tatapan yang aku yakini, terpesona.

“Beda gimana Bang?”, balasku. “Tambah cantik dan anggun. Adem abang liatnya”, ucapnya akhirnya. Dia hanya bilang itu, dan aku merona di sepanjang jalan pulang. Lalu dia menambahkan lagi, “Kamu sering-sering pakai mukenah depan abang ya”. kala itu, wajahku memerah dan ia tersenyum sambil mencubit pipiku, gemas.

Kini aku sampai disana, tanpa ada Bang Fras. Aku menghirup udara dan menghembuskannya pelan. Menyadarkan kembali diriku bahwa aku harus melupakannya. Segera aku berwudhu’ dan memakai mukenah. Aku ingin sholat berjemaah. Tak ku perhatikan tiap orang keluar-masuk masjid, yang juga ingin menunaikan sholat maghrib. Aku hanya menekurkan kepala ke bawah dan memejamkan mata.

Saat muadzin selesai mengumandangkan adzan dan imam membacakan ayat demi ayat Al-quran, saat itulah aku tersentak. Aku kenal suara itu, aku hafal dengan suara ini. Tanpa sadar, hatiku bergetar. Segera ku tepis, dan berfokus dalam sholatku. Hingga sholat isya selesai, barulah aku keluar dari masjid.

Aku berjalan keluar menuju parkiran motorku. Dari jauh, aku melihat ada seseorang yang berdiri disebelah motorku. Tubunya membelakangiku dan memakai jaket tebal. Setelah berada cukup dekat, ku sadar siapa orang itu. orang yang ku rindukan dari kemarin, yang seharian ini aku hindari mati-matian. Aku bahkan mematikan ponselku, agar ia tak bisa menghubungiku.

Ia membalikkan badan dan tatapan kami bertemu. Aku menatap matanya dalam. Ada kerinduan disana. Mata coklat muda itu juga menatap mataku dalam dan kami tak bicara sepatah katapun. Benarlah pepatah yang bilang bahwa mata adalah jendela hati. Karena dari situ, aku bisa melihat bahwa dia ternyata juga sangat merindukanku.

“Mau minum sebentar?”, tanyanya lembut. Istilah yang tersirat dari kalimatnya adalah, ‘Ayo bicara sebentar. Abang mau bicara sama kamu’.

Aku menjawabnya dengan menggangguk. Masih berusaha untuk menyadarkan diriku dengan sentakan kehadirannya disini. Dari sekian banyak lokasi tempat di kota ini, kenapa dia bisa tau aku ada disini? Di masjid ini? Apakah dia memang mencariku? Ataukah hanya kebetulan nasib yang menuntunnya kemari?

Aku mengikutinya di belakang, ia dengan motornya dan aku dengan motorku. Setelah memesan minuman kepada pelayan, ia kembali menatapku. Kalimat awalnya cukup mengagetkank. “Abang tau kamu menghindari abang seharian ini. Ada masalah Lin?”, ucapnya lembut.

 Aku menekurkan kepala, tak berani menatapnya. Aku mengangguk.

“Ada apa?”, tanyanya.

“Elin mau ke Bogor bang”, kataku akhirnya. Ia kaget, kurasakan dari matanya. “Kapan?”.

“Besok pagi”

“Kenapa gak ada bilang ke abang?”

Memang ku sengaja, batinku. “Elin gak mau ganggu acara nikah abang”, ucapku lirih.

“Siapa yang mau nikah Lin? Masalah abang udah selesai”, aku nya. Aku hanya menatapnya bingung.

Seolah bisa membaca pikiranku, ia melanjutkan, “Kini abang bebas”. Aku semakin tidak mengerti alurnya bagaimana.

Bang Fras kemudian bercerita banyak. Tentang bagaimana ia sampai dirumah kekasihnya dan saling bertemu. Namun belum sempat ia mengatakan tujuannya, kekasihnya terlebih dulu mengaku bahwa ia telah dijodohkan dengan lelaki pilihan orang tuanya, dan ia menerimanya. Bang Fras tidak terlalu kecewa karena niat awalnya memang hanya untuk bersilaturrahmi, bukan untuk melamar.

“Kenapa abang gak jadi melamar?”, tanyaku.

“Karena sebelum ke sana, abang sudah memantapkan hati, Lin. Bukan dia orang yang abang butuhkan. Lamanya suatu hubungan gak menjamin kalau bersama orang itulah kita akan menghabiskan sisa usia kita.

Abang tersadar, bahwa selama ini abang gak menuruti suara hati. Suara hati itu selalu ngasih aba-aba ke kita. Itu pertanda dari Tuhan, biar kita waspada. Tapi itu yang abang abaikan, abang mengabaikan ‘alarm’ itu. Hingga sekarang abang menyesalinya”, jelasnya termenung.

Aku bertanya lagi, “Memangnya suara hati abang bilang apa?”

“Kamu, Vellina Clarisa. Abang butuh kamu. Suara hati abang bilang, kamulah orangnya. Tapi abang abaikan selama ini dan sekarang abang menyesalinya. Terlambatkah abang Lin?” ucapnya. Ku perhatikan sepasang mata coklat muda yang meneduhkan itu, kini mulai berlinang.

Aku hanya bisa terdiam dan menelan ludah. Tuhan, apakah ini takdir yang Kau kehendaki untukku? Diluar dugaanku dan terasa lucu saja. Disaat aku hendak menyerah dan hendak menghilang darinya, aku justru dipertemukan dengannya dan dengan situasi yang berbanding terbalik dari pikiranku.

Setetes air mataku mulai jatuh. Aku menunduk. Aku tak tau mau berkata apa. Bang Fras, kau datang dan pergi sesukamu. Tahukah kau bagaimana kecewanya aku? Aku tau, tak semua yang kita inginkan akan selalu kita dapatkan. Sama, perihal jodoh pun begitu. Kadang Tuhan mempertemukan kita dengan orang yang salah dulu, baru disatukan dengan orang yang tepat.

Aku menghapus air mataku dan memberanikan diri menatap Bang Fras. Dia menunggu jawabanku. “Enak banget jadi abang, ya. Pas gak dapat yang disana, abang punya cadangan disini, Elin. Abang tau Elin suka sama abang, dan sekarang abang mainkan perasaan Elin. Elin pelarian dari yang disana ya?”, ucapku sambil menangis. Aku bahkan tak menghiraukan berapa banyak air mata yang jatuh, serta ingusku yang keluar-masuk hidung.

Ku lihat Bang Fras terdiam. Aku rasa ia sadar bahwa aku terluka, dilihat dari ekspresinya yang merasa sangat bersalah. “Bukan gitu, Lin. Abang gak ada niat jadikan kamu pelarian ataupun cadangan. Maafkan abang, karena kemarin begitu naif sama kamu, sama perasaan abang. Kini, abang hanya ingin mengikuti kata hati abang.”, katanya. Tangan kanannya hendak menyentuh lengan kiriku, tapi tidak jadi.  

“Begitu juga Elin bang. Elin mau mendengarkan kata hati Elin dulu. Elin akan jawab besok”, ucapku pada akhirnya.

Aku sebenarnya ingin menanyakan banyak pertanyaan ke Bang Fras. Kenapa ia tau aku ada disini. Kapan dia mulai sadar dia menyukaiku. Apakah dia imam sholat maghrib dan isya tadi. Dan bagaimana perasaannya saat tau bahwa aku akan segera pergi ke Bogor. Tapi semua itu hanya berkeliaran di pikiranku, tanpa terucap apapun. Semua pertanyaan itu tertutupi oleh rasa kecewaku. Kecewa akan Bang Fras.

Esoknya, aku ke kantor pagi-pagi sekali. Setelah berbicara dengan atasanku dan mohon pamit, aku singgah ke ruangan kerjaku dan Bang Fras. Aku melihatnya duduk dikursinya dengan tatapan kosong. Ia hanya menatap layar komputer tanpa ada ekspresi apapun diwajahnya.

Melihatnya yang seperti itu, semakin membuatku sedih untuk pergi. Ya, aku memutuskan untuk tetap pergi ke Bogor. Aku mencoba mengikhlaskan perasaanku dan kenangan akan Bang Fras. Jika Bang Fras memang mencintaiku seperti katanya, ia tak akan rela aku jauh darinya.

Aku mengetuk pintu dan melangkah masuk. Bang Fras langsung menatapku. Aku melihatnya lagi. Tatapan mata penuh harapan itu, kembali ada. Tapi tak ada kata-kata yang terucap dari mulutnya. Ia menungguku.

Aku menyerahkan sepucuk surat kepadanya. Surat perpisahan yang ku tulis semalam dengan linangan air mata. Aku berusaha sekuat tenaga untuk tak menangis lagi di depannya. “Elin mau pamitan sama abang, sekaligus ngasih surat ini. Elin gak tau kapan balik, mungkin bakal lama disana. Kalau abang kangen Elin, telpon aja.” Ucapku pada akhirnya, sambil tertawa getir. Ya, hambar. Dia takkan merindukanmu Lin. Ingat, bukan kau prioritasnya, batinku. Bang Fras masih diam.

“Terima kasih Bang, pernah ada di hidup Elin. Elin harap abang bahagia nanti”, tambahku. Aku memegang tangannya sebentar, lalu hendak berbalik melangkah keluar. Bang Fras yang sedari tadi hanya diam, langsung memegang tanganku. “Jadi, ini jawabanmu, Lin? Ada di surat ini?”, tanya nya.

“Iya Bang. Itu jawabannya”, kataku. “Baiklah, jika itu maumu. Abang tak akan memaksa Elin”, ucapnya pasrah.

Aku melangkah keluar dan berjalan dengan cepat menuju motorku. Ku rasakan dadaku kian sesak, hendak menangis. Ya, dari tadi ku tahan saja, sejak berada di ruangan itu. Aku benar-benar tak sanggup melihat wajah Bang Fras. Segera ku alihkan lagi pikiranku. Ku hapus air mataku, dan ku pacu motorku pulang. 1 jam lagi aku harus tiba di bandara.

*****

Terima kasih Bang, terima kasih telah memberikan memori yang indah kepadaku. Aku bersyukur orang itu adalah kamu. Kita tertawa bersama, acapkali juga bertengkar. Tapi kita kan tertawa lagi setelahnya.

Terima kasih, telah mewarnai hari-hariku. Maaf, jikalau aku sering menjengkelkan. Ku harap kau akan berbahagia dengan pilihanmu. Jikalau nanti kita berjumpa lagi, tersenyumlah kepadaku. Hingga senja bersembunyi dalam kegelapan.

Aku memegang tiket sambil melihat sekitarku. Keluargaku sudah balik mengantarku ke bandara. Kini aku sendiri di antrian ini, tak ada yang ku kenal. Ku lihat lagi jam tangan ku, satu jam lagi pesawatku akan take off. Kau benar, aku berharap ia akan mengantarku ke bandara, melihatku untuk terakhir kalinya. Tapi tidak, ia takkan datang. Jujur, kini aku menyesal. Kenapa surat itu harus ku berikan. Bukannya datang dengan wajah bahagia dan memeluknya, aku malah memberikan surat perpisahan.

Tanpa sadar, mataku mulai berlinang, padahal aku sedang dalam antrian check in. Saat antrianku selesai dan ku langkahkan kaki hendak menuju ruang tunggu, aku melihat sekitar lagi, tepatnya ke arah luar. Tempat kerumunan yang sedang berdiri melihat kepergian keluarga yang mereka sayangi masuk untuk melakukan pemeriksaan barang.

Saat itulah, aku melihat sosok yang ku benci sekaligus ku sayangi itu. Dia berdiri di luar, memandang ke arah antrian check in, dan matanya liar mencari sosok seseorang, yang ku yakin itu aku.

Akhirnya dia menatapku. Ya, sepasang mata itu menatapku lama. Dia mengangkat tangan kanannya hendak melambai ataupun memanggilku, tapi tidak jadi. Seolah-olah menyesal atas kedatangannya yang terlambat. Telponku berdering, dan ku lihat nama si pemanggil. Bang Fras. Ya, dia menelponku.

“Kau pernah, temani hari-hariku dan kau pernah, hiasi sepiku.

Kini kau pergi, tinggalkan aku disini sendiri, kau pergi dari hidupku.

Janjimu tuk selalu ada dihatiku, temani sepiku.

Oh dirimu, kan selalu ada dihatiku, jangan pernah pergi.

Jangan pernah pergi. Jangan pernah pergi.”

“Jangan pergi Lin. Abang sungguh menyesal. Abang butuh kamu”, ucapnya.

Aku terdiam. Nyanyiannya benar-benar menyayat hatiku. Tanpa sadar, air mataku berurai. Aku melihatnya dari kejauhan, kami saling berhadapan. Sungguh, aku tak tahan lagi. Aku ingin menemuinya. Aku berlari menuju ke pintu utama, tempat pemeriksaan dilakukan. Tak ku hiraukan ucapan petugas yang memintaku untuk tak keluar, atau tiketku akan hangus. Aku tidak peduli.

Aku berlari ke arahnya. Ya, pria ini yang kini sudah berada di hadapanku. Pria yang ku sejam yang lalu tak ingin ku lihat lagi, kini aku benar-benar menyesalinya. Ia hanya diam, tanpa bicara sepatah katapun, ia memelukku. Ku rasakan dari isakan kecilnya, ia menangis, tangisan haru.

“Terima kasih Lin. Terima kasih telah kembali. Terima kasih udah jadi pelangi bagi abang. Kini dan nanti”, ucapnya terharu.

“Elin hanya mengikuti kata hati Elin, Bang”, jawabku juga sambil terisak kecil sambil tersenyum.

“Iya Lin, abang pun juga”, balasnya masih memelukku bahagia.

Setelah semua yang terjadi, aku sadar bahwa penantianku selama ini tak sia-sia. Bang Fras pun juga sama. Seperti halnya pelangi yang datang setelah hujan badai melanda, ia muncul dengan sangat indahnya, hingga kau lupa bahwa kau secara tak langsung telah menunggu hujan reda dengan sabar.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya