Yang namanya sombong dan percaya diri itu beda-beda tipis. Kenapa? Karena aku pernah merasakannya.


Semuanya dimulai ketika aku berada di penghujung masa-masa SMA. Dimana pada masa itu, kami, anak-anak SMA kelas 3 sibuk mempersiapkan diri untuk Ujian Nasional dan seleksi masuk perguruan tinggi pilihan masing-masing. Seperti anak SMA lainnya, aku pun memiliki pilihan perguruan tinggi mana yang aku inginkan. Orangtuaku hanya mengizinkan perguruan tinggi negeri saja dengan fakultas dan jurusan apa saja. Aku pun setuju, karena dari awal aku memang ingin masuk perguruan tinggi negeri.

Advertisement

Pilihan ku jatuh pada salah satu perguruan tinggi negeri terbaik di Indonesia dengan fakultas dan jurusan yang berkelut di bidang pertanian. Aku sangat yakin bahwa aku pasti bisa masuk perguruan tinggi itu dan menjadi mahasiswa disana, karena nilai-nilai raporku cukup baik dibandingkan nilai teman-temanku di sekolah. Setiap hari aku mencari tahu tentang jurusan dan kuota untuk masuk perguruan tinggi negeri itu. Untuk seleksi tahap 1 jumlah kuota yang diberikan cukup banyak. Aku semakin yakin bisa masuk perguruan tinggi tersebut.

Hari demi hari ku lalui dengan mengikuti les, bimbel, membeli berbagai macam buku latihan soal-soal, dan membaca informasi mengenai jurusan di perguruan tinggi itu. Oke! Kalau begini, pasti mudah masuk perguruan tinggi tersebut.


Keyakinanku itu membuat aku lupa bahwa impian atau keinginan itu harus diimbangi dengan usaha yang sungguh-sungguh yaitu belajar.


Advertisement

Bukankah selama ini aku sudah berusaha dengan mengikuti les, bimbel atau apapun itu? Ya, tetapi dalam menjalaninya tidak ada keseriusan dan fokus. Belajar, yang ku sebut sebagai usaha itu, nyatanya tidak membantuku untuk bisa lulus masuk perguraun tinggi negeri yang menjadi impian ku itu. Tiga kali aku mencoba untuk masuk kesana, tetap saja gagal. Perguruan tinggi negeri itu menolak ku untuk ketiga kalinya. Aku tidak menyalahkan perguruan tinggi itu karena menolak ku. Ini semua murni karena kelalaian ku.

Lalu, bagaimana rasanya? Sebenarnya itu adalah pertanyaan yang bisa ku jawab, namun aku tidak yakin orang yang bertanya itu mampu memahami perasaan ku. Sedih, marah, takut, khawatir, putus asa, bingung, semuanya bercampur menjadi satu. Aku bingung harus mendaftar kemana lagi karena pada saat itu perguruan tinggi negeri sudah banyak yang tutup pendaftaran.

Ingin mendaftar ke swasta tapi orangtua tidak mengizinkan, disamping itu biaya pun tidak cukup jika ingin masuk kesana. Di kala aku berada di zona gelap, teman-temanku satu per satu sudah berhasil masuk perguruan tinggi pilihan mereka. Kondisi tersebut membuatku tersadar akan banyak hal.

Pertama, aku terlalu sombong pada diri sendiri dengan mengatakan bahwa aku mampu masuk perguruan tinggi tersebut karena nilai-nilaiku cukup bagus. Padahal diluar sana, nilaiku itu bukan lah apa-apa. Saingan diluar sana sangat banyak. Ribuan orang berusaha memperebutkan kursi untuk bisa masuk perguruan tinggi. Mungkin usaha mereka sungguh-sungguh sehingga banyak yang berhasil mendapatkan kursinya.

Les dan bimbel yang aku jalani tidak memberikan hasil apa-apa kecuali hanya menghabiskan uang orangtuaku saja. Untuk bimbel aku mengikuti bimbel di luar kota dengan biaya yang tentu saja tidak murah. Tapi sayangnya aku tidak bisa memanfaatkan fasilitas yang telah diberikan oleh orangtuaku dengan baik. Aku tidak serius dalam mengikuti bimbel tersebut. Yang ku lakukan hanyalah bermain, bermain, dan bermain bersama teman-teman baru. Tanpa ku sadari, itu semua hanya membuang-buang waktu, biaya dan kesempatan yang telah diberikan kepadaku.

Kedua, terlalu berambisi. Dalam hidup kita memang harus memiliki ambisi, namun apabila ambisi itu sudah melebihi batasan, maka itu tidak baik pula. Untuk bisa masuk perguruan tinggi negeri tersebut, aku mengikuti tes 1, 2 dan 3. Lagi-lagi orangtua harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit demi mengikuti ambisiku ini. Seharusnya aku sudah bisa menebak bahwa tes yang ketiga ini juga tidak akan berhasil.

Bukannya aku pesimis, tetapi jika dilihat dari usahaku yang tidak maksimal, kurang serius, dan kuota untuk masuk kesana tersisa 10% itu semua sudah cukup jelas bahwa pada saat itu sebaiknya aku mengambil perguruan tinggi lain saja. Ketiga, hanya mengeluh karena tak kunjung mendapatkan tempat untuk melanjutkan pendidikan tanpa adanya tekad yang kuat untuk berubah.


Ya, setiap hari aku hanya berpikir " Apakah aku akan kuliah?" "Dimana aku kuliah?" "Masa aku harus masuk perguruan tinggi yang lain?" "Perguruan tinggi yang ini kan akreditasinya bagus. Kalau aku bisa masuk kesana, wah pasti orangtuaku bangga dan teman-teman ku pasti iri." "Bagaimana pun aku harus masuk perguruan tinggi itu."


Serangkaian doa selalu ku panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Tapi aku lupa akan satu hal bahwa Tuhan tidak akan mengabulkan doa hambanya, jika hamba-Nya sendiri tidak berusaha. Sungguh, aku merasa sangat-sangat buruk. Seandainya waktu bisa diputar kembali ke masa itu, tentu aku akan mengubahnya menjadi lebih baik. Tapi itu tidak mungkin karena semuanya sudah terjadi. Yang berlalu biarlah berlalu.

Setidaknya dengan adanya kejadian itu mengajarkan aku banyak hal, terutama untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Apabila kita memiliki cita-cita atau keinginan, maka berusaha lah semaksimal mungkin untuk menggapainya dan jangan lupa diiringi dengan doa. Hargai waktu dan kesempatan yang diberikan, karena keduanya jarang sekali datang dalam waktu yang bersamaan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya