Kisah cinta Neneng dan Bujang tertuang dalam lembaran buku berjumlah 117 halaman. Dengan gaya bahasa keseharian, dijamin buku ini nggak bakal bikin kamu bosan. Selain ceritanya yang jarang ditemukan, keasyikan lain dari buku ini adalah tokoh Neneng yang bikin saya heran. Herannya kebangetan lagi.

Tokoh Neneng digambarkan sebagai seorang perempuan yang bekerja sebagai penulis di Hipwee. Neneng ini bisa jatuh hati dengan seseorang pada pandangan pertama dalam sebuah bus, hanya karena obrolan singkat dan kesamaan selera. Membaca, menulis, dan berdiskusi dengan banyak hal bersama Bujang, nama lelaki yang membuatnya jatuh hati. 

Advertisement

Neneng melanjutkan hubungan yang semakin dekat dengan Bujang melalui sambungan telepon dan kemajuan media sosial, karena jarak mereka yang tak bisa dibilang berdekatan. Membaca buku ini bikin aku curiga, jangan-jangan lokasinya ada di kantor Hipwee yang Yogyakarta, ya? Semua terasa sangat nyata digambarkan oleh penulis. Cilok dengan kantor dan samping kampus, suasana kantor, meja makan, dialog Neneng dengan teman-temannya.Wah, jangan-jangan beneran di Yogyakarta!

Novel ini bisa selesai dalam sekali baca, karena memang hanya sedikit jumlah halamannya. Di halaman terakhir, ending dari kisah cinta Neneng dan Bujang akhirnya menemui takdir. Banyak yang bisa kamu pertimbangkan dalam kehidupan melalaui buku ini.

Alurnya sangat enak dibaca dan naratif. Beberapa kali menceritakan kisah itu  dari sudut pandang yang berbeda. Pada beberapa bagian,diceritakan dari Bujang, dan di bagian tertentu disambung lagi dengan sudut pandang Neneng.

Advertisement

Yang sedikit mengusik adalah:

Sampul. Sampul buku ini tidak begitu menarik mata. Gambarnya seperti foto rumah Gadang saat senja yang diambil dengan kamera berkualitas rendah, karena terlihat tidak begitu jernih gambarnya. Sekilas, kalau melihat sampul buku ini, kamu mungkin berpikir kalau ini buku yang sangat tua atau diterbitkan sekitar tahun 90an. Tapi nyatanya tidak. Buku ini baru saja dirilis bulan lalu.

Nah, dengan warna biru langit yang sangat mendominasi, warna judul dengan warna pink tua juga bikin buku ini terlihat gelap. Sangat gloomy. Sampul belakangnya full gambar langit. Lumayan bagus, hanya saja ukuran font sinopsisnya terlalu besar, jadi seolah-olah terlihat ramai kalau dipandang mata.

Yang ke dua, lagi-lagi tanda baca. Banyak tanda baca yang ditempatkan pada yang bukan semestinya. Kata-kata yang seharusnya disambung malah dipisah, huruf besar jadi huruf kecil, juga beberapa jeda yang seharusnya pakai tanda koma (,) hilang begitu saja.

Bagi kamu yang suka tebar pesona atau leluasa memberi harapan palsu pada beberapa manusia, hati-hati saja. Novel “Ketika Cinta Menyapa (Kisah Neneng-Bujang) ini bakal bikin kamu mengerti, tidak semua hal akan berakhir seperti yang sudah lama kamu nanti-nanti.

 

Ketika Cinta Menyapa

Jumlah halaman: vii+117 halaman

ISBN: 978-623-7055-16-7

Cetakan pertama Februari 2019

 

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya