Dariku, untukmu yang jauh di sana…

Entah kenapa aku begitu membencimu. Bahkan hanya mendengar tetesan rinaimu membuatku terdiam tak bersuara. Hanya memandangmu dari tirai cendela ruangku. Setiap kau datang hatiku terasa gusar. Untukmu sang hujan sampaikan salam rinduku padanya yang jauh disana.

Advertisement

Kau tahu hujan pertama di bulan Juni datang hari ini. Dan aku hanya bisa terdiam menatapnya. Ia terus terjatuh berkali-kali tak peduli meski tubuhnya remuk redam. Yang kutahu ia begitu mencintai bumi, hingga ia tak peduli rasa sakit itu.

Kau tahu, apa yang membuatku begitu mencintai hujan seperti elegi di musim dingin. Aku mencintainya karena engkau, kau tahu saat ia datang aku selalu mengingatmu. Aku ingat, saat hujan turun kau duduk terdiam di bangku teras di depan ruang kelasmu. Tatapan matamu lurus menerjang derasnya hujan. Aku tak tahu apa yang sedang kau pikirkan. Sesekali kau bersendau gurau dengan temanmu. Karena itulah aku sangat menyukai hujan. Saat ia datang aku dapat melihatmu dari celah rinaimu.

Kau tahu, terkadang aku sangat iri dengannya. Kau selalu tersenyum saat rintiknya menyapa bumi. Bahkan aku berpikir, jika aku kelak terlahir kembali aku ingin menjadi hujan yang jatuh tepat di sampingmu. Sehingga aku dapat terus menyentuhmu tanpa kau tahu keberadaanku.

Advertisement

Hey, kau tahu hujan kali ini terasa berbeda. Hujan pertama di bulan Juni. Rinainya deras mengalir seolah langit memuntahkan semua air matanya. Kupikir aku pun juga begitu. Entah mengapa aku benci hujan kali ini.

Hey, bahkan mataku berair kali ini hingga kedua pipiku terasa basah. Mendung terlalu pekat dan gelap mungkin hatiku pun seperti itu. Tapi, kau tidak perlu khawatir. Mataku berair bukan karena aku sedang sedih tetapi karena angin dingin berhembus terlalu kencang.

Kau tahu meski aku membenci hujan kali ini. Entah kenapa aku tak pernah bisa membencimu. Apa mungkin karena aku terlalu bodoh? Atau aku tak peduli lagi jika kau tak pernah melihatku. Kau tahu hujan kali ini benar-benar menyebalkan. Karena ia datang bersama angin yang dingin dan mataku terus berair.

Hey, kau tak perlu khawatir aku hanya ingin bercerita. Kau bahkan tak perlu tahu aku berada di belahan bumi bagian mana. Karena bahkan dari dulu aku tak pernah terlihat olehmu. Jangan risau aku tak akan pernah membencimu seperti aku membenci hujan bulan Juni kali ini. Sekalipun kau hanya berlalu melewatiku.

Hey, aku berterima kasih untukmu. Karena kau mengajariku arti ikhlas dan sabar dalam satu waktu. Karena kau membuatku menjadi seperti hujan. Tak peduli berapa kali ia terjatuh ia akan selalu kembali.

Selamat tinggal semoga di hujan bulan Juni tahun depan kau sudah bisa melihatku…

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya