Malam ini, lantunan doa kembali dikumandangkan untuk mengenang kepergian lelaki yang empat tahun silam sempat mengisi hatiku. Ia pergi untuk selamanya karena kecelakaan naas telah merenggut nyawanya dan ia bukanlah satu-satunya korban keganasan jalan raya. Tak mampu berkata apapun ketika ku terima kenyataan bahwa kini kau telah tinggalkan aku bersama dengan kenangan kita.

Aku mengenalmu sebagai lelaki yang penuh dengan kerendahan hati, senyum ramah, serta tutur santun. Kepergianmu tak hanya menyisihkan kesedihan di hatiku tetapi juga di hati teman-temanmu terlebih orang tuamu. Ntah apa yang Tuhan sedang ingin katakan kepada kami dari kepergianmu itu, yang pasti kami tetap meyakini bahwa kau kini hidup kekal bersama-Nya.

Advertisement

Aku memang sudah terbiasa dengan ketiadaanmu. Sudah empat tahun aku menjalani hari tanpamu namun aku tak lupa untuk mendoakanmu. Aku berharap kau selalu bahagia di sana. Apakah kau tahu? Hal itu tak terjadi pada mereka, sepasang suami-istri paruh baya itu. Kepergianmu benar-benar menoreh kesedihan yang teramat dalam di hati mereka.  

Malam ini, tepat empat tahun sejak kepergianmu, air mata masih mewarnai tanggal kepergianmu ini. Suasana duka tak kunjung hilang dari rumah ini. Mata sendu yang masih mereka perlihatkan menguatkan dugaanku bahwa mereka sejak tadi menangis mengenangmu. Alangkah perihnya luka kehilanganmu yang mereka tampakkan malam ini sehingga aku pun tak kuat untuk menahan air mata. Hanya doa. Iya.. hanya doa yang bisa mereka berikan kepadamu. Hanya doa yang menjadi penunjuk bahwa mereka sangat menyayangimu. Lalu, bagaimana dengan aku? Aku mulai lupa denganmu.

Rasa perih akibat kehilangan sungguh sulit untuk ditepis. Seusai acara penyampaian doa 4 tahun kepergianmu, aku beranikan diri untuk menghampiri wanita paruh baya itu yang sejak mulai acara terlihat murung dan sedih. Sesekali aku melihat air matanya menetes. Melihatnya hatiku sungguh perih. Aku pun memberanikan diriku untuk menghampirinya. Dengan lembut, aku menyentuh pundaknya. Perlahan ia menoleh ke arahku dan dengan mata sendunya ia menatapku. Tak terasa, air mataku pun mentes.

Advertisement

Aku tak mampu berkata apa-apa saat itu. Kemudian, ia memelukku dan tangisannya mulai pecah. Ia memang sudah lama menaruh harapan untuk kita berdua. Namun, Tuhan berkehendak lain. Ku coba untuk mengatakan sesuatu yang menenangkan hatinya tetapi rasanya lidaku kelu. Perlahan ia lepaskan pelukannya dan menatapku dalam-dalam. Aku paham arti tatapannya. Ada kekecewaan  dan penyesalan dalam hatinya. Ia pernah mengatakan bahwa seandainya kau masih hidup, ia akan sangat bahagia menyaksikan kau dan aku bersanding di pelaminan.

Waktu itu, kita memang tengah mempersiapkan hari pernikahan kita. Kita disibukkan dengan segudang keruwetan urusan pernikahan mulai dari acara adat hingga urusan undangan. Semakin mendekati hari pernikahan kita semakin sering berselisih paham hingga perdebatan tak dapat dihindari. Kata orang itu hal yang wajar dalam persiapan pernikahan. Kita pun sependapat dengan hal itu karena setiap eprdebatan tak lantas membuat kita untuk membatalkan acara bahagia tersebut.

Siang itu, kau memang berencana untuk mengantarkan orang tua mu untuk memberikan undangan kepada keluarga yang di kampung. Perjalananya memang cukup jauh dan melelahkanmu apalagi kau memang kurang istirahat waktu itu. Sebenarnya bukanlah pilihan yang tepat untuk kau mengendarai mobil dalam jarak dan waktu yang lama. Namun, tak ada pilihan lain waktu itu.

Aku tak tau apa yang terjadi di perjalananmu waktu itu. Aku yang waktu itu baru menerima telepon darimu yang mengatakan bahwa kau dan orang tuamu baik-baik saja dan akan kembali ke kota, tak menyangka selang satu jam aku menerima telepon dari kerabatmu bahwa kau….. Entahlah… Aku tak sanggup mengatakannya. Hancur sudah seluruh harapan. Enyah sudah seluruh angan-angan. Kau pergi meninggalkan ku.

Sudah empat tahun lamanya. Aku memang sudah mampu menepismu dari ingatanku. Namun, aku belum sembuh dari lukaku. Meskipun begitu, kau tak boleh mengatakan bahwa aku tak mencintaimu. Aku telah belajar untuk mengikhlaskan. Berkat kekuatan dari-Nya yang ku terima dari setiap rangkaian doa ku setiap hari maka aku bisa setegar ini. Tapi rasanya tak begitu dengan wanita paruh baya yang tepat berada di hadapanku ini. Ia masih menyimpan luka yang begitu mendalam. Sampai-sampai ikhlas sulit untuk ia lakukan.

Ia menciumku lalu dengan langkah terseok-seok ia meninggalkanku. Ia juga terluka waktu itu. Kakinya terhimpit ketika kecelakaan itu hingga ia harus mengalami patah tulang dan harus menjalani operasi untuk pemasangan pen. Sedangkan lelaki paruh baya itu, ia tak memiliki luka di tubuhnya tetapi hatinya terluka parah. Ia didiagnosa mengalami PTSD (post-traumatic stress disorder), salah satu kondisi kejiwaan akibat kejadian tragis yang pernah dialami.

Sungguh kepergianmu menyisihkan luka untuk mereka termasuk aku. Aku pun beranjak dari rumahmu dan memutuskan untuk tak lagi menemui mereka karena hal itu hanya akan membawa perih itu kembali mereka rasakan. Biarlah takdir yang mempertemukan ku dengan  mereka nantinya.

“Hanya doa yang menguatkan, hanya ikhlas yang menyembuhkan. Terima kasih, kau telah ajarkan itu padaku”

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya