Tahun Ini, Tahun Ketigaku Mencintaimu dalam Diam. Semoga Kelak Kita Benar-benar Disatukan

Kisah mencintai dalam diam

Kepadamu lelaki berlesung pipi yang telah aku cintai dalam diam selama 3 tahun, izinkan aku menuliskan sebuah pengakuan sebelum aku memutuskan untuk mengakhiri cerita cinta diam-diam ini.

Advertisement

Aku dulu baik-baik saja dengan kesendirian ini. Aku memang sengaja memilih sendiri untuk mengobati trauma luka lama dan memperbaiki kualitas diri. Bahkan di hari di mana aku bertemu denganmu untuk pertama kali, sebenarnya aku tidak memiliki perasaan khusus padamu. 

Tidak ada yang istimewa dari pertemuan kita. Kita hanya dipertemukan dalam sebuah project yang sedang digarap oleh institusi tempat kami bekerja. Aku dan kamu hanya menjalankan rutinitas seperti biasanya. Sibuk menyelesaikan pekerjaan masing-masing. Obrolan kita hanyalah seputar pekerjaan dan hanya di kantor. 

Sampai suatu hari, di mana salah satu anggota tim proyek kami bercanda dengan mengatakan bahwa aku dan kamu sangat serasi apabila dipasangkan sebagai sepasang kekasih. Mendengar hal itu, aku dan kamu tertawa dan dengan kompak mengatakan hal itu tidak mungkin terjadi. Awalnya, aku pikir candaan itu hanya sebagai bahan candaan di tengah beratnya tekanan pekerjaan. Namun ternyata tidak demikian. Aku yang awalnya acuh mulai memperhatikanmu dalam diam.

Sejatinya, aku selalu berusaha untuk mengaburkan perasaan ini. Aku sebagai pemilik rasapun ragu dengan diriku sendiri. Bukan karena tidak suka. Justru aku bersyukur, ternyata setelah sekian lama sendiri bergelut dalam trauma luka lama ternyata aku masih bisa menyukai seseorang.

Kamu yang awalnya hanya merespon dengan tawa setiap orang yang menjodohkan kita, kini seperti menunjukkan sikap terang-terangan bahwa kamu setuju dengan perjodohan itu. Kamu yang dulunya hanya mengirimkan pesan singkat jika berhubungan dengan pekerjaan. Kini, tiba-tiba rajin mengirimkan chat personal dalam bentuk perhatian kecil seperti memastikan aku sudah makan siang atau datang menghampiriku mengkonfirmasi secara langsung jika tiba-tiba kamu mendengar kabar tentang aku. Tak jarang kamu datang dan memberikan jatah makan siangmu kepadaku. Tatapan-tatapan aneh tak biasa yang kamu tujukan padaku, senyum-senyum aneh tapi lucu yang kamu tujukan padaku. Membuat aku terbuai dan malu-malu sendiri.

Advertisement

Pernah suatu hari, aku sibuk menyelesaikan pekerjaan yang diberikan kepadaku dan aku tidak menyadari keberadaanmu disekitarku. Hingga aku menoleh dan sudah mendapati dirimu berdiri tak jauh dariku dengan melipat tangan didepan dada, menatapku sambil tersenyum. Entah sudah berapa lama kamu berada dalam posisi seperti itu. Aku terkejut dan satu-satunya hal yang terpikirkan olehku waktu itu hanya membalikkan badan dan menahan senyum, berharap kamu tidak melihat rona malu dan bahagia yang terpancar dari wajahku.

Pernah di suatu kesempatan, aku kehabisan uang tunai dan kamu satu-satunya yang bisa aku mintai uang tunai pada waktu itu. Kamu memberi sejumlah uang tunai milikmu sembari berkata "Nggak perlu dibalikin, itung-itung aku belajar menafkahi kamu". Mendengar itu, aku hanya meresponnya dengan tertawa salah tingkah sambil berlari sejauh mungkin agar kamu tak melihat rona merah di wajahku.

Sejak hari itu, aku tidak pernah baik-baik saja. Sejak hari itu, caraku tersenyum dan menatapmu tidak lagi sama. Sejak hari itu, aku memilih jatuh cinta diam-diam padamu. Sejak hari itu hingga 3 tahun telah berlalu.


Ya, aku mencintaimu diam-diam selama 3 tahun.


Mencintaimu dalam diam selama 3 tahun seperti bermain tebak-tebakan dengan diriku sendiri. Menebak apakah kamu memiliki rasa yang sama. Menebak apakah aku telah melakukan kesalahan jika tiba-tiba sikapmu berubah menjadi acuh dan tidak biasanya. Menebak apakah hubungan ini sebenarnya lebih dari sebuah kata "teman". Menebak apakah sebenarnya tujuan dari setiap sikap yang kamu tunjukkan kepadaku selama ini. Menebak apakah aku meresponmu terlalu berlebihan sampai terbawa perasaan.

Mencintaimu dalam diam selama 3 tahun seperti berada di persimpangan jalan. Selama 3 tahun ini, aku bingung memilih jalan pulang. Apakah aku harus memilih mengaburkan rasa ini atau bahkan sampai harus mematikan rasa atau apakah aku membiarkanmu datang dan memupuk rasa ini hingga tumbuh dan tidak dapat aku bendung lagi. Aku bingung. Sungguh. Apalagi tidak pernah ada kata cinta terucap darimu.

Mencintaimu dalam diam selama 3 tahun membuat aku sering bertanya dalam hati. Bagaimana rasanya berada di posisi dicintai seseorang dalam diam? Bagaimana bisa kamu mencurahkan begitu banyak perhatian padaku tapi tidak ada sedikitpun rasa didalamnya? Bagaimana rasanya berada di posisi dirindukan dalam diam oleh seseorang? Sebenarnya hubungan aku dan kamu sedang berada di titik mana?

Semua pertanyaan itu selalu tertahan di ujung lidah. Ingin sekali terucap tapi lidahku kelu. Namun, perasaan ragu selalu datang menghampiri. Mungkin sebenarnya aku terlalu takut ditolak olehmu dan akhirnya membuatmu menjauh dariku ketika semua pertanyaan ini akhirnya dapat aku sampaikan.

Sebagai seorang yang telah merasakan manis pahitnya mencintamu dalam diam selama 3 tahun, aku menyadari bahwa mungkin seharusnya aku dan kamu tetap berpijak diatas pijakan masing-masing, tak perlu mengambil langkah untuk saling mendekat apalagi langkah untuk saling menjauh. Melihatmu dalam diam, menatap punggungmu ketika kamu berdiri di hadapanku, melihatmu sibuk berlalu lalang di depan mataku, melihatmu tertawa bersama yang lainpun. Tidak perlu ada obrolan di antara kita. Tidak perlu ada tegur sapa diantara kita. Tidak perlu ada berbalas senyum diantara kita. Semua itu sudah sangat membahagiakan aku selama 3 tahun ini.

Sebagai seorang yang mencintaimu dalam diam selama 3 tahun ini, aku menyadari bahagiaku mungkin tidak harus dengan memilikimu seutuhnya. Mungkin sudah waktunya aku harus memilih salah satu jalan pulang dibanding harus tetap berdiri ditengah persimpangan jalan dengan perasaan bingung. Aku bahagia dengan kisah cinta dalam diamku. Tetapi, merelakan rasa ini hilang memudar mungkin jauh lebih membahagiakan.

Doaku untukmu, semoga kamu bahagia denganku atau tanpaku.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Penikmat Lari, Baca, Nulis, dan tentu saja KAMU :)

Editor

Not that millennial in digital era.

CLOSE