Jarak Diciptakan Tidak Hanya untuk Memberikan Ruang Pada Rindu, Tetapi Juga Kesetiaan

Semakin banyak aku bertemu dengan orang lain, semakin aku yakin bahwa tidak ada yang bisa menggantikan dirinya di hatiku

Bagiku, jarak diciptakan tidak hanya untuk memberikan ruang pada rindu, tetapi juga kesetiaan. Tahun 1993, tahun pertama Tuhan menciptakan jarak untuk aku dan dia. Yogyakarta menjadi tempatku dilahirkan, sedangkan Jakarta adalah kota tempat dirinya dilahirkan. 18 tahun sudah kami melewati perjalanan hidup di kota masing-masing. Kini, saat ditakdirkan bersama, aku sadar bahwa Jarak diciptakan untuk mempertemukan kami yang sudah terpisah selama 18 tahun lamanya.

Advertisement

Jogja dan 0 km

Kota ini menjadi cukup spesial karena disinilah kami dipertemukan, tepatnya di tahun 2011 silam. Keramaian orang-orang ketika masa registrasi mahasiswa baru sama sekali tidak mengalihkan pandanganku dari tatapan mata dan senyum lembutnya.

Sembari berharap bahwa dia memang datang untuk mengisi hari-hariku kelak. Tiga Oktober di tahun yang sama mungkin menjadi pembenar bahwa Tuhan telah memangkas jarak 521 km di antara kami. Aku bersyukur bahwa 0 km ternyata cukup menyenangkan, sebelum waktu merampas kembali 0 km yang telah kami miliki.

Advertisement

Selamat Tinggal 0 km, Selamat Datang Kembali 521 km

2015, tepat di tahun kelulusan, waktu benar-benar merenggut 0 km yang kami miliki. Selamat datang kembali 521 km, ujarku. Selama 1 tahun, setidaknya beberapa kali aku berkunjung ke Jakarta sekedar untuk melepas kerinduan yang rasa-rasanya semakin hari semakin tak tertahankan. Dalam kurun waktu itulah, dia juga sedang berjuang mengepakkan karirnya.

Advertisement

Sedangkan aku hanya hanyut dan berkutat pada ketidakjelasan masa depanku. Meski begitu, aku bersyukur bahwa di dalam masa-masa gelapku, Tuhan telah memberikan jawaban kepadaku untuk melanjutkan studi.

Berat, tetapi itulah realita yang harus aku hadapi ketika memutuskan untuk menerima tawaran beasiswa. Akulah yang membuat jarak itu semakin jauh. Dari 521 km menjadi 5293 km. Akulah juga yang membuat dirinya harus menetaskan air mata. Bandara tentu menjadi saksi bisu beratnya kami untuk saling berpisah selama 18 bulan.

Sebagai gantinya, aku berjanji akan memberikan pencapaian-pencapaian luar biasa yang kelak bisa kupersembahkan untuknya. Dia yang rela menungguku pulang dalam waktu yang tidak sebentar.

5293 km: Tentang Tteobokki dan Ski

Berat rasanya ketika tubuhku ini harus menghadapi 4 musim yang berbeda. Tanpa kehadirannya, aku sama sekali tak bisa merasakan hangat di kala musim dingin dan menikmati sejuknya hari-hari di musim panas. Melihat langsung cherry blossom di musim semi dan bergantinya warna daun di musim gugur memang menyejukkan mata. Namun keindahan itu semua masih kurang terasa lengkap tanpa kehadirannya di tempat dimana aku tinggal sementara.

Terpisah sejauh 5293 km, jarak telah mengajarkanku bahwa kelak ketika aku ditakdirkan untuk hidup bersama, aku akan menjadi pasangan yang baik untuknya. Setiap malam dia menemaniku memasak dan menyantap hidangan yang sudah kubuat sendiri. Mengharukan rasanya membayangkan aku bisa memasak hidangan yang bisa dinikmati bersama hingga dia berkata, “Ini enak!”

Entah mengapa, kata tteobokki dan ski menjadi 2 kata favorit yang tak bisa dihapus di dalam memori kenanganku hingga saat ini. Dia selalu cemburu ketika aku dengan sombongnya memamerkan tteobokki kepadanya. Begitu juga ketika dengan bangganya aku menunjukkan kebolehanku bermain ski.

Tteobokki dan ski terasa begitu spesial bagiku karena keinginan besarnya untuk bisa menikmati 2 hal itu bersamaku kelak. Akan ada saatnya nanti aku benar-benar bisa menikmati hangatnya tteobokki dan bermain ski bersama di tengah guyuran salju yang lembut di rumah keduaku, Korea Selatan.

7711 km : Aku Datang, Kamu Pergi

Sore itu, 7 Maret 2018, burung besi biruku mendarat mulus di Cengkareng. Pemandangan matahari terbenam yang terlihat manis dari Terminal 3 tidak berarti semanis jarak antara diriku dan dirinya. Kedatanganku kala itu tidak otomatis membuat jarak menjadi 0 km karena ternyata dia sedang berjuang keras di Surabaya untuk mendapatkan tiket studi ke Selandia Baru. Aku sama sekali tak keberatan dengan rencananya itu karena dahulu dia juga telah memberikanku ruang dan kesempatan untuk menjelajahi Negeri Gingseng.

“Tunggulah aku di Jakartamu, tempat labuhan semua mimpiku”. Lirik lagu itu seakan mengingatkanku tentang apa yang akan kuhadapi setelah kembali ke Yogyakarta. Mimpi untuk membangun karir dan menghampiri kekasih hatiku. Tuhan baik karena Dia telah memberikan jalan setelah aku berhasil mendapatkan karir di kota itu. Di sisi lain, mimpiku yang lain harus tertunda karena justru Tuhan menakdirkan hal yang lain. Aku datang, dia pergi. Bahkan pergi ke sebuah tempat yang lebih jauh. Dahulu yang hanya berjarak 5293 km, kini menjadi 7711 km. Selamat datang kembali jarak!

Itu membuatku berat karena di saat aku datang, justru dia yang pergi jauh meninggalkanku. Berat karena selisih waktu kami tidak lagi 2 jam, tetapi 5 jam, dan bahkan menjadi 6 jam pada bulan-bulan tertentu. Komunikasi pun terhambat karena aku disibukkan dengan pekerjaan dari pagi hingga sore, sedangkan di waktu malamku tiba, dia sudah terlelap tidur melepas penat setelah menjalani perkuliahan, dan bahkan bekerja paruh waktu hingga malam. Sebuah perjuangan yang tidak mudah tentunya.

Jarak Mengajarkanku

Hingga tulisan ini dibuat, masih tersisa 12 bulan lagi untuk kami terpisah sejauh 7711 km. Aku sadar bahwa jarak yang selama ini ada justru membuatku semakin kuat dan mandiri untuk menghadapi berbagai hiruk pikuk permasalahan hidupku. Meskipun secara fisik kami tidak bersama, aku merasa segala permasalahan yang muncul bisa terselesaikan.

Kami adalah solusi. Aku menjadi solusi bagi dirinya, dan dia menjadi solusi bagiku. Bukan menjadi beban apalagi penghalang tujuan masing-masing. Aku tak menyesal jika harus menikmati theater, konser musik, ataupun hanya untuk sekedar makan malam sendiri karena cepat atau lambat, kesendirianku akan segera pergi.

Terlepas dari semua perjalanan hubunganku dengan dirinya, aku berterima kasih kepada jarak. Bagiku, jarak telah mengajarkan arti kesetiaan. Sejak kali pertama jarak menghampiriku, tak pernah terbesit di pikiranku untuk membuka hati bagi orang lain. Semakin banyak aku bertemu dengan orang lain, justru semakin setia aku dengan dirinya yang jauh disana. Karena bagiku tak ada senyum orang lain yang seindah senyum dirinya, tak ada tatapan mata orang lain yang setulus tatapan matanya, dan tak ada sifat kekanak-kanakan orang lain yang selucu dirinya.

Terima kasih jarak karena telah membuat kami semakin kuat menghadapi masa yang akan datang. Terima kasih karena telah memberikan kami kesempatan untuk saling memantaskan diri dan berjuang di jalan masing-masing sebelum kami dipertemukan kembali olehmu. Kelak, akan kuceritakan kembali kepada dunia tentang luar biasanya rasa cinta dan sayang yang dibentuk oleh jarak.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

CLOSE