Singkat, tapi berkesan. Ya begitulah ungkapan yang pas untuk pertemuan ku dengan sebut saja kak Indra pada Kamis, 4 Mei 2017. Saat itu, kami sedang melakukan kegiatan field trip ke Bandung. Universitas negeri yang terkenal di kota Bandung bahkan Indonesia menjadi salah satu tempat yang akan kami kunjungi. Begitu tahu bahwa kami akan kesana, aku langsung menghubungi kak Indra, memberitahunya tentang hal tersebut. Tak lupa aku membawa sebungkus oleh-oleh cemilan dan kopi khas daerah ku karena kak Indra sangat suka kopi. Senang, bahagia, gugup semuanya bercampur menjadi satu ketika hari pertemuan itu tiba. Senang karena akhirnya kami bisa bertemu kembali setelah 5 bulan tidak bertemu. Ya, waktu itu kami bertemu di Bogor dalam sebuah acara. Aku dan kak Indra satu kelompok dan di kelompok itu hanya kami berdua yang berasal dari jurusan Agribisnis. Itu awal mula kedekatan kami.

Perasaan harap-harap cemas menghampiri ku tatkala chat di Line tak kunjung dibaca olehnya. Aku mulai gelisah bercampur sedih. Sebagai penghibur, aku mengatakan pada diri sendiri,"Mungkin dia lagi sibuk. Toh oleh-olehnya bisa ku titipkan pada salah satu panitia acara yang mungkin kenal dengan kak Indra."

Advertisement

Di penghujung acara, kak Indra baru membalas chat ku. Ternyata ia baru bangun tidur gara-gara semalaman begadang mengerjakan skripsi. Harapan untuk bisa bertemu muncul lagi. Dalam chatnya, kak Indra bilang sedang dalam perjalanan menuju kampus. Aku menunggunya sambil bercengkrama dengan teman-teman yang lain.

5 menit…. 10 menit…. 15 menit…. 20 menit…. 30 menit…

Aku tak kunjung melihat batang hidungnya. Hah, sudah lah mungkin belum rezeki untuk bisa bertemu dengannya. Akhirnya aku menitipkan oleh-oleh ini pada salah satu panitia acara.

Advertisement

Aku : "Kang, kenal sama yang namanya Indra semester 8 jurusan Agribisnis nggak?" tanya ku pada salah satu panitia.

Panitia : "Oh Indra. Iya kenal, kenapa?" Ia balik bertanya

Aku : "Mau titip oleh-oleh boleh Kang?"

Panitia : "Boleh. Nanti disampaikan. Dari siapa ya?"

Aku : "Diah"

Panitia : "Oke, nanti disampaikan."

Aku : "Terima kasih Kang."

Baiklah, rencana B sudah dilaksanakan. Aku tersenyum kecil berusaha menutupi rasa kecewa yang menghampiri. Namun, ketika aku berbalik ke belakang, kak Indra ternyata sudah berdiri di belakang ku, sedikit menyerong ke kanan. Senyum lebar langsung menghiasi wajah ku. Kami berjabat tangan kemudian berbincang-bincang sebentar dan berfoto untuk kenang-kenangan. "Diah, ntar kirim ya fotonya," kata kak Indra. Aku mengangguk.

Tak berapa lama kemudian, pemandu wisata meminta kami untuk masuk ke dalam bis karena perjalanan akan dilanjutkan ke tempat lain. Dengan berat hati, aku mengucapkan selamat tinggal kepada kak Indra dan berjabat tangan sebagai tanda perpisahan. Aku sempat menoleh sebentar ke arahnya dan melambaikan tangan sebelum masuk ke dalam mobil. Sedih rasanya harus berpisah. Rasa rindu yg tiba-tiba hadir membuat diriku ingin berlama-lama di universitas negeri terbaik di Indonesia ini.

Di dalam bis, aku masih memikirkan kak Indra. Setelah ku pikir-pikir sepertinya aku menyukainya. Tapi aku tidak begitu yakin dengan perasaan ini. Mungkin hanya sesaat. Ya, aku memang tipe gadis yg mudah untuk jatuh cinta. Apalagi kalau lawan jenis ku itu masuk ke dalam salah satu kriteria cowok idaman ku. Well, kak Indra masuk ke dalam kategori cerdas, manis, dan baik. Tapi ada dua hal yang mengganjal di hatiku. Pertama, apakah kak Indra juga menyukai ku? Kedua, apakah dia sudah putus dengan kekasihnya? Aku pernah tak sengaja melihat ada satu gadis yang sering mengomentari status kak Indra di Line dengan kata-kata yang menurut ku mesra dan begitu juga sebaliknya. Tapi belakangan ini tidak pernah lagi. Tapi, tapi, tapi hah! Terlalu banyak kata tapi. Baiklah, aku akan meyakinkan diri bahwa ini semua hanya bersifat sementara. Fakta bahwa aku menyukai kak Indra itu memang benar, tapi aku tidak bisa menjamin kalau ini bertahan lama. Mungkin kalau kami bisa bertemu kembali, kemudian sering berkomunikasi, dan memasuki fase yang lebih dalam, aku baru berani meyakinkan diri bahwa ini tidak bersifat sementara.

Sejujurnya aku mengharapkan ini bisa lebih dari sekedar teman, ataupun sahabat. Tapi aku harus sadar, kak Indra mungkin tidak merasakan hal yg sama. Bisa saja ia hanya menganggap ku sebagai teman atau senior dan junior. Jadi sebelum aku merasa tersakiti, rasa itu harus ku buang jauh-jauh. Kalaupun rasa itu masih betah di hati ku, aku harus pandai-pandai mengendalikannya. Berdoa kepada Tuhan, sang pemilik hati. Itu salah satu cara untuk mengendalikannya agar tidak ada pihak yang tersakiti.T

Teruntuk kak Indra, terima kasih sudah mau meluangkan waktunya untuk bertemu dengan ku. Padahal, aku yakin kakak pasti masih ngantuk dan capek sekali setelah semalaman mengerjakan skripsi. Aku anggap ini sebagai rasa saling menghargai dan menghormati di antara kita sebagai teman. Sekali lagi terima kasih, Kak. Ku tinggalkan separuh hati ku di kota kembang ini.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya