“Hai! Kamu apa kabar?”

Kata-kata itu sangat ingin aku kirimkan kepadamu. Sudah sangat lama sejak terakhir kali kita bertemu. Aku sangat ingin mengetahui kabarmu, kegiatanmu, segala hal tentang dirimu saat ini. Apakah kamu telah berubah? Atau masih menjadi kamu yang aku kenal dulu. Entahlah..

Advertisement

Jujur, aku sangat merindukanmu. Namun aku tak memiliki keberanian untuk sekedar berkirim pesan denganmu. Aku merasa tak pantas untuk masuk kedalam hidupmu lagi setelah semua yang kulakukan. Aku takut jika aku akan melakukan hal yang sama kepadamu.

Kamu adalah sosok yang selama ini membuatku untuk ingin selalu kembali ke masa lalu. Kembali pada masa putih abu-abu, masa dimana kita bertemu walau tak saling bersua namun saling suka. Masa dimana kita hanya saling memberi isyarat tanpa kata, tanpa suara, namun nyata adanya.

Dulu, aku terlalu naif untuk mengakui bahwa kamu adalah orang yang berhasil mengetuk pintu hati ini. Ketika kamu menyatakan bahwa kamu ingin memasuki pintu ini, aku mengatakan bahwa kamu harus mengetuknya terlebih dahulu. Namun karena kenaifanku ini, satu hal yang tak kusadari adalah ketika kamu mencoba untuk mengetuk pintu ini, aku selalu membuat tembok baru dan terus berulang hingga akhirnya kamu perlahan berhenti mengetuknya. Hingga masa kelulusan menjadi penjara untuk hatiku ini, kamu tak lagi berusaha untuk membukanya.

Advertisement

Aku terkurung bertahun-tahun dengan segala isyarat yang kamu berikan. Tanda tanya besar selalu bersamaku, hingga sekarang aku menyadari semuanya. Menyadari mengapa kamu berhenti berusaha untuk membuka pintu ini. Semua karena kebodohan dan kenaifan diriku. Aku tak pandai untuk mengekspresikan perasaanku, aku takut kecewa ketika aku berharap sesuatu yang terlalu tinggi kepadamu saat itu. Aku menyesal. Hanya penyesalan yang menemaniku, setelah semua tanda tanya dan isyarat manis yang selama ini ada, telah kutemukan jawabannya (walaupun masih dari sudut pandangku). Menyakitkan sekali ketika merangkai semua hal yang telah aku lewatkan. Aku telah menyakitimu, bahkan tanpa aku menyadarinya…

Aku berharap bisa memperbaiki semuanya. Aku tak berani barharap kamu untuk mau masuk kedalam hati ini lagi. Aku hanya berharap setidaknya kita bisa bertegur sapa. Aku tahu kamu telah memiliki hati yang lain, hati yang mau mendengarkan ketukkanmu dan hati yang jauh lebih baik dariku. Namun tak ada salahnya untuk menaruh setitik harapan bukan?

“Halo, apa kabarmu?”

Itu selalu tertulis dalam draft pesanku. Aku selalu ingin menekan tombol ‘sent’ tanpa berpikir macam-macam, memikirkan respon yang akan aku dapatkan darimu. Aku takut kamu akan mengabaikannya, namun aku juga takut jika kamu membalasnya. Aku takut melakukan kesalahan yang sama dan menyakitimu lagi. Kini kau telah bahagia dengan dirinya, aku tak ingin merusak kebahagiaanmu. Disisi lain aku sangat merindukanmu, aku ingin kita tidak seperti orang asing yang tak saling mengenal. Aku galau. Aku harus bagaimana?

Entah apa yang harus aku lakukan, aku tak tahu. Mungkin aku hanya bisa mengirimkan pesan itu melalui doa. Waktu mungkin akan memberikan jawabannya, suatu saat nanti. Aku berharap, aku dapat menemukan cara untuk memenuhi rasa rinduku ini. Semoga suatu saat kita bisa bertemu, walau hanya melihatmu sebentar saja, aku sudah bahagia.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya