GOLINGKARA, dimanakah negeri itu? Carilah di peta atau google, saya sangat yakin kamu tidak akan menemukan negeri itu. Negeri itu hanya ada dibenakku, tapi dia nyata. Golingkara adalah sebuah tempat yang dikeliingi hutan hijau, persawahan, ladang dan kebun, gemercik aliran air sepanjang kali kecil di antara perbukitan, dan pegunungan yang menjulang menantang langit. Hanya terdapat beberapa rumah, 4 buat rumah tepatnya, bersama para penghuninya, mengais hidup sembari mengabarkan syukur pada sang Khalik. Bagaimana tidak, Golingkara memberi mereka segala kelimpahan alam untuk diolah dan dinikmati.

Sebagai bagian dari daerah administrative pemerintahan Golingkara masuk dalam RT Ratelalu, Desa Komba, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur. Dari Ibu kota kabupaten arahnya agak ke timur mendekati perbatasan dengan kabupaten tetangga, Ngada tepatnya, sebelum Walengga sebagai Ibu kota kecamatan Kota Komba. Secara kepulauan, Golingkara ada di Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Advertisement

Meski tak tampak dalam google map bahkan peta sekalipun, Golingkara tak pernah jauh dari modernisasi. Lebih dari itu, meski secara topografi berada pada daerah kemiringan yang curam, Jalan Negara yang menghubungkan dari satu kabupaten ke kabupaten yang lain justru melintasinya, berkelok antar lembah dan bukit memberi warna keindahan sendiri jika dipotret dari udara.

Di sanalah aku dilahirkan pada subuh yang senyap, dari rahim seorang ibu rumah tangga, tamatan SMP yang dipinang ayah tepat selepas ia menamatkan sekolah menengah pertamanya. Bayangkan, ayahku yang kala itu sudah PNS ternyata pacarnya anak SMP. Tapi itu dulu, zaman itu. Aku lahir di tengah segala keterbatasan, kemiskinan bahkan kurang gizi.

Tahun tahun berlalu Golingkara merangkak bersama derap pembangunan negeri meski (aku merasa) ia selalu dilupakan. Tinggal di Golingkara pada aera tahun 80-an terbilang nekat. Dengan kontur tanah yang selalu longsor setiap kali hujan mengguyur, justru menantang ayahku untuk membuka pemukiman baru di sana. Jika hujan turun sepanjang Oktober sampai Januari, bergulung tanah, batu dan kayu turun dari perbukitan yang gundul lantaran dijadikan lahan bercocok tanam bagi para petani. Saat-saat seperti itulah kami senantiasa berjaga, menatap senantiasa ke puncak bukit menunggu kalau-kalau longsor datang secara-tiba-tiba.

Advertisement

Namun, longsor bukan apa-apa untuk kami ketimbang bernas kehidupan yang Golingkara sediakan untuk kami. Golingkara tidak sekedar tempat untuk membangun rumah, bukan juga lahan untuk dijadikan tempat menanam. Golingkara adalah tentang perjuangan menumbuhkan cinta. Dibesarkan di tengah kondisi tanah yang labil, perjuangan keluarga yang pada awalnya penuh lika-liku bersamaan sikap dan perilaku ayah yang mendidik kami penuh emosional memberi kenangan tersendiri untuk mengingat Golingkara.

Kala fajar masih menunjukkan merahnya di ufuk timur ayah sudah membangunkan kami untuk doa pagi. Selayaknya seperti ayam yang berkokok dan burung-burung berkicau kala mentari di awal hari memberi cahaya sudah sepatutnyalah manusia memberi syukur kepada Tuhan atas malam yang dilalui dengan damai sembari memohon kelanjutan hari agar senantiasa diberkati. Itulah sepotong nasihat ayah yang selalu teringat dan terngiang hingga kini.

Sebagai ganti olahraga pagi, rutinitas kala pagi selepas doa adalah mengangkut air menggunakan toke wae (bambu yang didesain sedemikian untuk dijadikan alat mengangkut air) dari pancuran. Pancuran tempat menimba air tidaklah terlalu jauh, sekitar 200m turun ke arah lembah. Jalanan yang menurun dan licin sehabis hujan terkadang menjadikan pekerjaan mengangkut air bagi seorang anak kecil sangatlah beresiko. Meski demikian, masa kecil yang beresiko itu kulalui dengan bahagia dan ceria.

Selepas sarapan bersama adik-adik kami merangkak naik melewati jalanan yang menanjak menuju sekolah yang jaraknya hampir satu kilo tepat di perbatasan antara 2 kampung besar yaitu Ratelalu dan Rembongara. Ketika jam sekolah selesai kami tak seperti anak lain yang bisa langsung pergi bermain. Kambing menunggu kami di kandang untuk segera digembalakan ke perbukitan dekat rumah atau bahkan lebih jauh dari sana. Ketika senja mengintip, ayam dan babi menunggu kami untuk segera dimasukkan ke dalam sangkar dan kandang. Aktifitas hari itu ditutup dengan makan bersama dan doa malam keluarga.

Ada yang tak terlupakan ketika makan malam bersama. Ayah dan ibu mengambil moment berharga itu untuk bercengkerama dan bercerita dengan kami. Ada harum cinta dan aromanya merebak hingga kini dalam rindu untuk kembali, mengulang kisah-kasih itu bersama mereka. Ada suka ada juga duka di setiap kata, cerita bahkan nasihat yang disampaikan. Mengelilingi meja makan dengan rasa persaudaraan adalah pengalaman berharga yang perlahan menumbuhkan tanggung jawab buat kami untuk mampu melakukan hal yang sama ketika kami telah memiliki keluarga masing-masing.

Cerita yang lucu ketika pada tahun 2013 akhirnya perjuangan ayah untuk mendapatkan penerangan dari Perusahaan Listrik Negara terealisasi. Dua buah lampu neon menjadi tontonan 24 jam oleh segenap anggota keluarga. Aku yang pada waktu itu sedang studi di luar negeri tanpa sadar tertawa sambil mengeluarkan air mata ketika mendengar ibu dan adikku bercerita dengan semangatnya dari balik telpon. Aku kembali membayangkan pengalaman masa kecil ketika bergelut dengan gelap dan seok lampu pelita demi menyelesaikan semua tugas sekolah dan pekerjaan rumah. Dahaga akan perhatian pemerintah melalui listrik seperti air yang memberi kepuasan pada rasa haus setelah puluhan tahun menjadi orang Indonesia yang merdeka akhirnya kami pun merasakannya.

Golingkara adalah cerita tentang kedisiplinan, tanggung jawab, kejujuran, pengorbanan, bakhan cinta dan spiritualitas. Kami dibesarkan dengan ketegasan untuk mengolah kebebasan dengan rasa tanggung jawab. Ketika pada akhirnya kami semua memilih untuk merantau, Golingkara selalu menunggu kami kembali untuk bercerita dan berkumpul bersama meski hanya sekali dalam setahun atau dua tahun. Golingkara, tanah kelahiran yang jauh dari hiruk pikuk kebisingan modernisasi menyimpan alam untuk dinikmati. Ketika itu dinikmati percayalah engkau akan tenggelam dalam harapan dan cinta untuk selalu ingin hidup bahkan untuk 1000 tahun lagi.

Rindu Kampung Halaman,

Padang Panjang, Akhir April 2019

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya