Siapa yang ingin mengakhiri sebuah perjuangan tanpa alasan ?

Banyak hal butuh alasan, kenapa dia dimulai dan diakhiri.

Lalu bagaimana jika sebuah keterpaksaan menuntut seseorang untuk berhenti, sedangkan dia masih ingin berjuang ?

Bukankah dia memiliki alasan untuk itu ?

Kamu adalah alasan kenapa sebuah keputusan menyerah menjadi sebuah pilihan.

Dari kamu, aku belajar. Perduli dan perhatian saja tidak cukup membuat seseorang merasa nyaman. Perlu perasaan yakin bahwa hidup baik untuk kedepan bukan hanya sekedar saling mencintai.

Advertisement

Dan kamu mungkin lupa perihal luka itu, entah siapa yang menyayatnya lebih dulu.

Baiklah, mari lupakan tentang itu. Semoga luka ku dan luka mu membaik dengan cepat.

Hai kamu, si pemilik ekspresi itu. Wajah yang kerap kali berbeda disetiap pertemuannya. Marah, senang, sedih, bosan, kesal.

Iya, kamu. Si pemilik beragam alasan mengapa aku terus merasa kamu menyenangkan.

Advertisement

Tidak melulu tentang perhatian, kamu punya cara bagaimana memperlakukan seseorang dengan baik. Dan lagi. Nyaman membuat ku terus merasa senang.

Aku ingat, sebelum akhrinya kita menjadi asing. Obrolan kita waktu itu, katamu kita tidak berpisah. Hanya jalanmu tidak lagi dapat searah dengan ku. Aku tersenyum. Bukannya kamu pernah bilang, jalan penuh dengan simpangan dan tikungan. Maka berjalan bersama jauh lebih baik ?

Aku setuju. Aku dan kamu berhak memilih jalan manapun. Dan meski arah setiap orang berbeda, persimpangan selalu menjadi pertemuan yang tak diduga.

 

Kepada kamu.

Sekarang aku paham bagaimana cara menghargai diri ku sendiri.

Tentang bagaimana aku harus perduli terhadap apa yang aku terima.

Menyediakan ruang tersendiri untuk mu, bukan berarti aku harus tetap diam melihatmu mengacak-acaknya.

Begitulah aku hari ini. Mencintaimu tidak berarti membiarkan mu menghancurkan apa yang telah ku bangun.

 

Kepada kamu.

Aku sudah baik-baik saja. Aku sudah bersedia melihat langkah mu dengan orang lain. Akupun sudah menentukan arah mana yang akan aku tempuh. Bergegaslah, agar apa yang sudah aku lepaskan tidak aku tahan lagi.

 

Kepada kamu.

Lekaslah menemukan seseorang yang dapat mengimbangi langkah mu. Kita sudah saling berusaha untuk itu bukan ? Aku bukan tidak ingin berjuang, hanya takut kalau dipaksakan kamu justru malah kerepotan.

Terima kasih sudah menemaniku melewati banyak simpangan, sudah bersedia membantuku saat jalan yang kita tempuh membuat aku jatuh berkali-kali. Dan terima kasih sudah cukup membuat ku yakin, bahwa meski tidak lagi bersama kita akan menjadi dua orang yang tetap baik-baik saja.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya