Ketika Ada Suatu Keinginan untuk Mengubah Nasib

Menyesali nasib tidak akan mengubah keadaan. Terus berkarya dan berusahalah

Nasib memang kadang baik kadang buruk, tidak pernah ada satupun yang tau. Kisah ini berawal saat aku sudah lulus SMA. Saat itu semua teman-temanku berlomba untuk bisa masuk keperguruan tinggi negeri dan begitu juga aku yang begitu menggebu-gebu seperti mereka.

Terkadang apa yang kita harapkan tidak sesuai dengan kenyataan. Aku benar-benar sedih karena sudah mencoba untuk mengikuti tes di Politeknik Negeri Medan dan USU, tapi hasil keduanya begitu membuat kecewa.

Akupun putus asa untuk bisa kuliah, dan berpikir lebih baik bekerja dulu, toh kuliah bisa nanti saja. Selama setahun aku menganggur dan selama setahun itu aku mencoba melamar pekerjaan dimana saja, semuanya dapat panggilan interview, tapi setelah interview aku tidak diterima dan sampai akhirnya ada satu yang berhasil aku dapatkan yaitu menjadi sales.

Barang yang kita tawarkan adalah pengharum untuk mobil. Hari demi hari aku jalani pekerjaan ini, orang-orang yang ada diperusahaan itu begitu bersemangat untuk bekerja dan itu sangat memotivasiku. Aku juga sering mengobrol kepada mereka kenapa mau jadi sales, alasan mereka hampir sama karna mereka hanyalah tamatan SMA dan bahkan mereka tidak punya biaya untuk melanjutkan kuliah.

Menjadi seorang sales tidak segampang yang aku kira. Teriknya panas dan derasnya hujan semuanya aku lewati bersama-sama dengan mereka. Sudah hampir 3 bulan aku bekerja dan aku seharusnya senang karena akan mendapatkan uang. Apalagi targetku sering tercapai dan kemungkinan dapat bonus besar. Tapi sayang, kegembiraan yang seharusnya kurasakan berubah menjadi kekecewaan.

Karena atasan ku belum juga memberi gaji dan bonusku.Awalnya aku diam, lama-lama aku tidak tahan seperti ini,aku merasa dia mempermainkan ku. Akhirnya aku memberanikan diri untuk meminta gajiku, tapi ia justru menghindar. Lama kelamaan karena sikapnya seperti itu,aku pun keluar dari pekerjaan itu tanpa digaji sepersen pun.

Awalnya aku kesal, tapi mau bagaimana lagi sudah nasib nya seperti ini. Tapi aku tetap tidak mengeluh, sesampainya dirumah akupun menceritakan kepada mama soal ini. Mama akhirnya mengerti. Setelah keluar dari pekerjaan itu aku bosan dan ingin rasanya kuliah saja karna lebih baik belajar daripada kerja begini sudah capek tidak mendapatkan hasil lagi.

Saat ku ceritakan keinginanku untuk kuliah, mamaku kelihatan sedih. Ternyata usaha mamaku bangkrut dan aku harus mengubur dalam-dalam keinginan untuk kuliah.

Kecewa kembali datang dan aku merasa nasib ku sangat buruk dan aku kecewa pada keadaan sekarang. Aku berubah menjadi orang yang malas dan kerjaku dirumah hanya makan dan tidur. Aku tidak mungkin memaksa mamaku untuk bisa mengkuliahkan aku, dan akhirnya aku bertemu dengan temanku yang kegiatannya saat itu bekerja sambil kuliah.

Kita mengobrol banyak sekali dan ia menguatkan aku untuk bisa berjuang demi mendapatkan yang kita inginkan. Ia benar-benar memotivasiku dan aku menjadi begitu bersemangat. Akhirnya aku menanyakan kepada mamaku apakah lebih baik aku kerja saja ditempat saudara yang membuka rumah makan. Mamaku awalnya tidak menyetujui karna aku harus tinggal ditempat saudaraku di Binjai.

Tapi aku terus berusaha untuk meyakinkan kalau aku tidak akan mengecewakan mamaku. Mamakupun akhirnya setuju dan memberikan izin aku bekerja disana. Akhirnya aku bekerja dirumah makan itu. Memang gajinya kecil tapi aku senang karena pekerjaan yang aku lakukan memberikan hasil. Aku menabung sedikit demi sedikit dan akhirnya terkumpul juga 1 juta 500 ribu.

Pada hari minggu,aku meminta izin untuk pulang kerumah dan bibiku mengizinkannya. Akupun bertekad untuk mendaftar kuliah dan awalnya aku bingung mau kuliah dimana, sampai akhirnya aku menemukan jawaban itu dari teman dekatku. Ia ternyata juga ingin kuliah dan kita pun akhirnya mendaftar.

Kita mengambil brosur dan melihat uang pendaftaran awal. Dan ternyata uangku cukup dan kita langsung saja mendaftar. Akhirnya aku kuliah juga. Aku masih tidak percaya tapi inilah namanya nasib, bisa berubah menjadi baik selagi kita mau berusaha untuk mewujudkannya.

Pagi itu aku begitu kelihatan rapi untuk siap bergegas pergi kekampus. Saat dijalan,aku bertemu dengan tetanggaku. Ia pun menanyakan aku mau pergi kemana, dan aku pun menjawab ingin pergi kekampus. Ia pun meminta tumpangan padaku karena ia sudah telat kerja, dan aku pun mengiyakan. Ia saat itu hanya berhenti dipersimpangan lampu merah karena arah kita sama hanya sampai situ saja. Saat ia turun,ia menanyakan apakah aku sudah bekerja.

Akupun menjawab ya. Ia pun menawarkan kepadaku untuk bekerja ditempatnya. Aku begitu senang mendengarnya. Ia meminta nomor whatsapp ku, aku memberikannya dan ia mengatakan akan mengabari nanti dari whatsapp. Aku pun mengangguk iya lalu pergi meninggalkannya. Sorenya aku pun mendapat pesan darinya untuk menyiapkan surat persyaratan lamaran pekerjaan dan membawanya besok siang. Aku pun bergegas langsung menyiapkan berkas yang ada. Keesokan harinya aku pun meminta share location dimana tempat nya bekerja.

Aku pun bergegas pergi dan sampainya ditempat kerja aku menunggu sudah hampir 2 jam tapi sayang ternyata atasan nya belum juga datang. Dan akhirnya ia menyuruhku pulang dan kembali lagi besok. Besoknya aku kembali lagi dan akhirnya aku bertemu dengan atasannya. Ternyata aku langsung di-interview dan kali ini adalah hal paling membahagiakan. Aku langsung diterima dan besoknya sudah boleh bekerja.

" Sungguh Aku percaya jika memiliki keberanian dan kekuatan untuk bisa bertahan, kita dapat mengubah nasib "

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Suka menulis, suka travelling, sama suka makan. Kalau suka kamu, emang boleh?