Aku merajut kata di dalam kereta yang membawaku untuk pulang. Iya, aku akhirnya pulang karena aku tersadar bahwa kamu telah memilih hal lain. Gerbong 3 nomor 16E adalah nomor tempat dudukku, tempatku merenung sekaligus mengingatmu.

Kamu yang memiliki mata indah, hidung yang simetris, senyum yang manis, dan pipi tomat. Aku sering memanggilmu pipi tomat, karena pipimu yang bulat dan menggemaskan seperti buah tomat.

Aku tersenyum ketika menuliskan deskripsi tentang wajahmu yang tak bisa aku lupakan. Puluhan mulut manusia telah memerintahkan aku untuk melupakanmu, tapi hatiku tak bisa dibohongi. Puluhan pasang tangan telah berusaha menarikku pergi jauh untuk memindahkan jiwaku jauh dari jiwamu.

Mungkin ini sebuah pembelajaran…

Kepergianmu telah mengajarkanku tentang sebuah karma. Karma atas perbuatanku di tahun-tahun sebelum aku bertemu denganmu. Aku pernah meninggalkan seseorang yang mencintaiku, tetapi aku tidak mencintainya. Ku akui, dulu aku pernah mencintainya, tetapi, Tuhan itu Maha Membolak-balikkan hati, kini aku menjadi benci dengan dirinya. Apa alasanku membencinya? Tidak! Aku tidak akan mengungkapkannya di sini.

Kini, kamu menjadi laki-laki yang memberikanku pengalaman rasanya sakit bertepuk sebelah tangan. Sebuah komitmen telah membutakan mata dan hatiku. Dulu aku sangat mempercayaimu. Tetapi…

Ah sudahlah, kita memang bertemu untuk karmaku yang telah meninggalkan orang yang ku sayang dahulu.

Ketika aku melihat jendela dan menengok orang disebelahku, aku selalu berharap, aku bisa duduk denganmu sambil melihat pemandangan yang tersaji di jendela kereta. Tapi, apalah daya, orang disampingku, juga bukan orang yang berhak aku miliki. Dia adalah seorang pria manis yang tengah menikmati dentuman musik melalui earphone-nya, mana mungkin aku memilikinya hanya untuk menggantikan posisimu? Seperti itulah kedudukanmu di hatiku. Meskipun ada beberapa yang singgah tetapi hati terus menyanggah.

 

Kereta yang aku tumpangi, kini berhenti di kotamu.

Tak rindukah kamu denganku?

Tak sudikah kamu merapikan perasaan wanita ini akibat perasaan bertepuk sebelah tangan yang kau berikan?

Tak inginkah telingamu mendengarkan celotehanku?

Tak maukah kamu memegang tanganku dan menarikku ke dalam perasaan yang amat dalam?

 

Jika kamu berkenan, kini aku telah berhenti di kotamu…

Aku menunggumu dibawah langit kotamu

Meskipun, aku hanya berada dalam kisah setengah perjalanan hidupmu..tapi di hatiku, kamu tetaplah laki-laki pipi tomat yang inginku sayang…

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya