”Alam, tak bisa kah kau memunculkannya sekali ini saja agar aku bisa menatapnya untuk yang terakhir?”

 

Advertisement

Dering telpon yang terus menerus berulang di samping tempat tidurku akhirnya berhasil membangunkanku, kini aku terduduk di samping tempat tidur dengan ponsel yang sudah terangkat di telinga kananku. Terdengar dari sana, suara lain memberikanku kata-kata bernada dukungan, ”Semangat Vin, aku tahu ini berat, tapi kau pasti bisa tetep kuat bro,” Masih berusaha mengumpulkan kesadaranku pasca tidur nyenyak di sepanjang malam kemarin, akhirnya aku menjawab, ”Halo ini siapa? Salah sambung ya bang?”

Lalu terdengar lagi suara itu menyahut, ”Baru bangun kau Vin? Sana cepat nyalakan TV, cari channel berita. Tetep kuat Vin,”

Tak peduli siapa pria yang baru saja menelponku sepagi ini, buru-buru aku letakkan ponselku di meja, lalu aku mulai berjalan menuju ruang tengah dan menyalakan TV. Segera kucari channel berita seperti saran pria diujung telpon tadi, rasa penasaranku semakin memuncak, apa sebenarnya yang terjadi? Apakah ada gunung meletus? Gempa bumi? Tsunami? Atau apa sih? Lalu tiba-tiba mataku menangkap sesuatu yang tak lagi asing, dengan cepat kubesarkan volume layar persegi di depanku ini, diberitakan bahwa sebuah burung besi dengan logo singa bersayap pagi tadi jatuh di perairan laut Jawa.

Advertisement

Seketika terbersit dibenakku, ”Wah, kasian sekali,” Namun, tiba-tiba aku terdiam, buru-buru aku kembali ke kamar dan segera mengambil ponselku, lalu membawanya lagi ke ruang tengah. Aku mulai melihat chatroom kami di salah satu aplikasi pesan milik smartphone, tapi tak ada pesan masuk darinya. Terbaca disitu chat terakhir kami, tepatnya dua hari yang lalu, yang diakhiri dengan perdebatan tanpa konklusi. Meninggalkan semua gengsi, kutuliskan pesan baru di chatroom kami.

”Sayang, kamu dimana? Masih marah kah?”

Hanya centang satu, kutunggu beberapa menit dan masih tetap centang satu. Ponselnya tidak aktif. Perasaanku mulai tidak tenang, aku mulai bangkit berdiri, mulai berjalan keluar masuk berharap sinyal di rumah ayahku ini memang sedang tak bersahabat. Tapi ternyata tidak, karena pesan lain mulai bermunculan di aplikasi pesan lainnya di ponselku. Tak berniat membacanya dulu, kuputuskan untuk membuka website jadwal penerbangan miliknya. Terbaca dengan jelas bahwa tepat hari ini pukul 06.20 pagi, dia terjadwal terbang menuju salah satu Provinsi di Sumatera. Terbaca juga disitu, bahwa dia terakhir online pukul 05.30 pagi.

Mendadak lutut-lututku gemetar, aku terduduk lemas, sangat lemas, sampai-sampai terasa sesak sekali dada ini. Ketakutan yang sering muncul di dalam mimpiku kini menjadi kenyataan. Untuk sepersekian menit aku tidak ingin melakukan apa-apa, bahkan tak bisa berpikir apa-apa.

Oh God, apalagi ini? Belum habis rasanya kesedihan ini setelah dua bulan lalu mamak meninggalkan kami untuk selamanya, dan sekarang apa ini? Tolong jelaskan pelan-pelan padaku Tuhan! Aku berharap ini adalah sebuah mimpi, dan kini aku ingin segera bangun, Tuhan. Bangunkan aku segera, tolong aku.

Sempat bermonolog di dalam pikiran, ketika tiba-tiba suara ringkih ayahku menyadarkanku, ”Vin, Vin, kenapa mang?” Tak sanggup menjawab, aku hanya menggeleng. Lalu, tiba-tiba suara ponsel ayahku berdering, ”Iya boru, Bapak sehat. Apa?” Sempat hening, lalu, ”Kita sama-sama berdoa ya Boru, pasti selamat. Ini adikmu cuman diam duduk di depan TV,”

Lalu ayahku mulai duduk di sebelahku, sambil memegang pundakku, dia berkata, ”Sabar ya Mang, pasti selamatnya si Vita itu Mang. Kita semua berdoa buat dia ya Mang,” Rasanya masih enggan berkata-kata, tapi aku harus membuka mulutku, ”Iya Pak,” Lanjutnya, ”Mau ke Jakarta kah mang? Dipastikan dulu semuanya, tanyakan sama maskapainya,”

Tapi gimana dengan Bapak? Bapak masih belum terlalu pulih kesehatannya, apalagi baru saja mamak pergi meninggalkan kami. Tapi suara ringkihnya kembali menyadarkan monolog di pikiranku (lagi), ”Tenang aja mang, Bapak sudah sehat, Bapak bisa minta kakakmu jemput bapak, sana siap-siap, pesan travel dan tiket pesawat,”

 

~~~

Kini aku ada di dalam travel, di dalam perjalanan menuju Bandar Udara Kualanamu. Aku duduk di kursi paling belakang, kupasangkan earphone menutup kedua telingaku, dan kuputar daftar lagu kesukaan kami berdua. Slideshow tentangnya seakan mulai bergantian muncul di depan mataku.

 

Vita namanya.

Dia seorang pramugari.

Cantik parasnya.

Pekerja keras orangnya.

Lucu dan pecemburu sifatnya.

 

Benar, dia sangat pecemburu, pernah waktu itu, ketika dia menelpon dan menanyakan apakah aku sudah makan atau belum, lalu aku menjawabnya dengan santai bahwa aku sedang makan di warung nasi goreng. Entah itu candaan atau bukan, tapi yang aku tahu nada bicaranya serius ketika dia mengatakan hal ini, ”Siapa yang goreng nasi gorengnya?” Kujawab, ”Ya, penjual nasi gorengnya lah sayang. Hehe,” Katanya lagi, ”Perempuan atau laki-laki? Kalau perempuan yang masak nasi gorengnya kamu harus pindah sayang,” Kata-katanya ini sungguh menggelikan, tapi mengapa aku makin jatuh cinta karenanya.

Bahkan perkembangan sifat cemburunya makin hari makin meningkat signifikan, dia bahkan bisa men-stalking beberapa wanita yang sempat kusebutkan dalam ceritaku kepadanya sebagai sebuah kisah di masa laluku. Lalu, tanpa sepengetahuanku, dia berhasil mendapatkan password sosial mediaku, kemudian log-in dan mulai mem-block beberapa wanita itu. Anehnya, setelah melakukannya, dia malah menceritakan itu semua kepadaku. Lucu sekali.

Dia wanita terunik yang pernah kutemui. Di dalam setiap omelannya, tersimpan perhatian dan kebaikan hatinya. Meskipun, pertemuan kami tidak intens, ya, hanya mencuri-curi waktu di sela jam terbangnya. Tapi ya ketika jadwalnya terbangnya ke Jogjakarta, atau ketika dia off, dia akan memintaku untuk mendatanginya ke Jakarta, karena dia tinggal di mess pramugari di Jakarta, sedangkan aku di Jogjakarta. Hmm, memang sesulit itu pertemuan kami, tapi bersamanya aku selalu merasa bahagia.

Dia jenis wanita yang tak pernah ingin menunjukkan rasa lelahnya. Dia selalu terlihat tangguh dan ceria. Mimpi yang terwujud menjadi seorang pramugari tak membuatnya menjadi pribadi yang sombong, atau bahkan mulai melupakan orang tuanya, yang hanya seorang pedagang sayur di pasar. Dialah yang banyak membantu orang tua, bahkan sampai kekeh memaksa adiknya untuk melanjutkan studi di bangku perkuliahan. Padahal, dia sendiri tidak pernah merasakan bangku kuliah.

Dia sangat jarang bisa pulang ke rumah orang tuanya, setiap waktunya hanya berbicara tentang tuntutan untuk selalu siap terbang bersama burung besi, terbang begitu tinggi, mempertaruhkan seluruh hidupnya, demi bisa sedikit mengangkat kehidupan keluarganya.

Tak sadar, mengingat tentangnya membuat dadaku semakin berdegup kencang, air mata mulai menetes, bibir ku pun bergetar, ”Tolong selamatkan wanitaku, Tuhan.” Entah tak tahu lagi kata-kata apa yang harusnya kususun indah untuk Tuhan, agar Dia mau berbelas kasihan kepadaku dan mengirimkan kabar baik, bahwa dia baik-baik saja.

Semua pesan di ponselku bahkan beberapa kali telpon dari kakak dan orang-orang terdekatku membuat pikiran dan perasaanku jadi nano-nano dan campur aduk. Akhirnya, kuputuskan untuk mematikan ponselku. Aku hanya mau menunggu mujizat.

 

˜˜˜

“Udahlah sayang, kamu berhenti aja, masuk kuliah, cari kerja part time, aku masih bisa bantu kok,”

”Nggak bisa sayang, masih banyak tanggung jawabku untuk keluargaku. Kamu doakan aku baik-baik aja disini,”

”Setiap hari mempertaruhkan nyawa, belum lagi kalau teman kerjamu mulai genit. Aku sama sekali gak suka kerjaanmu,”

”Ya gak bisa gitu dong, semua kerjaan itu punya resiko kok, entah jadi pramugari, jadi pekerja bank, dosen, pengacara seperti mimpimu, pasti semua punya resiko. Hm, ini nih yang buat aku agak males cerita tentang kerjaan sama kamu. Kasih semangat kek, dukung gitu, jangan suruh aku berhenti, itu bukan solusi. Tunggu aku udah kumpulkan banyak duit, setelah itu aku keluar,”

”Mau udah punya duit banyak atau belum, kalau udah nikah sama aku, kamu harus keluar dari tempat itu,”

 

Seperti itulah perdebatan kami dua hari lalu, dan dia hanya diam tidak membalas. Selama ini kami sering memperdebatkan ini, sebagai pria dewasa, aku tidak pernah tega begitu saja membiarkan calon ibu dari anak-anakku menanggung banyak resiko membahayakan ini. Sesimple itu saja sebenarnya. Tapi keadaannya sulit, dia bukanlah golongan wanita egois yang sibuk melakukan apa yang dikehendaki dagingnya hingga mengesampingkan masa depan keluarganya.

Bodoh. Sungguh bodoh kau Kevin, kenapa kau memperdebatkan hal ini lagi. Ajak dia menikah. Maka semuanya teratasi. Dan kau akan punya hak untuk menanggung hidup keluarganya. Sungguh tulang-tulangku rasanya nyeri, tetesan air pun menetes dari mataku lagi. Tak sempat menghapusnya, ketika mucul suara dari belakang kursi ku, ”Kevin, sabar ya. Kita berdoa Vita dan yang lainnya selamat,” Ternyata si Desi sudah berdiri di samping kursiku, teman Vita, ya, seorang pramugari juga.

”Eh, hai, terbang ke Jakarta juga ya,” Jawabku datar dan berusaha mengalihkan. ”Desas-desusnya sih, mereka baru terbang 13 menitan ketika tiba-tiba pesawat lepas kendali dan meledak di udara, gak bayangin gue Vin gimana ketakutannya mereka waktu tahu pesawat dalam keadaan darurat,” ucap Desi berusaha memberikan info. Tak berusaha menjawab, jantungku rasanya berhenti, aku membeku, tanganku menjadi dingin, tapi entah apa yang ada di pikiran Desi, sehingga terus saja dia berbicara, meskipun tak sepatah kata pun keluar dari mulutku untuk mersponsnya.

”Bagi kami pramugari, dalam keadaan apapun kami dituntut untuk tetap tenang dan harus bisa menenangkan penumpang. Duh beneran deh Vin, gue gak bisa bayangin mereka tetap berusaha tenang dan menenangkan penumpang, padahal mereka tahu sebentar lagi pesawat jatuh. Kalau gu…” Belum sempat dia melanjutkan kalimatnya, buru-buru aku membuka mulutku, ”Sori sori, aku mau ke WC dulu ya,” Rasanya tak tahan lagi dadaku menahan semua cerita Desi, lalu aku melangkahkan kakiku menuju WC.

 

˜˜˜

Langit semakin gelap, dan sampailah aku di Bandar Udara Soekarno-Hatta, kulihat banyak orang berkumpul mencari kepastian kabar keberadaan anggota keluarga mereka yang ada di dalam pesawat nahas itu. Tangisku pecah ketika kujumpai Ibu Vita, kami tak saling berkata-kata namun kami bisa saling merasakan kesakitan yang sampai menembus tulang-tulang kami. Kami sama-sama menunggu dengan harapan yang sama, Vita ditemukan selamat.

Tapi tiba-tiba presiden direktur dari tempat Vita bekerja mengumumkan informasi yang melemahkan harapan kami, dikatakan, pesawat itu memang bermasalah, bahkan baru saja terbang, sang pilot sudah minta untuk return to base (RTB) atau kembali ke Bandar Udara Soekarno-Hatta. Dan sebelum jatuh menyentuh perairan, pesawat itu benar-benar meledak di udara. Kini, kami diminta untuk menunggu 3 x 24 jam untuk menemukan keberadaan Vita, entah dalam keadaan utuh dan bernyawa atau hancur di dalam kantong jenazah. Aku mulai berusaha tenang, pikirku, Tuhan pasti menyekamatkanmu, sayang. Lalu, kuputuskan untuk membawa keluarga Vita mencari makan dan tempat tinggal di Jakarta, iya, tempat untuk kami menunggu Vita kembali pulang dengan selamat.

 

˜˜˜

Sudah dua hari berlalu pasca kejadian itu, beberapa penumpang dan teman-teman Vita sesama pramugari telah ditemukan dalam keadaan tak bernyawa, bahkan dengan kondisi tubuh yang sudah tidak utuh lagi. Aku masih percaya Vita akan pulang dengan selamat, ada keyakinan yang kuat di hatiku, bahwa kini Vita sedang diselamatkan oleh seorang nelayan di gubuknya. Dia kini belum siuman dan belum bisa pulang, tapi nanti, dia pasti pulang. Iya, dia pasti pulang, dan aku akan dengan segera memintanya menjadi isteriku.

Tapi waktu terus bergulir, kini dua minggu lebih sudah berlalu, barang-barang penumpang, serpihan badan pesawat, black box, bahkan sebagian besar penumpang dan awak kabin juga sudah ditemukan tak lagi bernyawa (ada yang utuh tapi kebanyakan ditemukan dalam bentuk potongan-potongan tubuh yang terpisah). Tapi mengapa Vita belum juga ditemukan? Mengapa dia tak kunjung pulang menemuiku? Kemana perginya suara riang yang memanggilku di lorong bandara? Yang selalu merengek minta dibonceng motor bututku untuk berkeliling kota dan berkuliner bersama, kemana perginya semua itu?

 

˜˜˜

”Vin, mamak sudah ikhlas kalau Vita nggak kembali lagi nak. Biar dia tenang, kita ikhlaskan dia ya nak,” Suara Ibu Vita begitu menggetarkanku. Ya, kini semua orang bahkan keluarga Vita sudah merelakan kepergiannya. Mereka seakan memaksaku untuk tak lagi berharap Vita pulang. Gila. Apa yang sebenarnya mereka pikirkan? Tidakkah mereka orang-orang yang punya iman? Kenapa kini iman mereka sangat lemah? Bukankah Vita perlu iman mereka untuk bisa kembali dengan selamat?

Tapi kini proses pencarian korban memang sudah dihentikan. Kemudian, pihak tempat Vita bekerja membawa kami, para keluarga korban yang belum ditemukan, untuk menaburkan bunga di perairan tempat jatuhnya pesawat Vita. Disana, angin berhembus sangat kuat, tapi mengapa rasanya gerah? Aku mulai memandang hamparan air yang luas itu, tak ada yang bisa kulakukan lagi selain merelakan, dan kuberanikan diriku untuk menyapanya.

”Sayang, dimanapun kamu berada sekarang, aku minta maaf, aku minta maaf telah memberikan beban tambahan di pikiranmu dengan banyaknya perdebatan. Sayang, harusnya kan aku segera menikahimu dan membawamu keluar dari tempat itu. Jadi kamu nggak perlu melewati rasa sakit ini. Sayang, kemana lagi aku harus pulang? Siapa lagi yang akan menunggu kepulanganku? Bukannya kamu tahu, mamak baru saja pergi, kenapa kamu juga ikut pergi? Apakah kalian ingin bersenang-senang di surga tanpa aku? Tanpa aku yang sering melukai hati kalian, iya? Maafkan aku sayang. Sekarang bagaimana caranya aku melanjutkan hidupku? Berikan aku alasan kuat untuk berjalan sendiri tanpamu.

Kutarik nafas dalam-dalam, kukuatkan hatiku, dan akhirnya aku mengatakannya, Bersitirahatlah, aku merelakanmu pergi sayang. Air mata mulai deras bercucuran. Terlalu rapuh untuk menyembunyikan rasa sedih ini. Bibirku bergetar, sambil mengusap air yang membasahi pipiku, dengan tegar kukatakan lagi, Tapi tidak sayang. Ya, benar, Tidak. Aku mau tetap menantimu. Aku mau tetap menanti sekalipun tak kutemukan jawaban yang pasti dalam penantian itu. ‘till we meet again, sayang. I love you, indeed I do. 

 

**amang = panggilan akrab orang tua dari suku Batak kepada anak laki-lakinya.

**boru = panggilan akrab orang tua dari suku Batak kepada anak perempuannya.

 

Terinspirasi dari kisah nyata, kisah cinta adik saya, Kevin Nainggolan.






Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya