Ketika Kita Merasa Sendiri

Setiap pagi, akan ada seseorang yang mengampiri mejamu. Menanyakan tugas yang tak sempat terselesaikan. Menceritakan kejadian semalam dengan teman semeja. Membicarakan serial drama dalam satu percakapan. Bersama menuju kamar kecil hanya sekadar mengaca dan merias diri. Tertawa konyol bahkan tak paham dengan pembicaraan. Kegilaan tiada tara yang sering tercipta, segala kehebohan yang diciptakan para penguasa sebab sensasi sensasi yang dibuat. Mulut-mulut yang meneriakkan kegelisahan menjelang ujian diawal minggu. Berharap waktu kosong dapat diisi dengan waktu bersama untuk menonton sinema. Berteriak

sekencang kencangnya untuk beberapa adegan. Menyanyikan lagu yang sama saat malam perkemahan, menciptakan satu  memori yang sulit diutarakan, saat segalanya tanpa persiapan, justru membuah menjadi kenangan tak terlupa. Begitu juga pertemuan kita. kiranya dapat dihitung dengan jari berapa banyak kedekatan yang kita lakukan, namun waktu yang kita habiskan bukan waktu yang singkat.

Advertisement

 

 

 

Advertisement

 

Seseorang di Belakangmu

"Mengapa murung?"

Aku tak menjawab. Tak sepatutnya ia berani membuka obrolan di saat seseorang terlihat tak cukup baik untuk diajak berbincang.

"Kau, sendiri?"

Aku memasang wajah datar, berharap dia segera muak karena merasa tak dianggap olehku, lalu pergi dari sisiku. Dia tetap memandangi raut wajahku yang terlihat lebih mendung dari biasanya.

"Atau, kau sendiri yang merasa sendirian?"

Tak perlu menunggu sepuluh detik, air mataku suka rela turun karena ucapan yang keluar dari mulut yang tak ku sangka.

"Bukan hanya kau yang merasa seorang diri di tengah keramaian. Banyak orang di luar sana juga merasakannya, bedanya, mereka mengerti cara mengatasinya. Mereka mengandalkan kekuatan diri, agar tak kalah dengan lingkungan yang terus mendesak, dan ku yakin untuk hal yang satu itu, kau berusaha untuk melakukannya."

Aku kalah. Dia menang kali ini.

"Banyak mereka di luar sana yang mencoba untuk berbicara di depan banyak orang, tapi mereka justru diabaikan. Banyak juga yang mencoba baik di hadapan satu orang, tapi ia tak dianggap. Aku."

Aku sadar. Tak seharusnya menjadikannya pelampiasan dari egoku yang tak terkalahkan. Dan imbasnya, melukai seseorang yang tak bersalah.

"Jadi, jangan tertutup pada satu kondisi. Lihatlah sekitar mu. Percayalah, ada seseorang yang akan menghidupkan suasana, meski kau tak dihiraukan puluhan pasang mata."

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya