Artikel merupakan kiriman dari pembaca Hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Jatuh cinta terasa asing. Setidaknya, bagiku.

Advertisement

Sebelumnya, kukira aku telah jatuh cinta berkali-kali. Seseorang bilang, mempertahankan sesuatu adalah takaran kesetiaanmu, dengan makna bahwa kamu menjatuhkan cinta setiap kali bersama kekasihmu.

Tapi ternyata, jatuh cinta memang asing.

Advertisement

Pertama kali bertemu kamu, aku tidak tahu. Datar. Hanya laki-laki biasa yang terkadang kelewat ingin diperhatikan wanita, yang tertawa bahagia setiap kalinya, dan menyukai Manchester United terlalu besar. Sama sekali tidak terpikirkan bagaimana, dan kenapa, Tuhan menulis naskah-Nya yang begini bagiku. Di hari drama besar ini dimulai, aku hanya bisa diam dan mengikuti alurnya.

***

Kalau langsung melompat kepada inti kisahnya, ayo percepat saja. Maka bertemulah pada suatu pagi, di mana aku menangis lagi, enggan kembali menahan-nahan yang tertahan selama ini. Aku memilih patah hati dari dia yang menahun; aku memilih mematahkan hatiku sendiri, setelah sekian lama kutambal berkali-kali. Aku memilih menyelamatkan diriku sendiri, lalu berjalan sendirian.

Bisakah?

Berat. Ada banyak pertanyaan yang serta-merta dialamatkan ke telingaku. Ada banyak kepala yang menggeleng tidak setuju. Ada dahi yang berkerut-kerut penasaran.

Tapi, ada lebih banyak yang mengangguk. Ada lebih banyak yang memaklumi dan menepuk punggungku; mengerti. Ada banyak yang menawarkan bahunya, seakan berkata "Tidak apa-apa". Yang mengenalku, tersenyum lebar. Yang memahamiku, menolak ide bagiku membalas dendam.


Cinta, kata mereka, adalah memberi kebahagiaan. Bukan keragu-raguan.


Maka, aku menahannya: keinginan untuk meluap-luap. Amarah itu besar, rasanya bahkan sampai sekarang aku bisa terbakar. Tapi ada banyak yang menahanku, lalu memintaku duduk dengan tenang. Kalau aku seperti nasi putih yang baru matang, pastilah uapnya membumbung tinggi. Seseorang yang sekian lama dikenal, berubah menjadi musuh dalam sehari. Atau, akulah musuhnya. Bagaimanapun, kejujuran selalu menyakitkan. Dengan susah payah, aku berani jujur pada diriku sendiri untuk pergi.

Jadi, aku berjalan dengan lega. Lepas.

***

Saat itu, aku sudah mengenalmu. Saat aku pergi dari hati yang pernah kujaga erat-erat, aku telah mengenalmu. Saat aku memutuskan bahagia dengan caraku sendiri, aku telah mengenalmu.

Saat itu, aku dibencinya. Bagi sebagian orang, kita adalah penjahat dalam romansa. Baginya, kita adalah sepasang burung yang menggigit sayap kawannya. Lucu, betapa besar bicara orang, manakala ia tidak tahu apa yang telah kita lewati begini. Kalau saja rasaku sekian lama terbaca pada matanya, aku berani bertaruh aku tak akan meronta meminta udara.

Aku hanya meneruskan langkahku berjalan menjauh. Tanpa rencana apapun, pada siapapun.

Lalu Tuhan seperti mengatur segalanya.


Dan aku, mengenal kamu lebih baik.


Ya, dimulailah roda yang berputar. Aku tidak tahu ada arti yang dalam dari senyum yang kamu berikan tiap pagi. Aku tidak tahu kalau kamu tidak bercanda mengajakku pergi menikmati senja. Aku tidak tahu caramu berbicara sedikit berbeda suatu hari.

Aku juga tidak tahu kenapa suatu hari kita pernah bertakdir pergi berdua.

Tidak, bukan kencan yang memabukkan; hanya urusan kantor dan kurang dari 15 menit. Kamu berkata, aku tidak perlu khawatir. Kegiatan yang konyol itu sedikit terasa romantis dengan kata-katamu. Tapi, tetap saja, bagiku kamu hanyalah teman kerja yang biasa saja.

Kemudian, malam itu. Eyeliner yang kupakai mulai luntur, meninggalkan noda hitam menyebalkan hingga bawah mata. Kamu duduk di sana tidak sengaja, dengan senyum ingin tahu yang menyebalkan. Tiba-tiba saja, kita berbincang panjang lebar.

Tentang kamu. Tentang kamu dan ayahmu. Tentang kamu dan mimpimu. Tentang kamu dan masa lalumu. Tentang aku. Tentang aku dan keinginanku. Tentang aku dan segala yang mengganjal.

Bahkan kamu bertanya-tanya sendiri, kenapa kita jadi berbicara sebegitu lamanya. Aku tertawa. Lalu pulang ke rumah, meninggalkan waktu terpanjang pertama kita.

***


Tuhan itu Maha Unik, ya?


Padahal, perkenalanku denganmu biasa saja berbulan lalu. Hanya salaman yang ringan, diikuti masa di mana kamu memperkenalkanku pada seluruh anggota tim. Sama sekali tak terpikirkan bahwa berbulan kemudian kamu akan menjadi bagian dari napasku sendiri.

Masih ingat ajakan acakmu di tempat parkir? Atau ketika kamu tiba-tiba berkeras menemaniku makan sore hari? Atau mungkin, waktu pertama kali kita pergi makan bersama untuk bertemu partner kerja luar kantor?

Aku ingat. Aku ingat semuanya.

“Perkenalkan, ini editor baru kami.”

Aku ingat kamu memperkenalkanku pada mereka yang sudah lama bekerja lepas di bawahmu. Kamu memintaku menemanimu datang bertemu sampai berjarak 30 menit perjalanan. Aku bergabung duduk sambil mendengar arahanmu pada mereka. Di mataku, kamu masih hanya sebatas senior kerja yang banyak pengalaman.

Lalu pada beberapa obrolan mendadak. Dari kursi yang bersebelahan hingga berhadapan, kamu tersenyum begitu lebar. Pun, aku ingat saat masih baru tiba di lingkungan pekerja ini, tapi sudah mengajukan keberatan atas sebuah naskah. Semua orang menyarankanku untuk diam dan pasrah saja, tapi kamu menenangkanku dan bilang bahwa aku boleh mengirimkan versiku padamu. Supaya lega, katamu. Tahukah kamu? Kalimat itu menjadi hal paling manis yang kudengar hari itu.

Lalu kepada anak tangga yang diam saja saat kita turun berdua di waktu pulang, aku bertanya-tanya: apakah mereka merasakan sesuatu? Kamu masih hanya sebatas partner kerja yang baik hati, maka aku tidak menjauhimu. Ada masa di mana kita bicara lalu diam dalam-dalam, kemudian katamu, “We really need to have a time to talk. Just the two of us.”

Sebenarnya dalam hati, aku mengangguk setuju.

Tapi aku tidak benar-benar bergegas mengangguk di hadapanmu.

Aku ingat aku berkeras menolak semesta yang mendorongku padamu. Aku tertawa sendiri melihat gayamu melucu, lalu bertanya-tanya apa sebenarnya maksudmu. Entah Tuhan sedang mengujiku atau ingin mempertemukanmu padamu, tapi segalanya terasa berjalan dengan santai dan tanpa paksaan.

Tapi memang begitu adanya. "Suatu hari" yang jadi batasnya mulai muncul suatu waktu. Aku jatuh cinta pada hari di mana kamu menunduk sedih dalam-dalam. Aku jatuh cinta pada hari di mana kamu tampak terganggu sesuatu. Aku jatuh cinta pada hari di mana kamu meminta Tuhan untuk memberimu jiwa yang luar biasa besar. Aku jatuh cinta pada caramu bercerita dan mendengar. Aku jatuh cinta pada ajakan makanmu yang tiba-tiba dan kemampuanmu menghafal nama jus kesukaanku.


Aku jatuh cinta pada betapa "manusianya" kamu.


***

Kamu bilang, kita berbeda. Sekarang aku mengamini fakta: perbedaan inilah yang menjadikan kamu dan aku indah. Seperti katamu suatu malam padaku, “Kamu tahu? Seseorang mungkin sekali membutuhkan orang yang sangat berbeda untuk melengkapinya.”

Aku tahu. Aku merasakannya.

***

Sayang, tahukah kamu?


Kamulah alasanku jatuh cinta.


Bahkan, kamulah definisi jatuh cinta itu. Aku tidak serta-merta menemukan diriku padamu, tapi aku jelas melihat kepingan paling besarku ada padamu. Kamu adalah kata tidak dan iya yang menjadi satu. Kamu adalah realita paling terang yang menjelaskan tujuanku. Kamu adalah bahagia yang sekali-sekali dirundungi sedih. Kamu adalah sempurna sekaligus kekurangan yang bertemu dan bercinta.

***

Jatuh cinta awalnya terasa sangat asing bagiku.

Tapi denganmu, aku melihat cinta yang merengkuhku dalam-dalam.

Dan bagiku, itu lebih dari sekadar cukup.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya