Agni-nya yang dulu selalu hangat dan meneduhkan kini seolah berubah menjadi puncak gunung es yang sulit ia daki. Dan dalam keadaan beku seperti sekarang, ia jadi merasa takut kehilangan. Takut ditinggalkan olehnya. Takut ia tak akan memilikinya lagi.

“Aku ingin setelah perjalanan ini, kita bisa memulainya dari awal lagi,” Yudha menggumam pelan.

Agni yang mendengar mendengus sinis, memasukkan smartphone-nya ke dalam saku dan duduk melipat tangan dengan tatapan lurus memandangi orang-orang yang lalu lalang.

“Bisakah kau memaafkanku? Aku bersumpah tak akan mengulanginya lagi.”

Agni tak menjawab, terdiam mengigit bibirnya. Ia masih belum lupa luka yang digoreskan Yudha belum lama ini. Semua terekam jelas dalam ingatan tiap kali Yudha memohon dan meminta maaf padanya.

“Aku mau ke toilet.” Agni tak tahan. Ia beranjak meninggalkan kursinya.

Wanita itu buru-buru menuju toilet untuk menumpahkan tangisnya, Ia tak ingin pria itu melihatnya berurai air mata. Ia benci kalau harus terlihat lemah.

Peristiwa Agustus yang lalu masih terekam jelas di benaknya. Saat Agni datang ke kantor Yudha, showroom mobil Kencana cabang Tomang. Bukannya sambutan ramah dari bawahan yang ia terima, tapi wajah kikuk mereka yang tengah beristirahat di jam makan siang.

“Pak Yudha ada?” tanya Agni menghampiri meja salah satu sales counter yang paling dekat dengan pintu masuk ke ruang karyawan. Ina, begitu nama yang tercantum di nametag-nya.

“Nggg… ada.” Ina menjawab gugup.

Jawaban Ina membuat Agni dilanda keheranan. Bukan apa-apa, mereka pernah bertemu pada dua kali Family Day yang diikutinya setelah dua tahun sebelumnya Yudha dipromosikan menjadi pimpinan di salah satu kantor cabang Jakarta. Seharusnya bukan aura kekikukan lagi yang ia terima, tapi sapaan hangat dari para bawahan suaminya.

“Saya izin masuk ya, mau antar bekal makan siang.” Agni mencoba menepis kebingungannya dan mengatakan maksud kedatangannya.

Sales counter tersebut tak segera mengangguk, malah menoleh pada rekannya. Rekannya memaksa tersenyum pada Agni.

“Sebentar, Bu. Coba saya hubungi Bapak dulu. Takutnya sibuk.” Sales counter satunya dengan name tag bertuliskan Lily di dadanya mengangkat gagang telepon.

Beberapa menit berlalu, ia menutup gagang telepon di tangannya. Mungkin karena tak ada jawaban dari seberang.

“Saya masih harus jemput anak sekolah, apa sekarang saya bisa masuk?” Pertanyaan Agni membuat para sales counter jadi merasa tidak enak.

“Maaf, Bu, jadi menunggu. Silakan.” Dengan nada kaku, Lily mempersilakan. Ekspresinya menunjukkan keberatan yang tak dimengerti Agni. Tapi Agni tak ingin memikirkannya lagi, ia melenggang masuk ke ruang dalam.

Supervisor unit dan bagian administrasi yang ada di ruang dalam tampak terkejut saat mengetahui kehadiran istri Kacab mereka.

Agni mengangguk ramah sebelum menyapu pandang ke sekeliling ruangan, mencari meja kerja suaminya. Ia memang baru sekali datang ke kantor suaminya dan tak tahu di sebelah mana suaminya biasa duduk.

Matanya akhirnya tertumbuk pada sebuah pintu yang ditempeli papan nama 'Ruang Kepala Cabang.' Ia berjalan menghampiri pintu dan mengangguk hormat pada tiap karyawan yang dilaluinya. Tiap karyawan yang ditemuinya melayangkan ekspresi yang tak jauh beda dengan sales counter di depan, gelisah seperti tak ingin Agni masuk ke ruangan suaminya.

“Aneh.” Agni menggumam dan coba mengabaikan.

Agni pun memutar gagang pintu dan membukanya. Baru separuh terbuka ia sudah disuguhi pemandangan yang membuat jantungnya seakan berhenti berdetak. Matanya terkesiap kaget, tak menyangka dengan apa yang dilihatnya detik itu. Customer service kantor cabang tempat suaminya bertugas tampak duduk di atas meja, menghadap suaminya. Baju keduanya tampak berantakan. Dengan bagian atas sama-sama tersingkap.

“Agni.” Yudha seketika menoleh, terkejut mengetahui kehadiran Agni. Ia refleks menjauh dari perempuan yang sempat melekat di depannya.

Keduanya buru-buru merapikan pakaian masing-masing. Usai merapikan diri, perempuan yang merupakan CS itu langsung berjalan keluar dengan kepala tertunduk.

“Agni, ada apa kemari?” Yudha mencoba bersikap tenang, berusaha mengatasi malu karena tertangkap basah istrinya.

“Aku hanya ingin mengantar bekal makan siang.” Agni meletakkan rantang nasi ke atas meja. Ia mencoba meredam irama jantungnya yang berpacu lebih cepat setelah menyaksikan apa yang dilakukan suaminya barusan.

“Aku pulang.” Agni mencium tangan suaminya sebelum berlalu. Ia berusaha tetap bersikap tenang walau sendi-sendi tubuhnya terasa lemas.

Saat itu juga, saat melangkah meninggalkan kantor suaminya, hati Agni terasa remuk redam, hancur sehancur-hancurnya. Bagaimana tidak, pengkhianatan itu terjadi di depan matanya. Ia yakin itu bukan pertama kalinya. Perbuatan mesum itu pasti sudah sering mereka lakukan.

Agni bisa membacanya dari sikap janggal semua karyawan kantor tadi. Mereka semua sudah tahu, kecuali dirinya, istrinya, orang yang selama ini hidup mendampingi Yudha hingga ke pencapaiannya sekarang.

“Kenapa ia tega melakukan ini?”

Agni tak habis pikir. Mengapa hal ini terjadi setelah dua belas tahun mereka menikah? Setelah sekian lama ia menemaninya merangkak dari bawah, hidup prihatin tanpa keluh kesah. Bahkan setelah suaminya mapan pun, ia tak menuntut apa-apa.

“Kenapa ini balasannya?”

Agni tak bisa lagi membendung air mata. Setiap jengkal ia melangkah, ia mencoba merangkai semua kejadian. Termasuk kenapa ia datang kemari dan kenapa ia harus melihat ini…

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya