Mungkin benar kata pepatah, kita tidak akan tahu bagaimana perasaan sesungguhnya pada seseorang, sampai sesaat kemudian orang itu pergi. Barulah semua akan terlihat jelas. Dan dia, baru memahami perasaannya ketika yang dicintai telah jauh pergi. Dialah sahabatku. Akan kuceritakan kisah pilunya, mungkin juga aku, kamu, dia, dan mereka pernah mengalami hal seperti ini.

Mengawali cerita ini panggil saja aku Nilam. Aku suka nama itu karena menggambarkan sosok anggun tapi juga membawa aroma kelam. Kelamnya perasaan yang saat ini menderaku. Aku bertemu dengannya di sebuah kelas di mana kami sama-sama belajar di bangku kuliah. Entah bagaimana, kami menjadi begitu dekat. Aku mulai menceritakan segala hal yang menyulitkanku padanya. Entah mengapa, hanya dengan bercerita dengannya, semua hal terasa menjadi lebih mudah. Dia adalah lelaki yang perhatian, baik, dan teramat baik. Hubungan pertemanan yang manis ini membuatku semakin tenggelam dan tanpa tersadar bergantung padanya.

Advertisement

Seiring waktu berjalan, dia tiba-tiba menyatakan perasaan dan ingin menjadikan aku sebagai pacarnya. Jujur aku menyukainya, juga mungkin aku mencintainya. Tapi entah mengapa aku jadi ragu, aku hanya tidak nyaman dengan label “berpacaran”. Karenanya, aku mengatakan bahwa aku tidak ingin berpacaran, hanya ingin menjalin persahabatan seperti biasanya. Aku tidak mau berpacaran, tapi aku tidak ingin kehilangan. Begitu maksudku. Kalau saja ajakan itu untuk menikah, maka pasti aku akan menerimanya. Kalau saja.

Setelah kejadian itu dan aku berterus terang tentang keinginanku, dia memilih perlahan menjauh. Meski hampir setiap hari kami berada dalam satu kelas, namun nyatanya aku merasa dia terus menarik diri dari kehidupanku. Aku tidak ingin hal seperti ini terjadi, tapi dia seolah semakin membangun sekat, sekat yang tinggi. Kenyataannya, dia hanya beberapa meter di hadapanku, namun jauh sekali rasanya. Sampai aku tak mampu menggapainya. Situasi ini membuatku terjebak dalam ruangan yang menyakitkan.

Setelah kami menyelesaikan pendidikan dan d wisuda, kami pun semakin jauh. Tidak ada lagi kelas yang membuat kami berkumpul dalam satu tempat. Dia di kota itu, dan aku pun di kota ini, sama-sama merantau. Menjalankan mimpi-mimpi mencerdaskan anak-anak dengan ilmu yang kami punya. Dia tak pernah lagi muncul meski hanya di daftar chat yang masuk.

Advertisement

Aku dulu yang membohongi perasaanku sendiri, dan akhirnya mengabaikan serta melepaskannya. Dia yang kecewa, tak pernah lagi berusaha kembali. Jujur, kenangan dan ingatan-ingatan tentangnya belum hilang. Kadang semuanya berubah sesak, sampai aku merengek pada Tuhan untuk bisa melupakannya. Aku ingin melupakannya untuk menghapus sakit yang mendesak, sesak. Kalau sudah begitu, aku hanya berharap kepada Tuhan untuk segera memberikan penggantinya.

Suatu hari karena tak tahan menahan rindu dan perasaan lainnya, aku nekat menelepon dia. Entah bagaimana pembicaraan yang terjadi, tiba-tiba aku bertanya apakah dirinya kini telah ada tambatan hati. Tapi tanya itu tak terjawab, dan hanya diam yang ia berikan. Diam yang membingungkan, diam yang terkadang membuatku penasaran. Sesuatu yang membuatku menduga-duga banyak hal, ada kalanya hal baik yang tergambar, namun lebih banyak hal tak baik yang terbayang hingga aku tergugu dalam tangis.

Aku sadar tidak bisa menyalahkan dia. Karena aku yang terlebih dulu membuatnya kecewa. Aku hanya bisa menjalani hidup meski didera rasa sakit tak kasat mata, rasa yang kadang terasa memberatkan langkahku. Aku hanya bisa berusaha kuat dan menjalani semuanya dengan ikhlas. Karena toh, hanya itulah pilihan yang tersisa. Rasa sakit ini akan kuingat baik-baik. Dan saat nanti Tuhan memberikan senyumku kembali, maka aku kan bisa lebih bersyukur dengan baik kepada Tuhan.

*)Penggalan lagu cinta datang terlambat by Maudy Ayunda

Baca juga cerita sehari-hari dan tips-tips tentang cinta di http://www.aininur.com

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya