Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa Tuhan telah menciptakan setiap manusia dengan berbagai macam perbedaan. Mulai dari perbedaan jenis kelamin, warna kulit, ras, dan yang menjadi pokok artikel ini, agama. Tuhan menciptakan manusia berbeda–beda tentu memiliki tujuan. Tujuan tersebut ialah agar manusia dapat saling melengapi satu sama lain dan juga agar tercipta sebuah interaksi antar manusia karena memang pada dasarnya manusia merupakan mahluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri.

Walaupun begitu, terkadang ada saja gesekan–gesekan yang terjadi antara umat beragama. Dalam rangka menjaga persatuan dan kesatuan dalam masyarakat maka diperlukan sikap saling menghargai dan menghormati, sehingga tidak terjadi gesekan-gesekan yang dapat menimbulkan pertikaian. Seperti yang sudah tertulis dalam pembukaaan UUD 1945 pasal 29 ayat 2 telah disebutkan bahwa negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya sendiri-sendiri dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya. Di Indonesia sendiri, sudah ada berbagai macam contoh kerukunan antar umat agama.

Advertisement

Contoh yang paling nyata dan yang merupakan cerminan semangat persatuan antar umat agama adalah letak Masjid Istiqlal yang berseberangan dengan Gereja Katedral. Bukan suatu keisengan belaka Masjid Istiqlal dibangun berdampingan dengan Gereja Katedral. Pada tahun 1950, terdapat ide untuk membangun sebuah masjid yang akan menjadi masjid nasional bangsa Indonesia.

Namun karena ada berbagai macam masalah, maka usul inipun baru diajukan ke Bung Karno pada tahun 1953. Tetapi untuk tempat pembangunan Masjid Istiqlal, Bung Karno dan Bung Hatta memiliki pendapat yang berbeda. Bung Hatta menyarankan agar Masjid Istiqlal didirikan di lokasi yang saat ini menjadi tempat berdirinya Hotel Indonesia atau di Jalan M.H. Thamrin sekarang. Pertimbangannya, lokasi tersebut berada di lingkungan muslim dan tersedia lahan yang cukup luas. Tetapi Sukarno bersikeras untuk pembangunan Masjid Istiqlal bertempat di Pasar Baru. Menurut Sukarno, masjid nasional harus berdekatan dengan bangunan simbol negara, seperti Istana Negara.

Kemudian, di sekitar lokasi tersebut berdiri Gereja Katedral. Dengan berdirinya sebuah masjid nasional di dekat bangunan ibadah seperti Gereja Katedral, maka akan memberi pesan bahwa Indonesia merupakan negara yang memiliki semangat persatuan antar umat beragama dalam mewujudkan Bhineka Tunggal Ika.

Advertisement

Berbicara dengan tentang perbedaan, maka kita juga harus membahas tentang toleransi. Apakah makna dari toleransi? Toleransi diambl dari bahasa "tolerantia" yang berarti kelonggaran, kelembutan hati, keringanan dan kesabaran. Sedangkan menurut istilah, toleransi berarti menghargai dan membebaskan suatu kelompok untuk berpendapat dan melakukan hal yang berbeda dengan kita tanpa adanya intimidasi terhadap suatu kelompok. Pada intinya, toleransi merupakan sikap menghargai dan menghormati perbedaan yang ada antar umat manusia. Keberadaan toleransi sangatlah penting dalam menjaga kerukunan antar umat manusia terutama dalam hal beragama. Karena sikap toleransi mengajarkan kita bagaimana caranya menghormati dan menghargai satu sama lain.

Ironisnya, di Indonesia masih terjadi berbagai macam kejadian yang menimbulkan perpecahan antar umat agama. Masih ada beberapa pihak bahwa perbedaan merupakan suatu hal yang salah. Contohnya saja yang baru–baru ini terjadi di Medan. Sebuah gereja di Kompleks Griya Matubung digrebek oleh warga hingga jemaat dibubarkan. Menurut pengakuan warga, tempat ibadah tersebut belum memiliki izin. Namun, menurut pihak gereja mengatakan bahwa perizinan gereja hanya tinggal pengurusan izin rumah tempat tinggal menjadi tempat ibadah. 

Menurut Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Tatan Dirsan,  mengatakan sebelumnya pada 6 Desember 2019 sudah ada rapat di Kantor Camat Medan Labuhan bersama Fokopimcam Medan Labuhan, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dan Kementerian Agama Kota Medan. Hasil rapat itu yaitu untuk menghentikan kegiatan ibadah di lokasi tersebut mulai 1 Januari 2019 sampai adanya izin resmi sesuai Peraturan Bersama Menag dan Mendagri no 9 dan 8 tahun 2006 tentang Pedoman Pelaksanaan Tugas Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah dalam Pemeliharaan Kerukunan Umat Beragama, Pemberdayaan Forum kerukunan Umat Beragama dan Pendirian Rumah Ibadah. Namun pernyataan kesepakatan tersebut belum ditandatangani oleh Pendeta Jan Fransman Saragih, STH. Pada akhirnya, Pendeta Jan Fransman Saragih, STH bersedia untuk tidak mengingkari hasil Kesepakatan bersama yang dibuat pada tanggal 06 Desember 2018 di kantor Camat Medan Labuhan dan telah ditandatangani pada 13 Januari 2019

Menurut pendapat penulis, hal seperti ini tidak perlu terjadi. Memang betul rumah ibadah tersebut belum memiliki izin dan juga warga di sekitar berhak untuk merasa resah. Akan tetapi, kejadian yang terjadi pada Minggu, 13 Januari 2019 ini membuktikan bahwa masih kurangnya musyawarah mufakat di Indonesia, yang berujung pada perpecahan antar umat beragama. Apabila ada komunikasi antar pihak gereja dan masyarakat sekitar, maka penulis yakin bahwa keadaannya akan baik–baik saja.

Sebenarnya mudah saja untuk menjalin hubungan harmonis antar umat beragama dan tetap rukun di dalam satu tempat yang sama. Namun memang ada beberapa pihak yang masih kurang memahami apa yang dilakukan oleh agama lain, sehingga menganggap perbuatan tersebut termasuk perbuatan yang salah. Maka dari itu, untuk menghindari perpecahan antar agama kita juga harus memahami apa yang dilakukan agama tersebut. Penulis yakin bahwa mayoritas agama di Indonesia hanya ingin beribadah ke pada Tuhan agama masing–masing dan tidak bermaksud untuk membuat kerusakan dan berbuat onar.

Apabila masing–masing agama hanya ingin melaksanakan ibadah  masing–masing, maka mengapa harus ada perpecahan? Tidak bisakah perbedaan hidup berdampingan dan melengkapi satu sama lain? Akankah terjadi kerukunan di atas nama-Nya? Itulah tugas kita sebagai warga negara dan juga umat beragama untuk terus bersatu teguh walau perbedaan selalu ada di antara kita semua.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya