Tawamu seperti merekahnya bunga itu. Kulit putih dengan pipi pink kemerahan menginggatkanku dengan cantiknya kelopak bunganya. Aku orang yang merindukanmu, seperti mereka merindukan bunganya bermekaran di musim semi. Bunga dengan simbol harapan, cinta dan juga ketidakkekalan. Seperti kita, sakura.

Pagi itu bukanlah hari yang menyenangkan. Bertemu denganmu tak lantas meluruhkan beban dari bahuku. Saat itu semesta benar-benar mempertemukan kita sebagai sepasang orang asing bagi satu sama lain. Tak ada kata, ekspresi bahkan basa-basi. Setelah sejauh ini, aku baru menyadari. Mengapa kita mengawalinya dengan begitu sangat kaku?

Sore itu hujan turun begitu deras. Ku memandang jauh melewati tetes demi tetes air yang saling berkejaran turun. Yang ku ingat dengan jelas, saat itu kau berteriak dan mengatakan bahwa hujan akan segera reda, kau meminta ku menyudahinya. “You’re enjoying the rain, or enjoy your memories in the rain?”. Kemudian kau mengatakannya, dan seketika itu ku memilih mengakhiri percakapan yang kau mulai.

Bahwa jantungku berdegup kencang saat ku mendengar kalimat yang terucap dari mulutmu adalah benar. Lantas mengapa aku menghindar? Tak mampu mengatakan sebuah kejujuran atau tak mampu mendengar kejujuran dari mulut seseorang?

Setelah sore itu ku sadari, hari yang ku lewati tak pernah semenarik ini. Tak ku ingat lagi kapan terakhir kali ku berulang melihat arloji, sekedar ingin memastikan kapan pertemuan kita kembali. Atau tentang berkali-kali membuka layar handphone sekedar meyakinkan bahwa ku telah menerima pesan singkatmu. Hari-hari membosankanku berganti menjadi hari yang sangat menakjubkan. Pesanmu menyudahi lelahku, senyumanmu mengakhiri penantianku, diammu menciptakan pengharapanku, tatapanmu muara kelegaanku, kekagumanku dimulai dari ucapanmu, dan tawamu membuatku mengerti. Ku berhak bahagia dan meninggalkan kesedihanku. Ku harus berhenti disini dan memulainya kembali.

Ya, lagi-lagi kau mengejutkanku dengan pemikiran ajaibmu. Kau membuatku mengerti bahwa berharap ada masanya, mentolerir ada batasnya, memahami ada balasannya, mengorbankan perasaan ada aturannya dan terus mengalah maka munculah lelah. Bahwa ku harus mencintai diri ku sendiri sebelum mencintai orang lain. Jika terlalu lama menunggu maka palingkanlah harapanmu pada hal lain, pria lain, harapan lain. Katamu.

Kini tatapanmu memastikan bahwa keputusanku tepat. Genggaman tanganmu meyakinkanku bahwa semua akan baik-baik saja. Terima kasih. Terima kasih telah menciptakan keberanian, dan tetap berada disampingku sampai dengan sekarang.

Pria asing ini memiliki nama yang mengandung arti pria baik hati yang hebat dan rendah hati. Ya, apa yang kau katakan, kau ucapkan, kau pikiran sama persis dengan arti namamu.

Kini yang ku tahu, ku hanya harus menghabiskan hari-hariku bersamamu. Menyelesaiakan pekerjaan kemudian bercengkarama hangat dengamu setiap malam. Menikmati hujan, membaca buku dan mendengar lagu bersama-sama. Hal biasa yang selama satu tahun lebih ini tak pernah ku lakukan dengan baik saat bersamanya. Terima kasih sudah membawaku kembali ke hidup yang sebenarnya. Hidup yang penuh target namun tetap santai menjalaninya. Hidup yang penuh tantangan namun harus bahagia menjalaninya. Hidup yang penuh kesulitan namun harus tetap tetawa sambil menyudahinya.

Terima kasih. Sakura.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya