Atas izinmu kami kembali dan akan saling menyapa kelak. Terima kasih untuk kesempatan melalui pendakian kemarin. Hari kemarin memanglah telah berlalu, begitu juga dengan kesempatan yang diberikan. Aku memang bukan alasan untuk kalian, namun kalian adalah alasan untuk aku kenang kini. Kita adalah teman, namun kemarin kita adalah satu. Terhubung dan saling terikat. Menunggu dan begitu peduli.

Masih siang, dan mendung jelas terlihat. Detik-detik akan hujan lebat sudah sedari pagi terasa. Suasana tak biasa mulai tercium, namun beberapa orang masih asyik dengan rencana mereka. Sebuah pendakian yang mereka namakan liburan. Pendakian ini menjadi liburan pertama di penghujung semester ganjil untuk sekelompok individu ini. Seorang wanita yang duduk dipojokan menjadi pemicu dimulainya rencana gila. Sebuah pendakian di musim hujan. Seorang senior menyapa dan bercerita tentang pendakiannya di tahun sebelumnya. Pendakian di gunung yang sama. Jalanan bahkan begitu licin di musim kemarau, sebuah pernyataan yang sempat memicu kemunduran acara. Tak banyak yang dipersiapkan, berawal dari sebuah candaan di tempat biasa para mahasiswa Fisip Unud berkumpul, TBM.

Advertisement

"Tanggal 16 atau 17?" Tawaran untuk rencana yang bahkan hanya lelucon untuk beberapa orang, namun tidak untuk wanita itu. "Fix Selasa, tgl 17 yaaa." Hanya anggukan dari beberapa teman dan ketidakpastian.

Tak banyak yang menanyakan tentang keberlanjutan acara. Selalu banyak yang mengetahui namun tak banyak yang merespon. Celotehan pun bermunculan hingga acara dimajukan. Senin, 16 Januari 2017. Untuk sebuah awal di akhir UAS.

7, angka ganjil yang mengisyarakat kelompok pendakian ini. Sebuah doa pun terlantur, memohon kelancaran dan keselamatan untuk salah satu wanita yang bahkan tak pernah meminta izin orang tuanya untuk mendaki. Hingga tanggung jawab semakin besar untuk dipikul.

Advertisement

Hanya senyuman yang terlempar saat hujan menghampiri di tengah perjalanan.

"Kita hanya bercanda bukan?" tanya salah seorang teman yang begitu nakal dengan humornya.

"Jangan php loh ya," seru salah seorang wanita sembari meminum yogurt kesukaannya.

"Kita berangkat dulu aja, kita mendaki kalau cuaca bagus dan kita cukup ngecamp kalau cuaca tidak mengijinkan," seseorang menjadi penengah. Perjalanan dilanjutkan dengan tawa yang sengaja dimunculkan untuk menutupi kekhawatiran. Gelap bahkan telah menyapa dan bersiap menutup hari senin.

Pukul 20.00 menjadi permulaan untuk beberapa orang yang terbilang tak pernah mencicipi terjalnya jalan pendakian. Rintik hujan mulai menyapa, namun keadaan dibuat seolah menyemangati pendakian ini. Rintik hujan adalah sebuah restu.

Pembagian perlengkapan telah dipandu oleh seorang teman yang berpengalaman di bidang pendakian. Perjalanan pun dimulai. Ditemani beberapa headlamp dan tekad. Embun mulai berjatuhan, bersejajar dengan keinginan mencapai puncak. Adegan jatuh layaknya kura-kura menjadi bagian yang mengurangi lelah pada pencarian pos 1. Gaya perosotan yang menoreh tanah pada seorang teman yang terlihat penuh wibawa memberi tawa pada perjalanan akan mencapai pos 2. Pendakian terhenti sesaat di pos 2. Sinyal koneksi mulai tidak menjamah kawasan ini hingga keputusan akan berkemah di puncak diputuskan.

Banyak keluhan terlontar, keadaan mulai berbeda dengan sebelumnya, hari yang semakin larut, mengikis semangat kelompok ini. Perebutan oksigen dengan banyak pohon disekitar menjadi kambing hitam.

"Malam hari pohon akan menghirup oksigen, dan kita mungkin akan berebutan dengannya," celoteh salah satu personil. Sesak, keluhan dan rasa kantuk semakin sering menyapa, hingga beberapa suara kerap terdengar. "Break",,,,"Lanjut",,,,,"Break",,,,,"Next",,,, "Break",,,"Cus",,,,,"Break",,,,"Break",,,,,"Break".

Pukul 01.00, 2 tenda mulai didirikan dan semua personil terkumpul dalam 1 tenda. Seorang yang nakal dalam ucapannya menjadi koki untuk awal pagi di hari Selasa. Seduhan mie dalam cup dan beberapa snack disuguhi memicu riuh, menutup sepi pagi yang dingin. Hanya ada satu kelompok pada pendakian ini, dan gunung ini terasa hanya milik 7 orang ini. Tak ada sunrise. Hanya ada embun dan dingin.

Satu personil mulai keluar tenda dan menyapa tenda di sebelah. Tak digubris, dan suasana hening kembali. Keputusan untuk kembali menjamah mimpi tak bisa dihindarkan. Pukul 07.00 satu demi satu personil keluar menyapa embun di puncak Gunung Abang, keberhasilan mencapai 2151 MDPL.

"Jepret…. Cekrik,, jekrikk, tit," kamera berbunyi. Sesi pengambilan foto dimulai. Banyak peralatan dikeluarkan, dimulai dari kaca mata, topi, sisir, kaca hingga lipstik.

"Jam 12, kita harus udah sampai di bawah yaa,, karena akan hujan," tebakan dalam gurauan yang tak kembali digubris. Selfie, belfie, hingga candid menjadi bagian dalam pencapaian foto terbaik.

"Hanya 3 foto bersama? Kurangggg!" seru salah seorang personil wanita, yang kembali tak digubris. Tenda mulai dibuka dan sesi pembersihan mulai dilakukan.

"Sampahnya dimasukin di trash bag, ntar tak bawa turun," tegas seorang personil wanita. Berbagai resep masakan menjadi hal yang diperbincangkan sepanjang menuruni Gunung Abang, dari kuliner hingga persoalan tentang cinta. Kelompok sempat berjalan terpisah dan berjalan bersama-sama setelah melewati pos 1.

Seorang teman yang mengatakan dirinya bukan orang yang peduli hingga perlu meminta justru menuntun dan paling mengayomi. Seseorang yang terlihat keren namun kocak menjadi bagian penyemangat dalam sesi akhir, seseorang yang terlalu asyik dan memilih bermain perosotan untuk mendapat kenangan lebih banyak berbaris di depannya, seseorang yang terbilang baru pertama kali mendaki berbaris di depannya, seseorang yang nakal dalam ucapannya yang mengatakan bahwa ia tak seperti yang dikatakannya mengikuti di barisan selanjutnya, seseorang yang kocak dengan ekspresi datar hingga membuat wacananya terulang berjalan diurutan kedua dan seseorang yang mendapatkan ketenangan dengan mendaki memimpin pendakian ini.

Ada banyak cerita yang bahkan tak mampu penulis ceritakan, semuanya terkenang dan telah menjadi bagian di hari kemarin. Semuanya akan tersusun rapi dan teringat hanya dengan memejamkan mata. Suasana sunyi, tenang, sejuk menyelimuti hati yang sebenarnya gelisah dan terkurung dalam kerinduan yang teramat sangat. Hingga kuputuskan untuk pulang. Tempat terbaik di dunia ini. Tempat yang akan selalu menerimamu, menyejukkanmu dan selalu akan menjadi tempat awal dan akhirmu.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya