Untuk pria yang masih sedia disampingku sampai saat ini,
Kadang aku berfikir bagaimana cara melewati waktu secepat mungkin agar segera sampai pada waktu yang pernah kamu janjikan,
“Aku ingin mengenalmu lebih dekat, dan berdo’a semoga Allah mengijinkan untuk membawa hubungan ini ke jenjang pernikahan”. Katamu dulu.
Tapi tak mungkin bila harus kupercepat jalannya waktu sesuai kehendakku sendiri, aku tak mungkin mampu,
karna ada Yang lebih Kuasa mengendalikannya,
Dia Yang Maha Tahu, telah mengatur waktu yang tepat untuk kita bersama,
Suatu hari entah pada tanggal dan bulan apa, kita pasti akan bersama-sama menemui hari yang kita nantikan itu tiba, InsyaAllah
Aku selalu membayangkan bisa bertemu dan duduk bersebelahan dalam satu meja yang sama bersamamu, aku akan mendengar dan mencermati tiap kata yang terucap sebagai janjimu didepan penghulu,
Kamu pasti akan gugup pada awalnya dan lalu tersenyum lega mendengar orang- orang disekitar kita serentak berkata “Sah”,
Semua orang akan menyaksikan wajah kita diliputi rona tersipu malu saat penghulu mempersilahkan mempelai wanita menjabat dan mencium punggung tangan mempelai pria, tak ketinggalan pasti kecupanmu akan hinggap dikeningku pada hari itu,
angan- anganku seperti sudah menjadi kenyataan hanya dengan membayangkannya..
doa harapan tak henti kurapalkan
kamu mungkin tak banyak tahu bahwa aku sungguh menginginkan janji itu terealisasikan,
begitu mudahnya air mata terurai tiap kali menyebut namamu dalam do’a- do’a disepertiga malamku,
ingin rasanya menghadirkanmu untuk berdoa bersama disudut kamarku,
namun lagi-lagi belum waktunya,
mungkin suatu saat nanti..
***
jangan pernah bosan mendengar rengekan – rengekanku
kekasihmu ini memang bukan anak kecil lagi,
tapi boleh bukan sesekali aku manja dihadapanmu,
luangkan sedikit waktu saja memberikan seluruh ruang hatimu untukku
bukan berarti aku memintamu melupakan keluargamu, teman- temanmu dan pekerjaanmu,
sama sekali tidak, cukup hanya dengan memusatkan perhatianmu padaku disaat- saat tertentu, disaat aku benar-benar menginginkan kamu berada didekatku
***
andai aku mampu untuk lebih bersabar mungkin debat berkepanjangan tak akan terjadi,
mengertilah bahwa aku cemas, bila kamu tak lagi mengingat janji yang pernah terucap,
ingin rasanya meluangkan waktu lebih banyak untuk membicarakan rencana masa depan kita, lagi- lagi harus ku urungkan niatku saat melihat wajahmu yang tak bersemangat,
barangkali kamu lelah dengan rutinitas pekerjaanmu hari itu, bukan karna kamu tidak memperdulikanku bukan?
***
Ketika aku bosan dengan keadaan, aku membayangkan dirimu duduk disebelahku untuk sejenak mendekap dan menenangkanku,
tapi, bagaimana bisa hal itu terjadi, jika membalas pesan-pesan yang kukirimkan saja kamu hanya sebatas menjawab, dan jarang untuk bertanya balik, atau sekedar melempar canda sebagai penghangat suasana seperti awal pertemuan kita dulu,
bahkan kini aku takut untuk sekedar memintamu menemaniku, bagaimana jika kamu menolaknya, entahlah,
pintaku , jangan pernah bosan saat aku sering memastikan keseriusan janji itu,
mungkin sempat terbesit dipikiranmu, tapi rasa sayang akan menutupinya bukan?
***
Kamu tak lagi menjadi peneduh setiap ada permasalahan yang menerpa,
Kamu bukan lagi menjadi pendengar tiap keluhanku,
Kenapa masih disampingku, jika selalu menanggapi tanyaku dengan emosi?
Kenapa tiba-tiba baik setelah puas melontarkan amarahmu?
Tanpa ada solusi untuk perdebatan kita, permintaan maaf itu terucap begitu saja darimu..
Bagaimana dengan hatiku?
Bagaimana dengan hatiku yang terlanjur sakit dihujam amarahmu..
Aku mungkin mencintaimu, tapi bagaimana bila ketulusan ini dibumbui emosi terus- menerus?
Bagaimana kita nanti??
Cukup dengan bersabar menunggu dan berbuat yang terbaik, waktulah yang akan membawa kita,
Aku masih disini, sedia menunggumu, menunggumu menepati janji awal kita..