Pernikahan haruslah indah, pernikahan harusnya bahagia. Tapi tidak dengan pernikahan hubungan kami. Kala itu takdir yang membuat kami menikah. Aku terpaksa menikah pria yang tidak aku cintai hanya karena orang tuaku sakit dan memintaku untuk menikah. Sebenarnya aku tak begitu cinta dengan dia, tapi karena keadaan akhirnya aku menikah dengan pria itu.

Tiap hari pernikahan kami di bumbui cekcok dan pertengkaran yang tiada ujung. Tak ada kesamaan diantara kami semuanya serba berlawanan arah. Aku cape dan sangat lelah dengan pernikahan yang ku jalani. Dia dan aku bagaikan bumi dan langit semuanya berbeda dari mulai passion, keluarga hingga tahta kehidupan.

Jujur, aku masih belum menerima pernikahan diantara kami. Jujur aku masih belum siap menikah dengan pria yang masih abu. Kami menikah sudah hampir setahun namun tiada kebahagiaan diantara kami. Ya begitu dingin dan penuh kabut. Jangankan dikaruniai anak kehidupan rumah tangga kami bagaikan air es.

Aku selalu kesepian di siang hari sampai malam hari, apalagi aku ada di kota orang sendiri. Begitu pulang dia, aku sudah tidur dan pagi harinya saat aku membuka mata dia sudah kerja kembali. aku sendiri, disini terkurung dalam sepi yang tiada ujung. Aku membenci ini akku ingin kehidupan normalku, aku ingin hidup sekali saja dengan orang yang di cintai.

Ada pria lain yang membuatku sangat-sangat hidup dan bahagia. Aku ingin bersamanya namun sayang dia juga sudah menikah. Aku dibuat hidup olehnya dia tau dan mengerti apa yang aku mau dalam hidup. Berbeda dengan suamiku, semua yang dia lakuin itu tak pernah membahagiakanku.

Aku suka sekali makanan pedas, tapi dia benci makanan pedas. Aku suka sekali membaca buku dan menulis namun berbeda dengan dia yang tak suka membaca buku dan tak suka menulis. Aku suka sekali belajar tapi dia sama sekali tak suka belajar. Aku selalu ranking 1, 2, 3 dan punya prestasi di kelas tapi dia tak pernah dapat ranking dan sempat tidak naik kelas. Aku terbiasa hidup senang semuanya selalu diberikan oleh orang tuaku tapi dia tidak, dia selalu membeli sesuatu untuk orang tuanya. Aku dari kecil terbiasa jadi ratu punya pembantu banyak sehingga aku tak harus membereskan pekerjaan rumah tapi kini sebaliknya.

Rasanya pernikahan ini hanya membuatku terbelenggu, rasanya aku ingin ada orang yang melepaskan belenggu ini. Aku ingin bebas dan hidup bahagia. Ada seseorang yang diam-diam mengerti yang aku mau namun dia bukan milikku. Dia tau yang aku mau, dia tau segalanya tentang aku. Dia membuatku bahagia, aku sangat-sangat ingin bersamanya selamanya tak peduli dengan cincin melingkar di jarinya.

Dia sangat tau yang aku mau, dia membuatku bahagia menghidupkan kehidupanku yang telah mati. Aku tak ingin kehilangan dia yang kedua kalinya, aku merasa aku akan bahagia bersama dia. Meskipun usiaku terpaut sangat jauh darinya. Mungkin orang bilang seperti anak dan ayah. Tapi aku butuh pria dewasa seperti itu yang membimbingku dan mengayomiku.

Namun ini sangat kontras dengan pernikahannku yang dingin. Jangankan mengayomiku dia sering membiarkankku kesepian sendiri terkurung dan membuatku tak ingin hidup.

Biarlah aku tau ini salah, aku salah dengan rasa ini. Tapi yang ku tau tak ada yang salah dengan jath cint karena cinta tidak pernah salah.

Tuhan engkau tau hatikku, aku ingin kau satukan aku dengan kebahagiaanku, aku ingin kau satukan aku dengan pria itu. Dan izinkan kami bahagia selamanya.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya