Terimakasih untuk sewindu tanpa sebuah akhir cerita yang aku selalu doakan pada semesta, bahwa pada akhirnya rasa bertepuk sebelah tangan bukan hanya ada dalam cerita dongeng. Bahwa seberapa pun aku berusaha, sebesar apa pun usaha yang aku lakukan, akan selamanya samar di pandangan matamu. Bahwa cinta yang aku punya tidak pernah cukup buatmu, untuk mengisi luasnya lautan keinginan hatimu. 

Aku cukup mengerti, bahwa di matamu aku hanya bagian dari butiran pasir kecil di masa bahagiamu, yang mungkin sama sekali tidak terlihat, tapi mungkin aku jadi orang yang paling kamu cari ketika aku diperlukan untuk jadi obat penawar lukamu. Sungguh tidak masalah buatku, walau hanya akhir seperti yang aku punya. Setidaknya pergimu bukan karena kamu membenci kehadiranku di sampingmu, hanya saja aku belum cukup pantas buatmu untuk menemani sepanjang perjalanan hingga hari tuamu. 

Advertisement

Dan aku berterimakasih pada semesta, untuk rasa bertepuk sebelah tangan yang sudah diijinkan untuk bisa aku rasakan. Bahwa ketika aku berani mencintaimu, seharusnya aku punya jiwa yang cukup besar untuk tidak terlalu berharap bisa mendapatkan setidaknya walaupun hanya sebagian kecil dari hatimu.

Semesta megajarkan bahwa ketika aku mengusahakan apapun yang terbaik untuk orang yang aku cintai, lakukanlah dengan sepenuh hati, walau ternyata yang aku terima hanya hembusan angin belaka, tanpa sedikit pun rasa yang berbalas disana. Juga semesta mengajarkan bahwa mencintaimu adalah tentang belajar melepaskan sesuatu yang memang tidak digariskan jadi milikku. 

Mungkin semua yang hidup akan pernah tahu rasanya bertepuk sebelah tangan walau hanya satu kali saja dalam fase kehidupan mereka, tahu rasanya belajar untuk berbesar hati saat kita tidak bisa memaksakan untuk semua orang bisa punya rasa sama yang ada dalam hati kita dan membalasnya sesuai porsi yang kita inginkan. Dari sana manusia seharusnya belajar untuk memahami, kenapa Tuhan tidak pernah memberikan dua buah hati pada setiap masing-masing dari kita, karena saat aku memutuskan untuk mencintaimu dalam masa sewindu itu, aku menitipkan seluruhnya hatiku buatmu, walau ternyata selama ini hanya kamu taruh di sudut ruang hatimu yang berdebu dan bukan jadi sesuatu yang kamu peluk di setiap tidur malam-malammu.

Advertisement

Yang bisa kamu lihat saat kamu merasa sepi dan kembali kamu taruh di sudut ruang itu saat kamu tertawa bahagia. ya… tidak pernah ada namaku disana di setiap momen bahagia kehidupanmu. Aku hanya jadi pemeran cadangan di sebuah pertandingan yang sedang kamu mainkan, aku hanya tokoh figuran yang hanya ada di pojok kertas sebuah buku kisah yang sedang kamu jalani saat ini. 

Aku mencintaimu tanpa pernah bertanya kenapa aku bisa begitu mencintaimu, yang aku inginkan hanya jadi rumahmu, tempat dimana kamu bisa pulang dan berbagi semua air mata dan gelak tawamu. Dan sekarang pun aku tidak ingin banyak bertanya, kenapa aku seharusnya merelakanmu, merelakan rasanya jatuh cinta sendiri di sepanjang perjalanan yang begitu panjang. Karena aku tahu, semesta tentu akan lebih menyanyangi kita, untuk itu ia pun akan memberikan kita cerita cinta yang terbaik di akhirnya nanti.

Tidak apa untuk bertepuk tangan saat ini walau rasanya sungguh melukai, aku hanya perlu belajar untuk bangkit lagi saat aku tersungkur dengan kepergianmu, untuk rasa yang bertepuk sebelah tangan yang aku jalani dalam masa sewinduku ini.   Pergilah jika bahagiamu bukan tentang aku, pergilah untuk sebuah rasa bahagia yang kamu mau. 

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya