Mungkin ada benarnya perkataan orang tua zaman dulu, suatu hubungan yang diawal begitu manis dan diakhir hanya pahit yang didapat. Aku masih ingat betapa manisnya masa pendekatan kita.

Dulu, kamu bersungguh-sungguh menunjukkan ketertarikanmu kepadaku layaknya seorang anak kecil yang sedang bahagia karena seluruh keinginannya dituruti.

Advertisement

Indah dan bahagia layaknya dunia serasa milik kita berdua.

Kamu mampu membuatku percaya lagi akan cinta setelah rasa sakit dan krisis kepercayaan terhadap suatu hubungan melanda hidupku.

Kamu membuatku tau bahwa rasa bahagia itu juga ada.

Advertisement

Namun, bagaimana dengan saat ini? Semua hal indah yang aku rasakan itu tak lagi sama.

It’s unbelievable how fast people can change. One day, you mean everything. The next day, you don’t even exist anymore.

Unknown quote

Begitu banyak alasan yang kamu berikan. Kamu mulai menghilang dan datang seenaknya, sementara ku disini hanya menunggu kabarmu tanpa lelah dan keluh. Aku sadar bahwa saat ini kita sedang ditengah kesibukan masing-masing, tapi apa perlu alasan kesibukan dan perasaan moody mu serta hal lainnya menjadi penghalang buat hubungan kita?

Apa perlu kamu hilang seharian dan mematikan handphone mu layaknya kamu sedang dikejar oleh rentenir? Apakah itu sebagai representasi dari ucapan atau teks “I love you” yang selalu kamu ucapkan dan katakan tiap hari?

Aku dulu ingat saat kamu menanyakan suatu hal yang membuatku terdiam, “Kenapa semua perempuan itu terlalu berharap atau memiliki kecendrungan untuk berharap lebih kepada pasangannya?”

Mungkin, hubungan yang kamu mau sama sekali tak berlandaskan dengan suatu harapan melainkan suatu hubungan tanpa landasan. Aku naif begitu berharap kepadamu dan percaya akan hubungan ini.

Padahal dengan adanya harapan dan kepercayaan kepadamu, hal tersebut bagaikan semangat bagiku untuk terus menunggu dan percaya bahwa kamu disana baik-baik saja.

Banyak hal yang telah kamu ajarkan secara tak langsung kepadaku, apalagi ketika kamu sama sekali tak mengabariku. Mulai dari belajar untuk tidak menunggu kabarmu, menyibukkan diri, membaca beberapa artikel seperti bagaimana cara memahami laki-laki yang cuek, hingga membeli buku untuk mengetahui Bahasa tubuh pasangan.

Ya, aku tau itu terlihat konyol. Itu semua karena aku ingin menunjukan bahwa dalam hubungan ini penuh dengan pembelajaran dan peningkatan serta sebagai bentuk rasa totalitas ku kepada hubungan ini, walaupun dibeberapa artikel yang aku baca sangat melarang untuk terlalu “baper” ke pasangan tapi namanya sudah cinta mau diapain lagi. Aku sama sekali tidak meminta kamu untuk membalasnya tetapi aku berharap kamu segera sadar bahwa kamu pun sebagai mahluk sosial sama-sama ingin dimengerti oleh orang lain.

Selain itu, banyak sekali orang-orang yang tidak habis pikir kenapa aku dengan lugunya masih mau meluangkan waktuku untuk menunggu seseorang sepertimu, yang sama sekali tak pernah mencoba untuk menghargai perasaan dan waktuku.

Satu hal yang selalu ku tekankan kepada mereka bahwa cinta itu butuh pengorbanan dan cinta juga merupakan salah satu bentuk ketulusan. Aku percaya jika perasaan cinta yang benar-benar tulus kepada seseorang tidak akan pernah berubah hingga waktulah yang mampu menjawabnya.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya