Terkadang aku masih ragu dan bertanya-tanya mengenai apa yang kau sebut dengan keseriusan. Mungkin anggapmu semua itu akan berjalan sesuai kemauanmu dan aku, tapi nyatanya tidak bagiku. Aku terkekang oleh semua aroma manis janjimu. Kadang aku berpikir, apa benar kau sungguh-sungguh mencintaiku? Atau mungkinkah perasaan itu hanya tumbuh subur diawal, dan layu seiring berjalannya waktu, seperti bunga mawar yang dicabut dari akarnya dan didiamkan dalam lemari pakaian. Kau pikir bunga mawar itu akan tetap mewangi, tapi nyatanya ia membusuk dimakan waktu.


Kuharap, cintamu tak seperti itu. 


Advertisement

Seharusnya sejak awal kau tak ucapkan semua janji itu, agar aku tak tergoda dan melahap abis ucapanmu. Agar aku tetap memiliki pendirian di atas sikapku yang krisis akan pendirian. Kuakui, komitmen itu tetap berjalan hingga detik ini, tapi sikapmu yang seolah masa bodoh membuatku menyimpan pertanyaan besar dan mendalam. Lalu mengapa aku masih berdiam diri? Jadi segini saja keberanianku, mengungkapkan melalui tulisan yang tak pernah kau sentuh, apalagi kau baca. 

Katakan, apakah aku bodoh? Atau takdir yang sedang mempermainkan jalan hidupku? Berbicara soal keadilan, semua ini memang tak adil bagi siapapun, termasuk diriku yang kalian anggap bahwa aku adalah orang yang paling bahagia, karena aku berhasil menyakiti hati orang yang tak bersalah. 

Banyak hal yang kau sembunyikan dariku. Cukuplah kau mengajariku bersandiwara, tapi jangan kau jadikan dirimu pelakon di hadapanku. Berjanjilah untuk selalu menganggapku ada, tepatilah untuk selalu mengakuiku di hadapan fana kehidupan sekalipun. Karena itu yang aku butuhkan. 

Advertisement

Sejak lama, aku selalu menerima penolakan dan tak pernah diakui. Lalu mengapa kau memperlakukan hal yang sama, sesuatu yang menjadi mimpi buruk dalam hidupku. Mungkinkah hidup tak seberpihak ini. Jika jalan kita sudah tak lagi sama, mengapa kita masih memilih berdiri di tengah persimpangan dan tak berjalan ke arah yang kita pilih masing-masing?.. 

Mengapa kau membuat tabir dan menutupi jalan yang seharusnya ku tempuh. Jika prinsip dan aksi kita tak lagi sama, mengapa kau membelengguku dengan semua situasi yang kau sebut dengan penderitaan. 

Kita sama-sama berkeluh kesah, meresahkan pesakitan masing-masing. Kita berlomba-lomba memamerkan penderitaan, dan berharap bisa memenangkannya dalam pertengkaran menyedihkan ini. Kalau bukan karena satu alasan, mungkin kita sudah mengakhiri penyiksaan ini. Tak terhitung lagi butir air mata yang menetes, yang airnya bisa mengguyur tubuh ringkih yang tertutup pakaian. 


Terlalu dalam kau buat kubertahan, meskipun ku tau ini menyiksaku. 


Sampai kapan aku bersandar pada ketidakpastian. Haruskah kau melelapkanku ke dalam penderitaanmu. Bahagiakah kau melihatku menangis, senangkah kau melihatku menggeliat dalam lumpur ketidaknyamanan. Kurasa sampai detik ini aku hanya bisa menyalahkan diriku sendiri, mencoba menyalahkan kebodohanku.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya