Dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku mohon ampun beribu ampun dan maaf berjuta maaf padamu, Mama. Akhirnya hari ini aku membuktikan kalau aku ini benar-benar lemah dan payah.

Mama, Aku menulis catatan ini pada telepon genggam menggunakan jempol tangan kiriku, aku menulis ini dengan derai air mata yang membasahi pipi dan dada yang sesaknya bukan kepalang. Maaf, Ma… Aku menulis ini dengan sebatang rokok yang kujepit di antara jari telunjuk dan jari tengah pada tangan kananku, aku menulis ini bersamaan dengan kepulan asap yang menyelinap keluar dari sudut bibirku.

Advertisement

Mengingat perdebatan yang terus terjadi di antara kita akhir-akhir ini membuatku setengah gila. Jujur saja aku benci harus berdebat denganmu. Aku masih bernafas tapi jantung ini tak lagi berdegup. Hatiku sudah mulai mati, untuk peduli. Logika pun sudah mulai malas diajak kompromi. Aku berubah menjadi orang lain yang tidak kau kenal, bahkan aku sendiri pun tak kenal.


Kita terjebak pada keadaan yang tak berpihak, bukan salahmu, Ma. Tolong jangan sesali aku. Bukan salahku juga, Ma. Tolong mengertilah, ini bukan inginku. Tiada seorang pun yang ingin jadi aku.


Mama… Hal yang akan kusampaikan padamu ini telah teramat lalu, mungkin satu dasawarsa lewat setengah windu, namun aku ingin kau tau. Kau tentu sudah sering melihatku menangis dengan tubuh memerah atau membiru karena ulah orang yang kau cintai itu, yang katanya sangat menyangiku. Saking seringnya aku menangis kesakitan di tengah ketakutan aku sendiri saja jadi lupa sudah berapa kali tubuh dan hatiku terluka. Namun ada beberapa hal yang tak mungkin bisa kulupakan dan akan selalu aku ingat.

Advertisement

Aku ingat, aku pernah menjadi anak TK yang menangis merengek minta dibelikan es krim secara paksa di ruang kerjanya, dan yang kudapat adalah kayu. Kau ada di sana, Ma. Tapi… Kau tak memelukku. Aku pernah menjadi anak SD yang membuat kaka sepupuku menangis, dan yang kudapat adalah tamparan di pipi kiriku. Saat itu kau tak di sana, saat kau pulang aku sedang berdoa pada Tuhan kita, sambil menangis sesenggukan, dengan kerudung putih bernoda merah dari darah yang mengalir melalui sudut bibirku yang sedikit pecah karena tamparan keras. Kau tanya aku kenapa, aku hanya menangis, dan kau langsung tau alasannya. Namun, suguhanku adalah pertengkaran dan kau tak juga memelukku.

Aku ingat, aku pernah menjadi anak SMP yang didorong sampai terjatuh hingga kepalaku membentur dinding. Tapi aku tidak apa-apa. Aku kira, aku ini hebat. Aku tidak menangis lagi, aku sudah pintar berakting. Meski air mata memang tetap keluar dari kedua mataku, itu hanya cairan biasa bukan tangisku. Aku tidak lagi menangis, semenjak aku pernah diseret di jalan hanya karena aku belum pulang sebelum adzan dzuhur padahal dulu aku duduk di bangku kelas tiga SD dan yang kumau memang main saja. Aku diseret dan dibentak, katanya aku main tak kenal waktu.


Aku menangis sejadi-jadinya saat itu, lalu kau menenangkanku, kau katakan padaku "anak perempuan yang kuat itu tidak menangis di hadapan orang lain, anak yang baik itu selalu tersenyum". Mulai saat itu kata-katamu jadi pedomanku. Tapi kau… Masih tak memelukku.


Aku tidak ingat alasannya, hanya saja aku ingat. Saat aku SMA, tangannya mengenai punggungku, tepat di rongga dada. Hingga aku terjatuh akibat kesulitan bernafas dan kesakitan. Kau ada di sana. Lagi-lagi yang disuguhkan padaku adalah pertengkaran. Padahal aku ingin kau peluk agar tenang.

Aku benci tiap kali mendengar kalian meneriaki satu sama lain, saling menyalahkan, dan pada akhirnya… Aku lagi yang jadi korban ego kalian. Kalian teriaki aku. Kalian bilang aku selalu jadi alasan pertengkaran kalian, padahal aku tak mengerti apa salahku, aku yang dipukul, aku yang ditampar, aku juga yang disalahkan. Padahal aku bukan golongan anak nakal yang membuat masyarakat resah, bukan juga anak yang membuat orang tua dipanggil ke sekolah karena membuat ulah.


Pertengkaran kalian terjadi sepanjang waktu dan itu amat menyiksaku.


Mama, kau harus tau, betapa benci dan marahnya aku tiap kali kau diteriaki orang itu. Kau tak pantas diperlakukan begitu. Meski kau tak pernah memelukku tapi aku menyayangimu, aku marah tiap kali ada yang menyakitimu. Meski aku kadang bertingkah seenaknya terhadapmu, balas teriak ketika kau meneriakiku, tapi aku menyayangimu. Sikapku, hanya karena aku marah pada kenyataan kau tak pernah memelukku pada saat aku membutuhkanmu.

Mama, Aku pernah melihatmu menangis tengah malam dalam sujud karena ulahku dan kau masih mendo'akanku, dari situ aku tau kau menyayangiku. Tapi aku tak mengerti, apa salahku, jika kata-kataku ada yang menyakitimu aku bahkan tak menyadari itu. Sebab mana mungkin aku sengaja melukai hatimu, Ma.

Izinkan aku untuk menyudahi tentang ingatan yang lalu. Kini, kita terus berdebat lewat panggilan telpon. Lagi-lagi karena orang yang kau cintai itu.

Mama, Maafkan aku. Aku tau kali ini aku menyakiti hatimu, semenjak aku memutuskan berhenti bicara pada lelaki yang menemani tidurmu. Maafkan aku, aku tak bisa memenuhi inginmu agar aku meminta maaf padanya meski aku sangat menyangimu, meski kau bilang "kalau sayang Mama, mintalah maafnya". Maafkan aku, aku tak bisa menjadi seperti yang kau minta, aku tidak seperti anak tetangga yang kau anggap sempurna. Aku, tau.

Mama, Aku pernah memuja ia yang kau cinta. Tak ada sedikitpun cacat dan salah yang ia buat. Sungguh bagiku ia sempurna. Meski bukan main kurasa sakit tubuh dan hatiku dibuatnya, aku masih memujanya. Sampai suatu ketika ia memaki dan aku sudah cukup dewasa untuk memahami semuanya. Ia berhenti bicara padaku, untuk kesalahan yang tidak aku lakukan. Aku katakan padanya tentang dirinya, aku tunjukkan padanya salah yang ia perbuat namun ia malah membenciku. Ketika seharusnya ia membenci dirinya sendiri atas tingkahnya, ketika seharusnya aku yang membencinya atas luka raga dan luka jiwaku. Maka aku berhenti bicara padanya, berhenti mengaguminya, dan berhenti menganggapnya ada. Agar aku tak durhaka karena membencinya, aku memutuskan untuk melupakannya. Meski mustahil bagiku untuk bilang aku tak mencintainya.

Mama, Yang perlu kau tau dan yang perlu kau patenkan dalam hatimu. Aku sangat menyangimu, teramat sangat menyangimu. Maafkan aku, malam ini aku membakar uang yang susah payah kau berikan padaku menjadi asap untuk meringankan sedikit beban fikiranku.


Mama, Aku waras, tapi nyaris gila. Seumur hidupku yang aku inginkan hanya satu, peluk aku, Ma. Sekali saja. Sekali saja, saat ini Ma. Saat jiwaku benar-benar terluka dan hatiku sedang koma.


Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya