Sekiranya setiap kita ditanya tentang bagaimana kita memahami diri sendiri di saat berhadapan dengan perkara rasa dan asa, terutama yang berkaitan dengan persoalan asmara yang senantiasa menjadi prahara orang muda. Maka akan banyak rupa retorika yang lahir dari jiwa-jiwa yang rapuh demi menunjukkan eksistensinya di hadapan dunia. Orang perlu mengetahui bahwa ia tengah merindu dalam nestapa, bergelimang derita dalam rasa, hingga memusnahkan asa yang harus dibangun di tengah pergolakan dunia yang sejatinya semakin mengecil seiring bertambahnya usia.

Bukan hendak meniadakan sisi romantis di dalam hidup, atau bersikap sinis kepada mereka yang suka beretorika dengan derita, menyulam narasi dengan cerita penuh luka hingga memperlihatkan betapa nelangsanya merindu dalam cinta yang buta. Akal budi tiada penting, sebab, perkara itu hanyalah tirani yang menghambat untuk memahami cinta yang sesungguhnya. Cinta tidak butuh logika katanya, namun buktinya cinta tanpa logika membuat orang kehilangan akal, larut dalam derita tanpa henti, meskipun ia merasa berada di dalam keindahan yang melenakan.

Advertisement

Berbicara mengenai derita, semua orang lahir dengan beban derita yang ia pikul hingga akhir hayat. Derita akan prahara dengan dirinya sendiri, hingga derita yang lahir dari kehalusan perasaan saat menguatnya kepedulian kepada sesama. Derita adalah sudah menjadi bagian dari amanah kehidupan yang dipikulkan kepada Tuhan guna diselesaikan untuk mencapai martabat manusia yang sesungguhnya.

Tuan-tuan harus menyadari bahwa memahami setiap derita yang dialami harus lebih dahulu dilakukan ketimbang memberitahukan kepada orang lain bahwa kita tengah menderita dengan kehidupan dijalani saat ini. Apakah itu derita karena cinta yang tidak menemui tuannya, disakiti dengan sedemikian rupa, dikhianati dalam sunyi, atau yang lebih parah ditinggalkan luka menahun yang bahkan dipelihara hingga akhir hayat. Tuan-tuan harus memahami itu semua, agar semua prahara tersebut mampu diselesaikan dengan baik, dan kemudian mencapai manusia yang dewasa.

Sekiranya, derita hanya komoditas belaka guna menarik kepedulian orang lain. Maka sadarilah bahwa bukan kita saja yang menderita di dunia ini. Bahhkan, jika kita terus-terusan memelihara hal yang demikian, maka kita akan hidup sebagai orang berpenyakitan yang bisa saja menjadi sebab lahirnya  derita bagi orang lain.

Advertisement

Persoalan rindu mungkin bisa menjadi perbualan yang indah. Kita bisa menghabiskan waktu yang cukup banyak untuk merasakan keindahannya, meramu kata demi kata dan menyuarakan kepada orang lain bahwa ini adalah keindahan hidup yang sesungguhnya. Namun, sadarkah kita bahwa semua itu hanyalah bentuk retorika yang melahirkan perkara omong kosong belaka?

KIta tengah meratap dalam rindu, mengurai cerita demi cerita tentang kekasih yang jauh di sana, atau berfantasi dalam asa sebab sosok yang akan dirindukan itu belum menunjukkan keberadaan yang sesungguhnya. Lantas, apakah dunia akan memusatkan perhatiannya kepada kita? Atau menawarkan pundak sebagai sandaran sementara hingga rindu itu tertuntaskan? Tidak! Semua kita memiliki nestapa dengan rindunya masing-masing, dan ingatkah kita dengan  ungkapan terkait  butiran debu? Karena sesungguhnya itu benar, bahwa kita dan kerinduan kita ini hanyalah debu yang tiada artinya dibandingkan dengan kehidupan yang sesungguhnya. Ah, sudahlah simpan sendiri dan mulailah untuk menertawakannya.

Syahdan, apakah dengan menerapkan cara berfikir seperti ini, kita kehilangan sisi romantis di dalam hidup kita? Dianggap sebagai manusia tak berperasaan dan bahkan bisa saja dianggap si kepala batu yang hidup di dalam kesuraman? Tentu saja tidak, sebab romantisme itu tidak berbicara mengenai cerita dan derita, serta ungkapan-ungkapan indah yang berusaha mengungkapkan betapa indahnya dalam membangun asa dan rasa. Kita cukup berusaha lebih tenang, membangun cinta yang sesungguhnya dan menjadikannya mengalir laksana mata air dengan kandungan mineral tinggi, memberikan kehidupan tanpa harus merapuhkan kehidupannya sendiri.

Cinta memiliki “Maqam-maqam” yang harus ditempati oleh para pecinta yang mengedapankan romantisme. Jika rindu adalah jalan serta derita adalah tantangan, maka sudah sepatutnya ia melalui semua itu dan menaklukkannya sehasta demi sehasta. Bukan membangun cerita derita yang menarik simpati barang sedikit, dan kemudian ditertawakan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya