Mungkin kata itu yang selalu aku ulang tiap harinya. Bosan? Tak. Bagaimana aku dapat bosan sedangkan aku melakukannya dengan penuh keyakinan. Menunggu.

Egoiskah aku yang merindukanmu? Egoiskah aku yang tetap mengharapkan hadirmu? Maafkan hati ini yang tak dapat menutupi segala cemas dan rindu.

Advertisement

Aku belajar darimu, agar aku menjadi seseorang yang tangguh, sabar, yakin, bijak, dan banyak lainnya yang sangat indah jika aku mengingatnya.

Suatu hari, aku pernah membayangkan, bagaimana jika hari-hari ini berlalu tanpa hadirmu? Bagaimana? Akankah semua kelam dan menyedihkan? Entah.

Dan suatu hari aku membuka mataku, kudapati hilangnya hadirmu. Aku sangat merasakannya, rasa yang dinamakan 'rindu'. Rasa yang aku sendiri tak yakin kebenarannya. Rasa yang aku sendiri tak tahu dari mana asalnya. Rasa yang bahkan aku tak memahaminya.

Advertisement

Bahkan kamu yang selalu dapat memahaminya lebih baik dariku. Bagaimana bisa? Bisa. Kamu selalu lebih paham dariku, kamu memahamiku lebih dari aku yang memahami aku. Hanya aku dan kamu yang tahu bagaimana bisa semua ini terjadi.

Mungkin sekarang aku menjadi berbeda dengan yang lainnya. Mungkin aku tak dapat dimengerti yang lainnya. Dan mungkin banyak yang tak dapat diungkap kepada yang lainnya, kecuali kamu yang tak usah aku mengucapnya telah benar-benar memahaminya.

Maafkan aku yang berterima kasih atas pertemuan ini, Maafkan aku yang mengenalmu, Maafkan aku yang kemudian menyayangimu, dan Maafkan aku yang merindukanmu lagi lagi dan lagi.

Memang, kita belum pernah bertemu. Tapi ajaibnya, aku dapat dibuat rindu olehmu. Bahkan ketika aku sedang berbalas pesan denganmu pun, aku tetap rindu. Entah aku yang salah menerjemahkan rasa ini atau memang benar adanya semua keajaiban ini. Aku tak tahu, aku tak yakin, aku hanya merindumu.

Hari ini dalam sepi sunyi tanpa hadirmu, aku merasakan kehilangan sesuatu berharga. Aku hanya dapat merapal doa, supaya hari-harimu dipenuhi dengan indah dan dihiasi bahagia. Namun, lagi-lagi ajaibnya, walau aku tak jumpa hadirmu, aku tetap merasakan hangat hadirmu dalam hati. Itulah yang membuatku damai di tengah kegelisahan ini. Walau aku lagi-lagi tak mengerti sebab semua ini terjadi, Aku tetap menantimu dalam sendiri.

Kau sempat berjanji pasti akan kembali suatu hari nanti. Tanpa menyebut pasti waktumu kembali dan mengapa kau lakukan semua ini. Kau hanya mengatakan, "Aku suatu hari pasti kembali. Aku pasti kembali." Namun, kata itu dapat menjadi obat tersendiri untukku. Bagi orang lain mungkin akan sulit menerima semua ini, mempercayai itu adalah sesuatu yang sulit memang.

Tapi denganmu, aku belajar bagaimana mempercayai seseorang. 'Yakin. Yakin,' itu yang selalu aku tanam dalam hati ini. Bagaimana bisa aku tak percaya dengan orang yang mengajariku untuk selalu mempercayai orang? Aku percaya kepadamu, Aku menunggumu dan kan menyambutmu lembut.

Baik-baik di sana, jaga diri dan jaga kesehatan, lekaslah sembuh dan berjanjilah untuk kembali dalam bahagia. Semoga selalu terlukis senyum di wajahmu dan indah hari-harimu. Hadiahkan senyum untukku jika kelak kau kembali. Berjanjilah bahwa semua ini akan berlanjut hingga kita tua nanti. Biarlah semua ini menjadi cerita yang terbingkai indah kelak.

Aku sayang kamu, Aku rindu kamu.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya