"Langit biru pernah membuatku teduh."

Langit biru pernah membuatku teduh. Sebelum mendung mengusirnya untuk berlalu.

Aku pernah bahagia. Aku pernah jatuh cinta, kemudian terluka. Aku pernah mencoba mengunci rapat pintu, tak seorangpun kubolehkan bertamu. Iya, mungkin aku memang egois. Mendoktrin pikiranku bahwa setiap orang yang datang akan berlaku yang sama, pergi begitu saja meninggalkan luka.

Ratusan hari tak cukup untuk membuatku percaya, bahwa tidak semua orang itu sama. Aku butuh ribuan hari untuk sembuh dari rasa sakit. Menikmati hari-hariku sendiri dari sisa-sisa kepingan luka yang membuatku menjadi seseorang di hari ini.

Ku kira aku bisa bahagia tanpa siapa saja. Ternyata, aku salah. Aku bahagia, aku sudah bahagia dengan diriku saat ini. Tetapi, ada tamu yang mampu mengetuk pintuku. Membujukku untuk membukakan pintu, membiarkannya masuk. Dengan bermodalkan sesuatu yang manis, disebut cinta.

"Dia menawarkan pelangi di sela hujan deras."

Pertahananku runtuh seketika. Ia dapat membuatku yakin dan amat percaya bahwa ia berbeda. Ia menawarkan pelangi di sela hujan deras. Dia memberiku air saat hatiku mulai gersang tak berbunga. Ia menawarkan madu yang amat sangat manis sehingga aku lupa, aku pernah jatuh dengan balutan luka.

"Ia sang penyembuh dan tak akan berlaku sama."

Ia bak obat penawar yang kucari entah kemana. Waktu seakan membawanya tepat di depan mata. Hingga aku percaya, bahwa ia sang penyembuh dan tak akan berlaku sama.

Hari-hari terlewati dengan semestinya. Begitu juga dengan aku dan dia. Semakin membuatku percaya dan mematahkan segala kebencian akibat rasa sakit di masa lalu. Membuatku tersadar bahwa, bahagiaku ada saat ini dan melupakan hal-hal buruk yang pernah ku lewati dengan orang lama.

"Iya, ia berhasil melumpuhkan kakunya hati yang pernah tersakiti."

Ia mampu membuatku berani bertaruh kepada dunia. Ia membuatku berani menjadi orang yang berani menerima resiko untuk patah hati kesekian kalinya. Iya, ia berhasil melumpuhkan kakunya hati yang pernah tersakiti.

Apa kau pikir ini akan berakhir indah? Tidak. Aku menuai apa yang ku pertaruhkan. Aku mendapatkan rasa sakit yang bertahun-tahun ku kubur untuk ku lupakan.

Ternyata dia sama. Seperti mencegukiku morfin hingga overdosis. Membawaku terbang sejauh awan. Terlihat indah di ketinggian, membuat imajinasiku seakan terbawa melayang. Di puncak yang paling tinggi, yang bahkan tak pernah ku singgahi.

Aku seakan dibuatnya lupa bagaimana cara untuk pulang. Aku lupa cara berjalan, berpijak pada tanah. Ia membuatku lupa. Lalu ia memaksa untuk mematahkan sayapku. Hingga aku terjatuh. Sakit rasanya, pikiranku tersadar untuk mengingat bahwa ia seperti orang di masa lalu.

Aku menyanjungnya. Meyakinkan setiap orang bahwa ia berbeda. Meletakkan dirinya di posisi yang bahkan tak dapat terganti oleh siapa saja. Aku membiarkannya masuk dan membawa setengah hatiku untuk pergi. Bagian yang bahkan tak pernah ku lihat sebelumnya.

"Kali ini bukan cinta yang buta, tapi aku."

Ia meninggalkan luka yang amat sangat pedih. Aku salah. Aku memperlakukannya bak seorang raja. Melihat sisi baik tanpa buruknya. Aku salah, berpikir bahwa ia takdir yang sudah dituliskan untukku. Kali ini bukan cinta yang buta, tapi aku.

"Dan aku tersadar bahwa ia hanya seorang manusia, bukan malaikat."

Aku menaruh hayal padanya. Bahagiaku bertumpu di pundaknya. Hingga rasa lelahnya menghampiri dan menghempasku begitu saja. Keyakinanku menghacurkanku perlahan. Harapku membuatku lupa bahwa ia hanya seorang manusia, bukan malaikat.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya