Kala langit biru bergerombol menjadi jingga, aku menikmati sisa siang dengan penuh sesak tanda tanya. Kujawab sapaan rindu dengan sendu memandang potret ibu. Kemarin malam kudengar dan menikmati nada suaramu, namun hari ini, rindu menyapaku kembali.

Tersandar aku di dinding kamar dan asaku pun melayang. Seolah berjalan pulang mengetuk pintu lalu memelukmu penuh kasih sayang. Namun apa daya, semua hanya khayal ku. Nyatanya aku masih jauh dari genggamanmu. Jarak dan waktu berkesan pilu, seolah aku menimang rindu di pangkuan malam.

Advertisement

Bu, aku mulai bertanya. Apakah dewasaku palsu? Karena aku masih cengeng tertampar rindu. Apakah Tuhan memberikan jalan yang sama denganmu agar aku tau sulitnya kau dulu? Bahkan detak jam dindingku membuatku ragu apakah waktu benar-benar berlalu.

Tak pantas rasanya aku mengeluh. Aku jadi malu pada angka dua puluh yang tertera di identitasku. Sebagai anakmu aku tau, bahwa semua telah memiliki jalan sendiri bahkan kadang sangat berbeda dari perkiraanku semenit yang lalu. Namun apa daya Bu, aku memang sedang rindu.

Tanah rantau yang disebut-sebut sebagai tanah tempat orang dewasa lahir itu benar adanya, bahkan aku melihat diriku tak seperti empat tahun yang lalu saat berpisah denganmu. Bu, anakmu sedang menata rindu, menyusun masa depan, hingga siap untuk pulang kembali.

Advertisement

Berat rasanya jika tak kusyukuri, Bu. Seperti pesanmu, tiap waktu nanti akan ada rindu yang tak kuasa kau bendung. Akan ada sepi yang kusut dan sulit kau luruskan. Akan ada kasih yang berwujud namun tak kau lihat. Akan ada senyum yang akan kau samarkan dalam cita-citamu.

Bu, benar adanya itu. Telah kutemui mereka satu persatu. Lalu memberiku nilai dengan ragu ketika aku bercerita tentangmu. Anakmu ini hanya rindu. Ada potongan cerita demi cerita yang kusiapkan untuk kubagi dalam canda dan tawa bersamamu nanti di masa tua. Akan ada senyum dalam keriputmu, Bu. Akan ada hangat dalam dingin duniamu, akan ada pula sosok dia yang akan membantuku merawatmu.

Tenanglah bu. Jiwa yang kau kandung dulu beranjak tumbuh menjadi seperti yang kau inginkan. Walau aku tau baktiku sangat jauh dari kata cukup dan bahkan tak pernah bisa. Terima kasih, bu. Untuk kehidupan yang begitu layak kau beri padaku. Untuk restu dalam doamu dan untuk kasih yang tak pernah terduakan. Aku hanya mengabarkan dalam tulisanku. Mengikat senyummu dalam relung hati lalu kuingat hingga Tuhan berkata pulang untukku.

Terima Kasih Ibunda Tercinta

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya