Apa setiap orang perlu ditanyakan alasan jika sedang menyukai seseorang?

Setelah begitu banyak percakapan malam itu. Hari ini kamu membuktikan chat semalam bukanlah isapan jempol belaka. Semalam, kamu terus mengirimiku pertanyaan-pertanyaan konyol via Whatsapp. Lalu, berulang kali mengatakan akan menculikku esok hari. Aku tertawa. Ahh, tak perlu aku menanggapi bualanmu itu. Karena aku tak ingin kecewa menyergapku esok hari.

Advertisement

Esoknya, pesanmu kembali mampir di hand phone-ku.

"Buk, aku mau nyulik, nih!"
"Lah, haha nyulik kok bilang-bilang."
"Buk, di kostan?"
"Iya, mau dimane lagi?"
"Oke. 10 menit."
"Buk, udah di depan."
"Lah, ini belum 10 menit."

Tentunya aku dibuat bingung. Dengan harapan kamu cuman lelucon saja saat berkata telah tiba di kost ku. Aku segera mengambil kursi untuk ku jadikan pijakan memantau mobilmu dari teras dalam rumah.

Advertisement

"Oh Tuhan, dia benaran ada di depan, what should I do?," imbuhku cemas.

Hari itu kamu tampil keren, dengan setelan celana jeans dan kaos hitam, potongan rambut yang rapi dan tentu saja wangi tubuhmu yang khas. Kamu menatapku dari balik jendela mobilmu seraya memberikan kode untuk segera naik ke mobil.

Aku terpaku. Dalam benakku hanya terus memikirkan obrolan apa yang tepat denganmu sepanjang jalan nanti? Apakah aku bisa membuatmu tertarik atau malah membuat mu ngantuk mendengar ocehanku.

"Sudah siap ku culik, Buk?", imbuhmu.
"Hahaha, nyulik kok bilang-bilang sih!", balasku.
"Where we go now?", tanyaku lagi.

Kamu tertawa lalu kembali berkata, "Aku serius. Kan sudah ku bilang tadi mau nyulik"
Kamu tahu?
Saat kamu berkata begitu, dalam hati berkata, "Bawa saja kemana kamu dan aku bisa lebih lama seperti ini"

Hari itu , Sehari itu saja . Aku biarkan melupakan kamu adalah hal yang salah.

Aku membiarkan kamu membawaku ke tempat yang ingin kamu datangi.
Aku membiarkan aroma tubuhmu melingkupiku. Membiarkan suaramu terus menari di telingaku.
Perjalanan sejauh 71 km hari itu terasa terlalu dekat untukku yang ingin bersamamu sedekat ini lebih lama.

"Memangnya disini potensi lokasinya?", imbuhku.
"Waduh Buk, kelewatan! Harusnya yang gerbang pertama tadi belok ke sana."
"Oh, ini beneran cek lokasi?"
"Aku mau ngejarin sunsetnya. Semoga masih terkejar. Kesana kita, Buk?"
"Eh, iya terserah."

Dan, aku tertipu. Tipuan termanis yang aku syukuri.
Betapa tidak? Awalnya aku mengira menemani untuk urusan kerjaan. Ternyata, aku hanya menemaninya melihat mentari terbenam sore itu. Hari itu, aku melihat senja terbaik. Karena bersamanya.

Petang mulai menjumpai malam. Kamu mengajakku pulang. Aku kembali berceloteh panjang perihal kehidupanku, sesekali kamu tertawa menanggapinya. Tawa yang buatku ingin tenggelam di dalamnya. Kumohon, jangan rupawan begitu. Aku bisa lupa kalau kamu sudah tak lagi sendiri.

Kumohon, biasa saja. Biar detak jantungku tak berdegup kacau begini karenamu.

"Pulang kita, Buk?"
"Terserah, Pak!"

(Kumohon jangan bawa aku pulang dulu pak, aku takut ini cuman khayalan aku. Jangan biarkan aku terjaga lebih cepat. Jika ini hanyalah mimpiku. Biarkan aku menikmatinya lebih lama.)

"Hahaha. Terserah? Wih, ngeri kali. Ku culik beneran nanti."
"Iya pak, culik lah. Aku banyak ngabisin nasi dan cemilan. Ntar ga sanggup lagi."
"Ga ku bawa pulang nanti. Serius lah, Buk! Pulang kita?"
"Terserah, Pak!", imbuhku lirih dengan doa lirih semoga aku belum dipulangkan malam itu.

Lalu, kamu hanya melintas di depan kompleksku. Aku tertawa.

"Kok ketawa? Katanya terserah. Jadi ku culik saja"
"Hahaha, iya sih terserah tapi culiknya jangan sampai ga dibawa pulang ya, Pak."
"Dimana-mana kalo di culik ya dibawa pulang, tapi pulang ke rumah penculik"

Hening.
Tawamu memecah keheningan, membuyarkan sedikit kepanikkan di benakku.

Aku tak kunjung terlelap meski waktu sudah menunjukkan pukul 01.20 wib. Aku masih takut terlelap. Aku takut semua hal manis hari itu berlalu tanpa jejak. Aku takut bertemu kamu dengan suasana yang berbeda. Aku takut menghadapi kecanggunganku sendiri esok hari.

Maafkan aku Tuhan, aku tahu ini adalah hal yang salah.

Sebab, aku terlarut dengan pesona seorang lelaki yang sudah tak sendiri.

"I can't be the sun for you, Buk. I'm not single", katamu.
"You can be the moon for me, Sir", balasku.

Palembang , 29 September 2018.
23.00 wib.

Aku dan kamu akhirnya sepakat mengakhiri kemarin.
Tenang lah, mulai kini aku melatih perasaan ku kembali kok.
Kamu? Kembali menjadi asing bagiku.
Perasaan ini salah jika terus saja kita bersikeras melanjutkannya?
Hubungan seperti ini seperti bom waktu, yang akan meledak sewaktu-waktu.

Sebelum itu terjadi.
Mari kembali menjadi asing.
Ku mohon kerjasamalah.
Selamat berpisah.

Terimakasih menjadi kekuatan saat aku butuh dikuatkan seseorang.
Aku tak pernah mendapatkan sebelumnya.
Terimakasih menjadi telinga untukku.
Terimakasih.
Kamu, bagian terbaik dari potongan kue yang tak ingin ku bagi manisnya dengan siapapun.

Dariku, yang tak akan lupa kepada senjamu.

NCU

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya