Apa kau baik-baik saja disana?

Aku mengkhawatirkan kamu, mungkin aku terlalu berlebihan. Disini, di jarak yang begitu jauh darimu, aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu. Hanya ini yang bisa aku lakukan untukmu, mungkin terlampau biasa bagimu, tapi maafkan aku yang terlalu sederhana ini.

Advertisement

Aku bukan seperti ‘mereka’ yang begitu mudah untuk mengungkapkannya, yang dapat secara langsung menanyakan padamu, atau menanyakan padamu melalui akun media sosialmu. Bagiku hal itu sangatlah saru untuk kulakukan. hanya ini yang bisa aku lakukan, semoga kau selalu dalam lindungan-Nya.

Maafkan aku yang tak bisa menjadi penghilang masalahmu, aku juga tak dapat menjadi yang disampingmu yang menemanimu untuk melalaui semua itu.

Walau terkadang kita begitu dekat, tapi itu hanya arti dari mata, yang dapat melihat sampai jangkauan retina dapat menerimanya,. Tapi mata tak dapat menjangkau jauh kedalam hati, Sehingga aku dan kamu terpisahkan oleh hati yang tertup rapat, bahkan jika kau ingin mengetahui sedikit, kunci hati ini bahkan aku simpan dalam “kotak” yang aku pun sulit untuk membukanya.

Advertisement

Dalam hal ini aku tak mau menjadikanmu tokoh utama dalam ceritaku, karena akulah yang menulis ini, akulah yan merasakannya, bukan kamu. Maaf karena kamu lah yang menjadi objek yang aku coba berusaha menerjemahkannya melalui kata-kata.

Aku memang tak memungkiri pernah menjadi orang yang melakukan hal hal ‘aneh’ padamu, melakukannya secara langsung padamu. Dan saat ini aku sadar hal itu terlampau saru untuk aku lakukan. Lupakanlah itu, aku mohon. Aku ingin berubah, aku ingin melupakan “kekonyolan” yang pernah aku lakukan padamu, yang menanggapi setiap candaanmu. Mungkin karena hal itulah, kamu menganggapku sama dengan “mereka” yang “menyukaimu”. Tolong lupakan itu, bantulah aku untuk dapat merubah itu semua.

Dan satu lagi, aku berharap kamu tidak terlalu mudah utuk mengartikan hal dariku itu sebagi hal yang sama yang “mereka” lakukan padamu. Karena sampai pada saat ini, saat aku menulis ini, aku belum dapat untuk mengartikan perasaanku sendiri.

Dan saat in, aku hanya ingin memfokuskan diri untuk memperbaiki semuanya, Perlahan mengikis semua itu. Tapi hanya satu yang tak dapat aku lakukan menghilangkan mu dari pandanganku, karena Allah tidak memberikan jarak untuk itu. Tapi yang seharusnya aku lakukan adalah menahan pandanganku, just it!

Namamu menjadi salah satu rizki yang kusebut disetiap dhuhaku, menyemogakanmu disetiap sujud disepertiga malamku. Maafkan aku yang telah menyeret namamu didalam bait doaku.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya