Jadilah Dirimu yang Sebenarnya, Tak Usah Berpura-pura Lagi Mencintaiku

Kau datang di saat yang sangat tepat. Ya, di saat orang yang sangat kusayangi pergi entah kemana. Kau datang bagai do'a yang terkabul, bagai mentari yang dirindukan pagi, dan bagai bulan yang dirindukan malam. Aku dibutakan, dibutakan oleh keindahanmu, dibutakan oleh kesempurnaanmu, hingga aku lupa bahwa kau dan aku bagaikan langit dan bumi.

Advertisement

Kau meyakinkanku bahwa langit dan bumi bisa disatukan. Ya, air hujanlah yang menyatukan mereka, begitupula kita. Kau berkata bahwa cinta itu benar, tidak ada yang salah dengan cinta, dan aku percaya itu.

Hingga perlahan kuberanikan diri untuk meyakinkan diriku bahwa kau adalah orang yang tepat, kau bagai pengganti bintang saat bulan tak bersinar.

Sekian lama berlalu, hanya ada dirimu di dalam hatiku, kaupun berkata demikian. Aku sangat mencintaimu, lebih dari rasa cinta terhadap diriku sendiri. Semakin lama semakin aku yakin bahwa kamu adalah orang yang dikirim tuhan untuk melengkapi hidupku.

Advertisement

Sempat terfikir olehku untuk menjadi imam hidupmu kelak, hingga aku putuskan untuk berbenah diri, bekerja keras, dan memberikan yang terbaik hanya untukmu. Aku mencintaimu, mencintai keluargamu, mencintai apa yang kau cintai, dan mencintai segalanya yang menyangkut dirimu.

Tak terasa hari berganti hari, minggu berganti minggu, hingga tahun berganti tahun kita jalani ini bersama.

Advertisement

Kau tampak sedikit berubah, kau bagai menyimpan sejuta rahasia yang tak bisa kutanyakan.

Bertahun-tahun kusimpan ini semua, aku tak ingin membebani dirimu dengan pertanyaan yang mungkin tak penting untukmu, pertanyaan yang mungkin bisa merubah semuanya. Hingga suatu saat kuberanikan diri untuk bertanya kepadamu, "Apa ada yang salah?". Dan kau berkata, "Ya". Pada saat itu aku tidak berani menanyakan lebih jauh tentang hal itu, karena hatiku berkata bahwa aku belum siap sakit hati untuk kedua kalinya.

Perlahan kau menjauh, begitu jauh hingga tak dapat kurengkuh. Kau tersenyum sambil berkata "Maafkan aku untuk semua yang telah kulakukan padamu".

Pada saat itu, hatiku bagai tersambar petir. Apa yang pernah kita lakukan selama ini terbayang jelas pada saat itu.

Marah dan kesal adalah reaksi yang mungkin akan orang lain rasakan. Tapi pada saat itu, pertama kalinya aku tersenyum sambil menangis. Ya, aku hanyalah si bungkuk yang merindukan bulan, kau membangunkanku dari mimpi panjang ku.

Terima kasih karena telah berpura-pura menjadikan aku orang yang berharga, terima kasih telah berpura-pura mencintaiku, dan terima kasih untuk semua kenangan yang kau berikan.

Saat ini, aku hanya ingin kau menjadi dirimu yang sebenarnya, tak usah berpura-pura lagi mencintaiku.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement
loading...

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Pssstt, just call me Lizzie, i am a Public Relations Officer. Wanna share about things with me? just contact one of my social media accounts.

6 Comments

  1. Andi Jasmin berkata:

    ??

  2. Nivita Lindasari berkata:

    Mewakili hiks

  3. Thaufik Akbar Achdan berkata:

    join sekarang d bebas bayar , nikmati banyak keunggulan yg di berikan baik dari pembayaran listrik, tagihan cicilan,bpjs,pembelian pulsa dan msih byk lg tanpa pengurangan saldo yg kita deposit kan uang nya dpat kita nikmati sendiri dan dapat membantu keluarga or teman d sekitar kita membayar tagihanya tanpa perlu ngantri panjang lagi , dklick dlu baru komentar or join, http://www.bebasbayar.com/?b=1595b81e

  4. Kurnia Muhammad berkata:

    emang gitu juga ?
    senasib kita berarti
    hehehe

  5. Ririe Rizhuan berkata:

    Persis…!!! Gua banget…

  6. Fransisca Putri berkata:

    Persis 🙁

CLOSE