Kertas dan pena. Bagai sebuah ikatan simpul mati yang tak dapat dilepas oleh hal apapun. Mereka tidak hanya menyiratkan apa yang aku rasakan, tapi juga menyuratkan segala hal ke setiap orang. Menyampaikan keinginan, harapan, angan-angan, dan impian serta amarah yang hanya bisa kupendam. Ya, tentunya dengan menggoreskan pena serta meneteskan tinta pada kertas kosong menjadi sebuah bentuk tulisan. Tulisan yang bisa dibaca bukan hanya olehku, tapi juga orang lain.

Semenjak aku tahu apa itu angka, aksara dan kata-kata. Aku diperkenalkan pada dua benda Aku menuliskan apa saja yang membuncah dalam pikiranku. Tentang pedihku, lukaku, dukaku, tawaku, bahagiaku, dan tentang apa saja yang menjadi memoar dalam hidupku. Bukan hanya itu, setelah aku lebih sering menuliskan segala sesuatu, ternyata tulisan itu kini bukan sekedar curhatan biasa.

Advertisement

Aku menuliskan motivasi, target hidup, cita-cita yang harus kucapai, unataian kata-kata bijak, juga tentang orang-orang bersejarah dalam hidupku. Hampir semuanya kutuliskan. Setelah semua sering kutulis, imajinasiku kini kian bermain, meluas, menjalar bersama ilusi dan hayalan. Tidak sekedar realita yang mampu tergores oleh pena, tapi tentang kisah dan impian maya yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Dengan menulis, seolah hayalan-hayalan itu benar-benar terjadi dan nyata. Setelah kuukir kata-kata itu dengan ceceran tinta, aku merasa mampu menciptakan apa yangn aku inginkan. Semua seakan terjadi. Dapat kurasakan dan dapat kunikmati. Aku menulis berawal dari dialog hati dan obrolan jiwa, lalu kutuangkan dengan titik-titik dari tinta, mengukir aksara, menjadi deretan kata, kemudian berubah menjadi lautan kalimat yang penuh makna.

Akhirnya semua itu mampu dieja dan dibaca. Dengan menulis, aku merasa dapat mengobati hatiku yang terkadang dilanda putus asa. Aku mampu membangkitkan kembali semangatku yang mulai redup. Aku bisa menyalakan kembali cahaya optimisku yang hampir saja padam. Dengan menulis aku merasa hidup ini tak pernah sepi dan sendiri. Dan dengan menulis aku merasa mampu bermuhasabah atas segala nikmat yang Allah berikan untuk selalu kusyukuri.

Advertisement

Aku tidak pernah takut menuangkan kata-kataku dalam tulisan. Aku tidak pernah takut tulisanku dicemooh orang. Itu tulisanku! Itu bicaraku! Aku bebas menuliskan apa saja yang aku mau. Menulis tidak pernah menuntutku untuk harus selalu berbahasa baku. Menulis tidak pernah menuntutku untuk harus duduk di bangku, di depan meja belajar, atau di depan komputer, lalu baru bisa menulis. Tidak! Menulis tidak pernah menuntutku untuk seperti itu.

Dimana saja aku berada, aku bisa menuliskannya. Dimana imajinasi dan inspirasiku tercipta, di situ pula aku bisa menulis. Menulis seolah telah menjadi bagian terpenting dalam hidupku. Mengalir bersama aliran darah yang berdenyut dalam nadi. Berhembus hangat dengan nafas yang keluar dalam jiwa. Aku merasa nyaman dengan goresan-goresan pena itu.

Tinta-tinta pengukir kata yang mampu menorehkan pelangi dalam hidupku. Tulisanlah yang membuat "Si Bisu" menjadi bicara dan tertawa. Bukankah wahyu-wahyu Allah itu diturunkan kemudian dituluskan? Bukankah Allah juga menugaskan kepada dua malaikat agar menuliskan segala amalan? Bahkan Sayyidina Ali pun pernah berkata "Ikatlah ilmu itu dengan tulisan". Dan ternyata "Pena" pengukir kata itu telah dijadikan salah satu nama surat dalam Al-Qur’an. Ya, "Al-Qolam" yang berarti "Pena".

Bahkan Allah telah besumpah dalam surat itu atas nama pena:"Demi pena, dan apa-apa yang telah mereka tuliskan". Sekilas kupahami ayat tersebut, ternyata betapa atulisan itu sangat berarti dalam kehidupan. Betapa menulis itu sangat dianjurkan dan diperintahkan. Bisa dibayangkan, seandainya Al-Qur’an dan ilmu-ilmu Tuhan itu tidak dituliskan, betapa kita akan buta dan tuli terhadap ilmu pengetahuan.

Andai semua ilmu itu tidak dituliskan, berapa banayak generasi-generasi yang akan larut dalam kebodohan. Ilmu itu akan menghilang dan pudar bersama peredaran jaman serta kepikunan. Mengapa Ibnu Sina mampu melahirkan dokter-dokter handal di global ini? Karena ilmu yang ia tuliskan! Dari mana kita tahu bahwa Indonesia pernah mengalami masa-masa imperialisme dan kolonialisme sampai diproklamasikannya kemerdekaan? Itu karena ada sejarahwan yang menuliskan!. Coba lihat Andrea Hirata! Yang hanya menuangkan kisah hidupnya melalui tulisan, ternyata mampu menyadarkan dunia akan pentingnya pendidikan bagi anak bangsa! Habiburrahman El-Syirazy, lewat karya-karyanya, mampu membangun jiwa-jiwa religius para pelajar muslim terenyuh, tersentuh, terinspirasi bahkan memotvasi para pembaca agar menjadi peran-peran protagonis dalam karyanya. Itu semua karena ditulisakan!

Terkadang saat kubaca kembali tulisanku, sepontan aku tertawa, menangis, terharu, bahkan bergetar.. Betapa skenario yang Allah ciptakan untukku indah dan berwarna. Hitam, putih, ungu, bahkan jingga.Marilah kawan! Tuliskan apa yang kau rasakan. Ajaklah kertas dan pena sebabgai teman bicara. Berawal dari kata-kata hati, yang di kemudian hari akan menjadi lembar-lembar berarti.

Tulisan yang akan menjadi fosil-fosil kenangan, serta menjadi prasasti bersejarah dalam kehidupan. Tulislah apa yang kau ketahaui duhai kawan.. Sekecil apapun itu ilmu, tuliskanlah! Ingatlah sabda Rasul "Diantara kunci masuk surga ialah ilmu yang bermanfaat". Maka, jadiknalah ilmu itu bermanfaat dengan cara dituliskan. Tidak disangka duhai kawan.. Tulisan yang sebelumnya hanya sekedar pelampiasan, bisa menjadikanmu seorang jutawan!

Tidak mungkin segerintil perasaan menjadi sebuah lirik lagu yang indah kemudian bisa dinikmati semua orang. Itu semua Karena ditulisan! Tidak akan mungkin sepenggal realita berubah menjadi sebuah karya fenomenal bahkan hits difilmkan, itu karena dituliskan! Duhai kawan, saat amarah tak mampu berteriak, saat rasa yang tersirat tak dapat tersurat, dikala ekspresi jiwa terpendam, saat ucapan dan kata tak lagi bermakna di mata mereka.

Biarkanlah kertas dan pena yang bicara, selama mentari menyalami bumi dari ufuk timur, kemudian redup di ujung barat, selama jari-jari ini belum rapuh, dan sejuk embun masih hadir di waktu shubuh, selama lembayung jingga masih berpendar dikala senja…

Selama aku bisa! Aku akan tetap menulis! Mengekspresikan jiwa, berbagi cerita, serta menunjukan pada dunia bahwa aku merupakan manusia yang mampu berkarya! Aku akan tetap bergeming dalam kata-kata, berenang di lautan kalimat, bermain dengan imajinasi dan ilusi, lalu berekspresi dengan lembar kertas dan goresan pena….

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya