Sudah cukup lama bagiku kita tidak saling bicara. Maaf. Sesungguhnya aku tidak mau seperti ini. Sikapku yang menjaga jarak ini hanyalah sebuah caraku untuk dapat menghormatimu, pacarmu dan diriku sendiri.Tidak dapat kusangsikan. Aku hanyalah seorang lemah yang terlalu terpukau oleh pesonamu saat kau sudah ada yang memiliki. Maafkan. Aku di sini masih tidak dapat menghilangkan senyum manismu yang selalu muncul setiap saat, terlebih sebelum aku tidur.

Ingatkah engkau ketika kita berjalan berdua terlepas dari rombongan? Lalu kita menikmati alam berdua, melintasi jalan setapak, saling membantu melewati rintangan dan jalan yang licin. Tetesan keringat yang membasahi tubuh menjadi saksi detik-detik kemenangan kita saat kita melihat kota yang begitu kecil dari atas puncak. Atau saat aku memboncengmu dengan motor vespaku setelah kita belajar bersama dari rumah Lia pada malam itu? Malam yang dihiasi gerimis dan cahaya temaram lampu-lampu jalan Raya Bintaro. Malam itu, kau memang tidak memeluk badanku, tapi aku merasakan hangat di dalam jiwaku.

Advertisement

Kedekatan kita yang cukup singkat telah membuatku lupa. Aku tersesat dalam lamunanku sendiri. Betapa indahnya hari-hariku jika selalu bersamamu. Semangat dan hidup. Namun, apakah aku harus menjadi egois untuk selalu bisa bersamamu? Aku rasa tidak perlu. Aku sadari kau sedang tidak sendiri. Engkau perempuan yang baik dan aku hanya lelaki yang selalu ingin melewati batas. Aku yakin engkau selalu menjaga komitmen dengan dia. Namun, apakah cintaku ini salah atau bukan cinta yang salah namun kondisi? Dilema. Bagaimanapun tidak dapat kupungkiri bahwa dirimu begitu indah.

Indahnya dirimu. Apakah yang membuatmu seperti itu? Tubuhku hitam dan biru didera jutaan rasa yang bertubi-tubi mendera dari segala arah. Gejolak rasa yang meluap-luap ini aku rasa tidak ada samudera yang dapat menampungnya.

Begitu hebat dirimu mampu menjinakan aku. Menghabiskan seluruh waktuku untuk memikirkanmu. Mencurahkan segala rasa agar tidak terseret dalam arus. Namun yang aku dapat hanyalah malam-malam yang semakin panjang. Dirundung rindu melulu.

Advertisement

Sekarang, aku mencoba memahami apa arti cinta ini. Kuresapi makna dari bait yang ditulis oleh Gibran bahwa senar pun berdiri terpisah untuk dapat menghasilkan harmoni. Iya, sebuah keindahan tidak hanya ditemukan dalam kebersamaan.

Ada sepenggal lirik yang tidak dapat kuubah. Kudapatkan dari sosok bijaksana. Seutuhnya kutuliskan untukmu:

Bagaimanapun engkau kepadaku, tidak perlu kutahu, urusan dirimu. Bagaimanapun aku kepadamu, tidak perlu kautahu, urusan diriku.

(PS: Tulisanku ini terinspirasi dari lagu Manahemana yang dinyanyikan surayah Pidi Baiq.)

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya