Ini sebuah cerita untuk kamu yang kelak aku harap kamu mengerti atau setidaknya mau mencoba memahami rasa ini. Mengenal sosok yang kamu sayang dan bercengkrama dengannya, lalu mendengar cerita kamu dari orang yang selama ini sungguh setia dan ada di sampingmu sangat membuat aku senang. Sungguh, aku bahagia.

Sesederhana itu memang.

Advertisement

Bertemu dengan ibumu.  Mendengarkan bibirnya yang sambil menyimpulkan sebuah senyuman dengan nada yang menggebu-gebu, sesekali wanita itu tertawa, mencairkan suasana, dia menceritakan bagaimana kamu kecil.  Kamu yang nakal.  Kamu yang jahil.  Kamu yang senang bertemu semua orang.  Kamu yang keras kepala.  Kamu yang baik. Kamu yang doyan makan. Kamu yang tinggi gengsi. Kamu yang suka menabung dan semuanya tentang kamu,  lengkap tanpa ada yang terlewat.  Walau hanya garis besarnya,  tapi itu cukup untuk aku. Cukup untuk aku mengerti kamu. Mengerti keluarga kamu. Aku seperti mengenal kamu, ibumu, dan keluargamu lebih lama dibanding waktu yang sesungguhnya.

Saat itu aku hanya tersenyum dan sesekali tertawa, mengkhayalkan bagaimana tingkah kecilmu dulu. Pasti sangat lucu! Mendengar cerita tentang kamu saja aku senang apalagi aku membayangkannya. Sungguh membuatku tertawa.

Dan ternyata sungguh, aku jatuh cinta padamu!

Advertisement

Kamu tahu? Hari di mana aku kembali bertemu dengan sosok wanita yang kamu sayang? Hari itu rasa senang kembali buncah dari hatiku. Rasanya tak bisa kukendalikan. Dalam hati aku berdoa,  semoga semesta mau dan dengan senang hati selalu menyertai kita.

Aku mulai terbiasa dengan pribadi kamu. Aku paham apa saja yang kamu suka dan kamu tidak suka. Aku tahu apa yang kamu mau. Aku mengerti jalan pikiran kamu. Aku sangat mengenal kamu. Secepat itu aku paham kamu dan selancar itu pula aku mulai bisa menyeimbangi pribadi kamu.

Saat kamu tanya, apa sih yang aku mau? Ini jawabannya, sungguh aku mau kamu, dan aku mau berdoa agar aku yang menjadi wanita surgamu kelak.

Aku sangat ingin menjadi seorang ibu, tapi itu tidak mungkin sebelum aku terlebih dahulu menjadi istri. Jadi aku terus berdoa, semoga kamu adalah sosok orang yang selama ini aku panjatkan pada Tuhan. Seseorang yang bisa terus diajak bicara, berbagi cerita tentang hari- hari yang dilewati, berbagi opini, berbagi pendapat. Seseorang yang mau meluangkan waktu untuk aku. Seseorang yang mengerti bagaimana menyikapi ketika aku diambang batas kewajaran. Seseorang yang sama-sama terus memperbaiki diri dan mau beribadah bersama. Seseorang yang terus berjuang. Seseorang yang dapat mewujudkan citaku yang merupakan cita dari semua wanita, menjadi seorang ibu. Sungguh, aku berdoa itu kamu.

Walau satu sisi dari semua cerita ini aku yang salah karena menikmati kedekatanmu dengan ibumu dan kedekatan aku dengan kalian, tapi bukan berarti kalian tidak salah. Ini hanya karena kamu dan ibumu, kalian yang mampu hancurkan batasan hati ini dan tanpa sadar justru membuat aku membakar segalanya dan menyilahkan kalian terduduk manis dihati dan harapan.

Cara kamu menghormati ibumu dan bagaimana cara ibumu merawatmu sedikit banyaknya buatku mengerti. Memang benar untuk menjadi ibu yang baik tidak ada sekolahnya, tapi bukan berarti tidak bisa belajarkan? Jadi tolong bimbing aku.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya