Sudah kesekian kalinya aku menghadiri acara reunian seperti ini. Ada rona bahagian ketika kami saling jumpa dan bertegur sapa. Melihat perubahan satu sama lain yang membuat kami saling tertawa. Beberapa saling unjuk gadget terbarunya, sebagian sudah professional dengan camera dslr di tangan. Tak lupa dandanan super stylish dan modis menghiasi mereka.

Inilah aku ,hanya gadis biasa yang terjerembab dalam lingkaran gaya hidup teman-temanku yang modern. Aku tak berpenampilan super oke seperti mereka. Aku masih sama seperti 4-5 tahun yang lalu. Aku tak punya gadget canggih. Hanya sebuah hape lama yang menjadi ladang mencari rizki ku. Ya, aku hanya seorang penjual pulsa, di usiaku yang 19 tahun akupun tak kuliah seperti teman-temanku.

Advertisement

Kurasa ini menjadi alasan yang cukup kuat, diacara reuni kemarin aku merasa terpinggirkan. Bahkan aku merasa layaknya sebuah pajangan di sudut ruangan,diantara keramaian teman-teman ku yang saling unjuk gigi satu sama lain.

Aku sadar berada di antara orang-orang berduit itu hanya akan membuat rasa syukurku memudar. Kenapa aku hadir di acara kemarin?. Aku hanya ingin bersilaturrahim. Itu saja. Aku sudah siap dengan segala konsekuensinya,termasuk merasa terpinggirkan. Meski sepulang dari acara tersebut batinku berkelit : kenapa aku seperti ini?.

Aku bukan tidak bisa seperti mereka. Dengan penghasilanku yang terbilang pas-pasan, aku mampu mengumpulkan uang. Bahkan uangku cukup untuk membeli sebuah gadget,alat make-up, dan piranti fashion lainnya. Namun bagiku ada hal yang jauh lebih penting dari sekedar menuruti nafsu dengan membeli barang-barang yang sama sekali tak kubutuhkan itu. Yaitu mimpi. Aku punya mimpi untuk bisa melanjutkan kuliah,karnanya aku giat mengumpulkan uang.

Advertisement

Lagi pula tampilan hebat luar mereka sama sekali bukan jaminan hebatnya mereka dari dalam,atau dalam lingkungan keluarga dan sekolah mereka. Kebanyakan mereka yang sedari kecil di manjakan oleh kecukupan rizki orang tuanya malah menjadi sosok yang acuh,cenderung sibuk dengan dirinya sendiri. Bahkan untuk urusan ibadah mereka tak begitu mementingkannya.

Well dari sini juga sebuah pelajaran berharga tersirat.

Tak perlu menjadi bersinar layaknya emas atau berlian, kamu hanya cukup menjadi tanah. Ya,tanah. Sebab ia banyak memberi manfaat bagi seluruh makhluk, meski kotor dan terabaikan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya