Bersandar di tonggak teras kosan, memang menjadi rutinitasku di setiap malam. Secangkir kopi menemani setiap hembusan kretek yang kuhisap.

Suara jangkrik yang bersahut-sahutan memicu kegelisahan di hati ini. Terkadang aku ingin menjerit melengkingkan suaraku sebagai tanda kekesalanku di malam ini. Bagaimana tidak. Seiring bertambahnya usia, beban di pikiranku juga bertambah .

Advertisement

"Mau jadi apa di masa yang akan datang?" Pertanyaan seperti inilah yang seringkali 'menusuk' tajam ke otakku. Aku seolah-olah dipaksa menentukan kehidupan di masa yang akan datang. Adakala pertanyaan seperti itu juga menakuti diriku.

Namun sebenarnya aku tau pertanyaan-pertanyaan seperti itu disebabkan oleh ketidak berhasilanku dalam menerapkan ilmu yang ku pelajari selama di masa kuliah. 

Aku seorang mahasiswa ilmu komunikasi, konsentrasi jurnalistik tingkat akhir belum bisa jua menemukan jati diri sebagai jurnalis atau sebagai seorang penulis.

Advertisement

Berulangkali terlintas di benakku, bagaimana bisa seorang calon sarjana yang bergelut dengan hal tulis menulis selama kurang lebih 3 tahun belum bisa jua menulis dengan baik dan benar. 

Dalam perkara menulis, aku memang tidak ada apa-apanya dibandingkan kawan-kawan yang lain. Sungguh dalam berbahasa Indonesia pun aku masih belepotan. Jadi wajar saja dalam persoalan menulis aku kewalahan.

Aku terlahir di desa yang cukup jauh dari riuk-piuk perkotaan. Jadi lumrah saja jika bahasa Indonesiaku berbelit-belit dan tidak jelas. Toh selama aku di kampung aku jarang menggunakan bahasa Indonesia, bahkan aku menjadi orang yang pertama mencemo'oh jika ada orang di sekitar yang menggunakan bahasa Indonesia kala itu.

Namun semua itu tidak akan menjadi penghambat bagi ku untuk menjadi seorang penulis. Walaupun aku orang kampung yang jarang menggunakan bahasa Indonesia, tapi aku bertekad akan menjadi seorang penulis yang hebat.

"Aku pasti bisa! Walaupun tertinggal dalam mempelajari bahasa Indonesia, bukan berarti aku tidak bisa menjadi seorang penulis," begitulah kalimat-kalimat yang ku tanamkan ketika aku dilanda jenuhan.

Masa perkuliahanku belum berakhir, masih ada Praktek Kerja Lapangan (PKL) atau magang yang ku harapkan dapat meningkatkan ilmuku dalam urusan tulis menulis.

"Aku pasti bisa menulis layaknya penulis hebat," begitulah kalimat yang ku sisipkan dalam benakku ketika hendak memulai magang.

Waktu magang pun dimulai. Semua kawan-kawan sejawatku memamerkan kegiatan-kegiatan magangnya lewat insta story ponselnya. Ada yang magang sebagai jurnalis dan ada juga yang magang sebagai editor tulisan. Tergambar jelas di raut wajahnya, betapa betapa bahagianya mereka menjalani masa magang.

Akan tetapi, kebahagiaan mereka berbanding terbalik dengan magang yang ku jalani. Aku termasuk orang yang kurang beruntung dalam hal pemilihan tempat magang.

Awalnya aku magang di salah satu media online yang bekerja sebagai penyaji berita-berita. Sebut saja medianya X online. Aku masuk PKL di X online melalui rekanku, atau bisa dibilang Abang karena usianya lebih tua dari usiaku.

Abangku ini sekarang bekerja sebagai jurnalis di X online. Sebelum direkrut sebagai jurnalis, ia dulunya juga mahasiswa magang di X online. Dari sinilah aku berkeinginan untuk magang di X online. Dalam fikirku, mungkin aku bisa juga kayak abangku ini.

Namun sayang, imajinasiku berbeda dengan realitas. Magang di X online membebani ku. Bagaimana tidak. Magang di sana terlalu melelahkan, pergi pagi pulang malam begitu terus, tanpa ada hari libur. Bahkan yang paling menyedihkan, aku  kerjaku tidak dihargai. Benar kerjaku kurang bagus, namun apa salahnya jika usahaku sedikit dihargai, aku cuman mintak sedikit dihargai untuk penyemangatku.

Sebenarnya masih banyak penyebab kenapa aku pindah dari X online. Akan tetapi aku nggak mau bahas semuanya. Toh dalam kesusahan ada nikmat yang terkandung bukan? Seenggak-enggaknya pengalamanku bertambah.

Aku cuman sanggup 4 hari magang di X online dan setelah itu aku memutuskan untuk pindah magang ke media lain. Aku mencoba menghubungi beberapa kawan-kawan kuliahku, dengan tujuan untuk menanyakan tempat-tempat magang yang masih mau menampung anak magang.

Alhamdulillah berkat pertolongan Allah lewat salah seorang kawanku, kawanku mengatakan di tempat ia magang masih ada lowongan untuk anak magang, dan aku pun memutuskan untuk magang di sana.

Awal aku magang di sana, aku senang sekali, sampai akhirnya kejenuhan melanda lagi. Kejenuhan ini terjadi  karena satu per satu berita, satu per satu artikel yang ku kirimkan, tidak pernah dipublikasikan oleh pimpinan magangku itu.

Setiap tulisan yang kukirim, pemimpin magang selalu bilang 'bagus, bagus dan bagus.' Dalam fikirku kalau emang bagus kok nggak pernah dipublikasikan. Iya nggak tuh. Apa pemikiranku salah? Tapi ku rasa nggak salah sih.

Ketika aku memaksakannya untuk mengomentari tulisanku, ia akan menjawab 'setiap orang memiliki gaya penulisan yang berbeda.' Perkataan seperti itu menjadi senjata  pamungkasnya, sehingga aku tidak bisa lagi berkata. Memang iya setiap orang memiliki gaya penulisan berbeda, tapi setidaknya dari teknis pasti sama.

Entahlah. Magangku di luar harapanku. Aku mengira dengan adanya magang ini akan menambah kepandaianku dalam hal menulis, nyatanya tidak.

Memang masa magangku belum berakhir, masih ada satu bulan lagi, namun diriku ini sudah merasa jenuh.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya