Hai, kamu seseorang yang tidak menggetarkan hatiku di saat pertama bertemu, yang tidak membalas senyumku di saat aku menatapmu tapi dengan bodohnya tanpa seizinmu aku justru menjatuhkan hatiku padamu. Bukan hanya itu kebodohan lain yang aku lakukan adalah tetap mempertahankan rasa itu di waktu yang sangat tidak tepat saat kau sudah memberikan hatimu untuk yang lain. Yup benar, untuk “orang lain” bukan untukku.

Jika banyak orang berkata bahwa mereka sedang berdebat dengan hati dan pikirannya. Lalu bagaimana denganku? Aku adalah orang bodoh yang saat ini sedang berdebat bukan hanya dengan hati dan pikiran tapi dengan sesuatu yang dianggap kekal di dunia ini yaitu waktu.

Advertisement

Kenapa kamu yakin kalau dia yang terbaik untukmu? Dia hanya seseorang yang lebih dulu kau kenal yang beruntung bisa menahan waktuku untuk bertemu denganmu. Apa hatiku salah karena telah menjatuhkannya padamu?. Aku rasa tidak. Dan entahlah apa pikiranku tepat untuk tetap membiarkan hati dan waktu mengalahkanku hanya untuk memperjuangkanmu. Sampai saat ini aku tidak menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu.

Kamu selalu menyadarkan aku bahwa khayalanku terlalu tinggi untuk bisa bersamamu kelak. Kamu selalu berkata "kamu tidak mungkin bersamaku", "kamu tidak mungkin bisa lebih baik dari dia", dan semua ketidakmungkinan yang selalu kamu katakan berulang kali dan terus teringat di saat bayanganmu hadir.

Aku orang yang tangguh. Kalau dia bisa merebutmu dari masa lalumu, kenapa aku tidak? Apa ada yang salah denganku? Bahkan aku yakin bisa lebih membahagiakanmu dibandingkan dia. Aku tidak peduli karma, biarlah di saat aku mengagumi dari jauh di saat aku merindukanmu dalam diam yang akan menjadi karma baik dan buruk yang selalu aku nikmati.

Advertisement

Dari semua ketidakmungkinanmu, aku punya satu kata yang selalu menyemangati dan merubah itu menjadi hal yang mungkin. Ya perkenalkan dia adalah "semoga" 

Hanya dia yang ada dipihakku sekarang dan harapanku satu-satunya di saat orang lain menjauhkanku padamu dan kamu yang selalu meruntuhkan semua harapanku.

Setiap aku mengangkat kedua tanganku saat menghadap kepada-Nya untuk berkeluh kesah, kau tahu? Aku akan menjadikannya sebagai kata kunci dan berkata "Semoga kelak kamu bersamaku", "Semoga kamu tahu kalau aku lebih baik dari dia". Aku berharap saat kau mendengarnya kau bisa berkata ‘amin’ bersamaku.

Aku percaya tangan-tangan kecil-Nya bisa menjawab ‘semoga-semoga’ku yang aku ucapkan setiap harinya. Aku yakin perjuanganku tidak sia-sia. Sampai nanti akhirnya kamu sadar kalau kamu adalah jawaban dari doa atas ketidakmungkinan yang aku semogakan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya