Dalam sebuah ruangan dengan dipenuhi perangkat komputer kala itu saya membuka beberapa laman di internet. Kebetulan mata pelajaran saat itu adalah Teknik Informatika. Sesekali curi kesempatan untuk berselancar di dunia maya.

Saat itu pula musim musimnya mendekati peralihan semester. Bedanya, semester itu adalah semester akhir dibangku sekolah untuk saya. Seperti kebanyakan siswa lainnya, saya pun mulai mencari perguruan tinggi untuk mengubah status siswa saya menjadi mahasiswa. Mayoritas teman kelas memang memilihi melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Pertimbangannya pun beragam, ada yang memang sudah bermimpi untuk masuk kampus impian, ada yang bercita cita untuk mendapat pekerjaan dengan status lulusan jurusan, maupun hanya sekedar ikut ikutan teman.

Advertisement

 Maka mulailah saya memilih dan memilah perguruan tinggi mana yang akan saya jadikan tujuan. Pilihan pertama saat itu perguruan tinggi ternama diluar daerah saya. Dengan jurusan yang sepertinya menjadi hobi saya (atau tempat main?) yaitu Teknik Informatika.

Layaknya kebanyakan orang yang ingin mendapatkan pendidikan terbaik, saya pun demikian menjatuhkan pilihan pada yang terbaik. Tinggal menunggu apakah status akademis memenuhi syarat untuk diterima sebagai mahasiswa disana. Kala itu jalurnya pertama adalah SNMPTN, jalur khusus yang membuat kita tak perlu ujian masuk untuk lulus.

Singkat cerita, akhirnya saya memilih fakultas lain. Pertanian namanya, terkesan agak tradisional namun tidak juga sebenarnya. Sebagai informasi, saya tidak lulus dalam SNMPTN. Masuklah saya ke kampus hijau (katanya) dengan pengetahuan tentang ilmu bertani agak rada rada. Tentu bukan tanpa alasan kenapa saya memilih Fakultas Pertanian sebagai pilihan alternatif.

Advertisement

Ketika melihat laman pendaftaran online, ketika itu saya terpikat dengan akreditasi yang terkesan layak untuk ditempati. Dengan rasa bangga plus keikhlasan menerima kenyataan, saya akhirnya terdaftar menjadi mahasiswa pertanian. Dan juga tetap di daerah asal.

Semester pasti berlalu. Mendekati semester akhir, banyak dari mahasiswa sudah mulai merencanakan pekerjaan untuk masa depan. Sebagai mahasiswa pertanian tentunya pekerjaan paling tidak tidak terlalu jauh dari yang namanya tanaman. Begitu awal pemikiran saya, dengan melihat rata rata nilai semester dan pengetahuan akan pertanian yang sudah mulai berkecambah, saya masih kurang yakin kerja dibidang pertanian. Secara langsung dan praktik sebenarnya. Bagaimana tidak, perbandingan antra berapa kali mengunjungi lahan atau kebun percobaan tak lebih banyak daripada membuka laptop untuk melakukan aktivitas lain.

Sepertinya hobi, sebutlah begitu, tentang teknik informatika masih pekat ada dalam kesehariaan. Mengerjakan desain berbagai tugas ataupun pesanan terkadang jadi sesuatu yang lebih menyenangkan dibanding menghitung pupuk dalam takaran. Begitu pula dengan hobi menulis yang kembali muncul ke permukaan. Sejarah sama dengan TI, menulis sesuatu juga dimulai waktu kecil.

Ketahuilah, tulisan saya saat itu jauh dari kata berbobot lebih mendekati kesesatan pemikiran. Tapi tanpa disadari, menulis juga merupakan kegiatan yang setidaknya dapat saya lakukan tiap saat. Tak hanya disebuah buku tulis, sebuah laman status medsos juga kadang jadi panggung untuk mengkespresikan pemikiran.

Meski tidak terlalu intens sehari selembar ataupun satu tulisan, tetapi menulis kadang menjadi oase dikala rutinitas kegiatan. Tak disangka ternyata sudah banyak tulisan yang sudah saya hantarkan ke dunia luar. Baik itu dalam medsos atau media lain. Pengaruh nyata pada tulisan saya awalnya adalah karena fluktuatifnya perasaan. Alhasil, begitu banyak tulisan yang mendayu dayu mencambik perasaan. Selanjutnya kadang saya menulis hal mengenai isu terkini dan bahkan tulisan tentang motivasi.

Singkatnya, tulisan yang saya kembangkan jauh lebih banyak daripada catatan perkuliahan. Satu buku yang saya beli dapat menampun beragam materi selama 3 semester. Dimana kebanyakan orang sudah mulai bergonta ganti lembaran buku, saya masih tetap setia dengan buku yang sudah bersemester semester menemani, bahkan masih ada ruang kosong untuk diisi.       

Dalam tulisan juga ada beberapa yang menghasilkan pendapatan. Sehingga menulis seolah menjadi cara baru untuk mendatangkan uang bagi saya tanpa perlu pergi ke ATM. Pertanian yang seharusnya bisa menjadi ladang usaha, malah hanya sebatas dibangku perkuliahan saja. Ya, tetap tabah menjalani semester demi semester. Tapi jangan salah, ilmu bertani tetap bisa saya perlihatkan meski tak terlalu hebat seperti petani di desa kebanyakan.

Jurusan, kuliah dan pekerjaan. Ketidakseragaman malah yang didapatkan. Satu dengan yang lain bertolak belakang, hanya sedikit garis singgung yang diperlihatkan. Namun, perjalanan kedepan masih sangat panjang. Entah jurusan atau hobi yang menjadi daya pikat pekerjaan. Terpenting jalani apa yang kini dan sekarang, toh masih bisa saling beriringan. Urusan masa depan tergantung juga adalah buah dari masa sekarang.

           

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya