Tidak banyak kenangan bersama ibu yang kuingat dengan jelas. Sejak SD jarak memisahkan kami secara fisik. Ibu harus bekerja menjadi TKI di tempat yang sangat jauh. Aku tidak lagi ingat bagaimana rasa sesungguhnya masakan Ibu, hanya ada potongan memori bahwa Ibu termasuk wanita yang suka memasak. Aku juga sudah tidak ingat kapan terakhir kali berbelanja bersama Ibu, hanya ingat beliau sama sekali tidak memiliki kemampuan menawar seperti ibu-ibu lain. Lucuya hal itu menurun padaku. Aku tidak terlalu ingat kapan terakhir jalan-jalan atau menghabiskan waktu bersama beliau. Lulus SD, SMP, SMA bahkan wisuda sarjana kulewati tanpa kehadiran Ibu. Beliau tidak sempat melihat secara langsung ketika aku tampil di panggung, ketika aku tersenyum memegang piala, atau momen-momen lain yang sarat dengan kehadiran orang tua. Tapi akan kupastikan Ibu hadir ketika aku mendapat gelar magister, ketika menikah nanti, juga ketika aku perlahan membangun keluarga dengan cucu yang lucu untuk Ibu.

Ini bukan cerita sedih, perlahan aku mulai terbiasa dengan ketidakhadiran beliau secara fisik. Justru semua itu membuatku tumbuh menjadi gadis yang mandiri lalu menjadi wanita yang kuat. Dulu kami berkomunikasi menggunakan surat. Satu momen menulis surat yang sangat kuingat. Waktu masih SD, ketika aku mempertanyakan kenapa Ibu tidak di rumah saja bersama kami semua. Aku pernah ngambek dan malas sekali menulis surat. Kutulis saja seadanya dengan tulisan besar-besar berbalut perasaan yang waktu itu kumaknai dengan kemarahan. Baru perlahan kumengerti bahwa ketika itu sesungguhnya aku merindukan Ibu. Mengingat senangnya Ibu membaca surat itu, membuatku menyesali kelakuan itu. Selain surat Bapak sering mengajak kami menelpon Ibu di wartel. Kami bergantian berbicara dengan Ibu dalam percakapan yang sudah tidak lagi kuingat apa isinya. Seiring dengan berkembangnya komunikasi kini Ibu mahir juga menggunakan media sosial kekinian untuk berkomunikasi dan memantau kami dari jarak yang jauh. Ibu bisa melihat update terbaru dari facebook, instagram dan whatsapp yang kami miliki. Komunikasi adalah satu hal yang sangat penting agar kami selalu terhubung.

Advertisement

Aku dan Ibu sudah lama tidak berbelanja, memasak, jalan-jalan bersama atau sekadar bercerita tatap muka. Tapi hati dan jiwa selalu terhubung, sebagaimana kasih Ibu yang tidak mengenal jarak dan waktu. Selalu sampai kepadaku berupa kebahagiaan dan kedamaian untuk menjalani hari. Ya, aku damai dengan kehidupan bagaimanapun bentuk yang ia tampilkan. Karena aku juga melihat betapa kuatnya Ibu menghadapi kehidupan. Sepanjang hidup kasih Ibu selalu menyertai, menjadi sumber kekuatan yang tidak akan pernah habis. Ibu tidak pernah menunjukkan perasaan negatif kepadaku. Beliau tidak pernah mengeluhkan apapun, sama sekali tidak pernah. Tidak mengeluhkan pekerjaannya, tidak mengeluhkan kesehatannya, juga betapa jarak yang jauh dari kampung halaman membuatnya jauh dari keluarga yang dicintai. Hilangnya kesempatan beliau menemani anak-anaknya, hilangnya kesempatan beliau berbakti kepada orang tua hingga keduanya meninggal tanpa Ibu bisa melihat saat terakhirnya. Tetap tidak membuat beliau menunjukkan kesedihan. Tidak apa-apa, selalu Ibu berkata tidak apa-apa, semua dilakukan untuk anak-anaknya.

Meski jarak sangat jauh Ibu tetaplah sosok yang paling dekat denganku dan semua anak-anaknya. Aku sangat yakin doa beliau selalu menyertaiku, membumbung ke langit setiap hari. Aku yang bukan apa-apa ini sangat tertolong oleh doa Ibu, ya aku sangat yakin itu. Nasehat beliau juga selalu megiringi langkah hingga aku dewasa dan mampu memahami dunia. Banyak hal yang tidak bisa kukatakan pada Ibu, mungkin karena canggung jarang bertemu atau karena dari luar Ibu tampaknya cuek luar biasa. Setelah aku bercerita beliau hanya menjawab singkat. Yo wes (ya sudah) adalah kata favorit beliau. Aku tahu dibalik semua itu Ibu lebih perhatian dan cemas dari siapapun. Begitu pula aku yang sering menyimpan sendiri cerita sedih agar beliau tidak khawatir di sana. Apapun yang terjadi, aku sangat bersyukur memiliki Ibu sepertimu. Bersyukur dengan apapun yang terjadi pada kehidupan. Begitulah salah satu hal yang selalu diajarkan beliau. Ibu adalah tempatku kembali, menerimaku dengan penuh kasih. Selalu bersamaku di manapun aku berada. Tidak terbatas jarak, tidak terbatas kehadiran fisik.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya