Kutulis ini setelah kita putus. Ya, saat ini aku hanya ingin memberitahukan kisah kita dulu, sebelum akhirnya jarak mengakhiri hubungan kita.


Aku mengenalmu saat kita kuliah di universitas yang sama. Aku yang jutek dan terlihat pendiam di mata orang yang baru mengenalku, berhasil membuatmu penasaran.


Advertisement

Kamu menegurku, hanya kamu yang berani melakukan itu secara langsung. Kemudian tak sengaja kita mengobrol di kelas, selama mungkin hampir 3 jam nonstop. Tidak bergerak dari posisi kita masing-masing saking serunya obrolan kita. Padahal yang kita obrolkan cuma cerita masa lalu yang kita tertawakan bersama. Kamu bercerita tentang orang yang sedang kamu sukai. Aku mendukungmu karena aku merasa menemukan sahabat laki-laki yang kucari sejak dulu.

Tapi entah kenapa kita semakin dekat, berkomunikasi lebih intens dari biasanya. Sampai akhirnya kita jadian. Ya, jadian. Kamu yang pernah diselingkuhi oleh mantanmu membuatmu menjadi seorang yang curigaan. Awalnya aku mencoba mengerti dan berusaha sebisa mungkin untuk tidak membuatmu curiga.

Hari demi hari kita lalui bersama, manis di awal pacaran dan pahit nya pertengkaran. Kusadari setiap pertengkaran kita dikarenakan landasan awalmu yang tidak bisa percaya pada orang lain. Tapi karena kita selalu bertemu setiap hari membuat hubungan kita tetap bertahan. Kita tidak bisa berlama-lama saling mendiamkan. Jika sudah bertemu, seolah semua masalah perlahan-lahan menghilang dengan sendirinya.

Advertisement

Tak terasa kita akan diwisuda. Di hari wisuda itu pun kita bertengkar. Saling mendiamkan. Kamu yang takut kedepannya kita akan jarang bertemu mendiamkanku. Kita duduk berjauh-jauhan. Tetapi setelah itu kita bertemu kembali dan seolah melupakan pertengkaran itu. Kita bersama-sama berjuang mencari pekerjaan. Melamar pekerjaan bersama dan gagal berkali-kali bersama.


Tapi hal itu tidak membuat kita menyerah, malah saling menguatkan, dan mendukung satu sama lain. Sampai akhirnya kamu diterima bekerja duluan. Kamu memberikan pengertian dan tetap menyemangatiku. Lalu kamu berhenti dan mencoba mencari pekerjaan lain sampai akhirnya kamu diterima di tempat lain yang lebih baik.


Kamu menjalani pelatihan di kota lain. Ini pertama kalinya kita terpisah jauh. Lalu aku pun diterima bekerja di kota yang lain. Sehingga membuat aku dan kamu mengadu nasib di kota orang meninggalkan kota kelahiran kita, kota yang mempertemukan kita, kota yang menyatukan kita berdua.

Setelah pelatihan kamu sempat mengunjungiku, walaupun hanya pertemuan singkat itu sangat berkesan buatku. Namun setelah kamu kembali ke tempatmu, hubungan kita semakin merenggang. Kita yang dulu hampir setiap hari bertemu, sekarang tidak bisa bertemu karena jarak. Seringkali kita merencanakan untuk mengunjungi satu sama lain, tapi batal karena kesibukan masing-masing. Hingga akhirnya kamu sering mengucapkan kata putus.

Kamu semakin tidak bisa mempercayaiku yang tinggal jauh. Kamu sangat takut aku akan selingkuh disini. Kamu tidak menghubungiku berhari-hari sejak saat kamu memutuskan hubungan. Tapi kamu kembali lagi, seolah tidak terjadi apa-apa melupakan kalimat putus yang kamu ucapkan. Sedangkan aku sudah sakit hatinya saat kamu putuskan. Tap rasa sayang mengalahkan sakit hati itu, membuatku mencoba melupakannya. Aku tidak bisa mengabaikanmu.

Hampir 2 bulan hal itu terus berlanjut sampai akhirnya aku yang memutuskanmu. Ya aku meminta kamu menjauhiku. Aku sudah tak tahan diperlakukan seperti itu. Kamu datang hanya di saat kamu membutuhkanku. Aku merasa hanya dimanfaatkan saja.

Aku memutuskan untuk tak mencari penggantimu, tapi dia datang dengan sendirinya. Dia juga baru saja terluka hatinya karena jarak. Ya sama halnya dengan kita. Tak mampu bertahan melawan jarak yang terpisah. Mungkin aku dan dia sama-sama menemukan pelarian.


Mungkin aku terlihat jahat. Tapi semua sudah terlambat, kamu dan aku tak lagi terikat. Sebaiknya kamu mencari yang lebih dekat, yang bisa selalu kamu lihat.


Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya