Ekspedisi Kepingan Surga Di Pulau Seribu Masjid

Perkenalkan aku uciq, mahasiswa semester dua sebuah universitas negeri di pulau seribu masjid. Cerita ini bermula karena seringnya aku melakukan penelitian lapangan. Mahasiswa biologi khususnya Fakultas Matematika Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) memiliki sebuah rutinitas yaitu penelitian lapangan,dimana mereka akan melakukan penelitian di alam terbuka,seperti hutan,bukit,pantai,laut, dan alam lainnya. Aku adalah salah satu mahasiswa yang memiliki fokus penelitian tentang pengamatan burung.

Advertisement

Kegiatan pengamatan burung biasa disebut dengan birdwatching. Birdwatching dipulau Lombok sudah sedikit maju dikarenakan adanya ekowisata birdwatching. Pulau Lombok biasa mendapat kunjungan khususnya untuk ekowisata birdwatching mulai dari pengamat burung mancanegara maupun lokal. Para pengamat burung akan ditawarkan dengan berbagai macam jenis burung endemik dari pulau Lombok,dan biasanya diberikan kisaran harga dengan hitungan dolar.

Pada suatu hari aku bersama teman teman dari study club pengamat burung Universitas Mataram yang bernama Kecial mendapat kunjungan dari pengamat burung luar daerah,yaitu pengamat burung dari Universitas Nasional,Jakarta. Kami memutuskan untuk mengajak tamu kami ke sebuah Taman Wisata Alam (TWA) Bukit Tunak yang berada 61 km dari kota Mataram yang bisa ditepuh dalam waktu 1 jam 34 menit. Taman Wisata Alam Bukit Tunak merupakan sebuah kawasan ekowisata yang dibangun atas kerjasama Indonesia dengan Korea Selatan. TWA Bukit Tunak terletak pada ketinggian antara 0 – 105 mdpl dengan bentang alam yang bervariasi datar, gelombang berbukit, sampai bergunung.

Alasan kami membawa tamu ketempat ini yaitu, tersedianya sarang burung langka berikut burung gosong kaki merah (Megapodius reinwartdtii) yang termasuk kedalam burung yang dilindungi berdasarkan undang-undang dan menjadi buruan para pengamat burung international untuk mengambil gambarnya. Aku bersama 7 temanku memulai perjalanan dari kampus kami yang berada di kota Mataram pada jam 08.00 WITA.

Advertisement

Kami menyusuri jalan tol yang masih sangat lengang dan cukup panas walaupun masih pagi. Jauhnya tujuan kami membuat kami kesulitan menemukannya,sehingga kami memutuskan untuk menggunakan google maps. Satu jam perjalanan dari kota mataram yang cukup melelahkan,kemudian kami memasuki sebuah jalan yang di depannya terdapat sebuah petunjuk jalan menuju TWA bukit tunak.

Jalan yang sangat sepi namun memberikan pemandangan yang sangat luar biasa. Jalan yang berliku liku terlihat dari ketinggian seperti seekor ular. Pantai beserta deretan bukit bukit ditengah laut yang terlihat sangat menakjubkan. Sebuah gapura besar yang berdiri kokoh bertuliskan TWA bukit tunak telah terlihat. Aku pikir kami telah sampai tujuan, ternyata kami harus melanjutkan perjalanan sekitar 2 km untuk mencapai bukitnya.

Jalan berbatu dan juga berlumpur harus kami lewati,sehingga tidak jarang motor kami terjebak dalam lumpur tersebut. Sebuah kerjasama dan kepedulian terlihat ketika motor kami terjebak lumpur dan harus di tarik dari depan dan didorong dari belakang. Lumpur yang menempel disendal kami,kira kira dengan ketebalan 5 cm dan celana juga baju yang terkena oleh cipratan lumpur sangat menambah rasa surviver. Jalan berkelok kelok yang diapit oleh rumput setinggi satu meter di kanan dan kiri yang membuatnya seperti sebuah labirin.

Kamipun keluar dari jalan yang diapit oleh rumput tinggi tersebut dengan ternganga dan diam tanpa kedipan mata. Padang rumput yang luas disambung dengan padang pasir yang putih kemudian disambung lagi dengan lautan yang biru mengkilap,seperti sedang di alam mimpi. Sepi,hanya terdengar suara alam seperti suara ombak dan burung yang terbang kesana kemari mencari makan. Dilihat dari pasirnya yang tidak ada satupun jejak kaki menambah penguatan bahwa pantai ini sangat jarang dikunjungi.

Kami lupa tujuan awal datang ke tempat ini yaitu untuk melakukan pengamatan burung karna terlalu asik berfoto dengan pemandang yang sangat menakjubkan. Sebuah bukit yang tidak terlalu tinggi kami lewati untuk sampai ke sebuah hutan kecil ditengah bukit tersebut. Dari atas bukit, hamparan pasir putih serta laut biru terlihat semakin cantik. Kami berhasil mendapatkan beberapa jenis burung dan menyuguhkannya kepada tamu.

Ketika kami melanjutkan perjalanan dan keluar dari rimbunnya pohon dan riuhnya suara burung,kami kembali trenganga oleh pemandangan dibalik hutan tersebut. Padang rumput yang luas berwarna hijau dan sebuah jurang yang langsung kelaut yang sangat eksotis. Air laut yang biru serta hantaman ombak ke tebing jurang yang membuat suasana semakin tenang. Beribu syukur aku lantunkan karna bisa melihat ciptaan tuhan semegah tempat ini. Tidak lama kemudian hujanpun turun dan kami memutuskan untuk berteduh disebuah berugak/rumah bambu dipunggung bukit. Kami memutuskan untuk pulang setelah hujan reda.

Waktunya pulang. Jalan berlumpur yang semakin licin karena hujan berhasil kami lewati setelah kurang lebih satu jam. Gapura megah itu sudah terlihat,kami memutuskan untuk beristirahat di sebuah villa yang belum diresmikan disamping gapura itu. Puluhan bukit bukit kecil yang terhampar di tengah laut serta harum air laut yang memberikan ketenangan ketika menghirupnya.

Sholat lima waktu tidak lupa kami lakukan. Perut sudah meronta ronta untuk mendapatkan haknya,sehingga kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dan mampir disebuah warung nasi khas Lombok yang bernama nasi puyung. Hari sudah semakin gelap, mataharipun sudah kembali keperaduannya dengan meninggalkan semburat jingga digaris pantai.

#AyoKeUK #WTGB #OMGB

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya