Aku habiskan semua daya dan usahaku untuk menggembirakan hati seorang mama yang terluka. Karena hanya mama pejuang hidupku selama setahun terakhir ini. Namun apalah arti bahagia jika aku mengecewakan di akhirnya. Berkali-kali aku dibuat bahagia dengan munculnya kesempatan bekerja di sebuah perusahaan terkenal. Aku bilang pada mama, "Mah, do'ain nita ya semoga bisa masuk" dan Mama bilang, "Ya pasti mama do'ain".

Hatiku benar-benar hancur ketika aku tidak disebutkan namanya. Aku kecewa dengan diriku sendiri. Segala macam doa dan pengharapan sudah aku layangkan pada Sang Maha Pencipta. Namun sepertinya usahaku belum sempurna karena itulah Dia tidak mengabulkannya. Air mata demi air mata yang jatuh seakan menumpahkan segala yang aku rasa.

Aku benar-benar mengecewakan. Beberapa orang menguatkanku. "Wudlu lah anita. Shalatlah kamu. Minta lah lagi do'a restu mama" atau "Tenang nit, kamu orang yang beruntung. Bisa beruntung kamu kerja di Bandung dan bersama mama kamu". Terlebih lagi ketika aku mengatakannya pada mama. Awalnya aku masih bisa tersenyum dan tegar. "Ya mungkin bukan rezeki" ucapku. Namun ketika mendengar ucapan mama, seketika air mata ini jatuh sederas-derasnya.

Aku yang gengsi ini benar-benar merasa kecewa dan benci pada diriku sendiri. Mama yang selalu mendoakan aku, aku hancurkan hatinya. Aku benar-benar tak kuasa dengan bicara langsung padanya. Aku mengirimkan sebuah teks pesan pada mama, "Mah, Nita minta maaf ya nita ngga masuk. Nita janji nita bakal nyari yang lain secepatnya". Hatiku benar-benar hancur.

Bukan mereka yang aku sesalkan, melainkan diriku yang aku sesalkan. Tidakkah aku berusaha dengan baik? Aku yang terus bicara pada papa lewat angin malam. Aku jatuh pada tangisan keheningan malam. Mungkin papa disana juga kecewa melihat anaknya yang dibanggakan tapi gagal. Lewat bulan malam yang bersinar semalam, aku sampaikan permintaan maafku pada papa. "Maaf pah, belum bisa jadi yang terbaik. Tapi nita janji, nita bakal bahagiain mamah dan papah apapun caranya".

Advertisement

Sujud di telapak kaki mama bukanlah hal yang ringan untuk dilakukan. Hatiku merasa tercabik-cabik ketika aku benar-benar merasa tidak pantas sebagai seorang anak. Aku mengecewakannya dari dulu hingga sekarang. Seharusnya aku menguatkan dan membahagiakan mama yang kini sangat lelah akan pekerjaannya sendiri.

Aku bisa melakukan apa selain menangis? Aku ucapkan berkali-kali kata maaf padanya hingga lidahku kelu tak mampu aku ucapkan lagi. Aku berkata padanya jika aku akan membahagiakannya dengan apapun caranya. Aku janji akan menjadi anak yang baik. Namun saat ini aku melanggarnya. Melanggar satu janji padanya. Aku bukan anak yang baik.

Aku malu pada diriku sendiri. Aku marah pada diriku sendiri yang terlalu terlena dengan kesempatan mewah. Aku bodoh dengan segala kebahagiaan yang ada. Hingga aku sadar, mama merupakan penguatku, ridha Allah mengalir ada padanya. Mama sudah aku rapuhkan hatinya.

Bohong jika ia tersenyum dan mengatakan tidak apa-apa. Aku sedih karena tidak membawa hasil apa-apa atas semua keinginan yang sudah aku rangkai bersama mama. Bodohnya aku yang menyia-nyiakan kesempatan.
Kerasnya hidup sebagai seorang anak yang baru menatap dunia luar itu sangat perih. Dulu anak yang dimanja sekarang harus dilepas dan harus berusaha sendiri.

Aku senang bisa punya kesempatan bekerja disini. Meskipun hanya sebentar dan berakhir dengan kekecewaan. Kadang aku malu menatap dunia, merasakan betapa meruginya aku jika terlena pada kesempatan dalan kesempitan yang ada. Meskipun semua menyemangatiku, aku tetap berusaha berdiri meskipun selalu jatuh tersungkur.

Namun aku harus terus berusaha berdiri dan berjalan lagi, karena aku punya janji yang harus aku tepati. Janji yang dibayar dengan restu seumur hidup. Meskipun kadang aku merasa menyerah pada hidup ini. Tapi karena Allah lah aku merasa aku harus berjalan lebih jauh lagi. Karena jika aku berlari terlalu cepat, aku akan jatuh lagi. Mendapatkan semua yang kita inginkan merupakan kesempurnaan hidup.

Tapi siapa manusia didunia ini yang terus diselimuti rasa itu? Rasulullah pun pernah dilempari kotoran. Apalagi manusia yang biasa-biasa ini. Berharap akan kesempurnaan adalah tujuan dalam hidup yang paling puncak. Terkadang, aku malu sendiri pada Allah, aku belum bisa tampil lebih baik dari yang sebelumnya. Mama yang selalu aku patahkan hatinya, membuat aku merasa aku harus lebih memaksakan kedua kaki dan tanganku untuk bekerja dan membahagiakannya.

Tak peduli betapa lelah dan sakitnya semua pikiran yang aku rasakan, semua itu akan terbayarkan dengan ridha mama yang mengalir di sepanjang hidupku. Meski kini aku gagal di umurku yang belum menginjak kepala dua ini, tapi aku merasa waktuku sangatlah pendek, karena seorang wanita tidak mungkin terus menerus bekerja dan bersama orang tuanya. Seorang wanita haruslah mandiri dan jauh dari orang tuanya.

Untuk mama yang aku kecewakan hatinya, aku akan berusaha untuk terus-menerus. Tak peduli hatiku pilu karena terus melayangkan doa dan harapanku pada-Nya. Karena kau adalah lilin yang harus aku nyalakan, meskipun nantinya aku harus siap jika lilin itu meleleh dan habis. Maaf merupakan kata yang akan terus aku layangkan padamu.

Ma. Maaf jika kau terus meneteskan peluh dan rasa sakit. Dengan sangat rendah hati aku ingin jadi penopangmu. Meskipun sekarang kau harus berjuang sendiri, biarlah dengan usaha dan doaku yang akan mengantarkan mama dan papa ke surga indah-Nya.

Kesempatan ada banyak diluar sana. Kesempatan yang besar dan luar bisa hebatnya. Sebuah kegagalan merupakan mahkota yang paling indah. Meski harus berurai air mata tapi aku belajar bagaimana berusaha bangkit lagi dari keterpurukan yang amat dalam. Mama, demi semua kenikmatan yang ada pada dunia, cintaku terhadapmu melebihi apapun. Rasa sakitmu akan aku bayar dengan apapun, meski aku harus bertaruh nyawa sekalipun.

Ma, maafkan aku yang selalu kelu saat mengucapkan kalimat cinta dihadapanmu. Maafkan aku aku yang tidak selalu bersujud ketika aku bahagia ataupun sedih. Maafkan aku yang tidak pernah membantumu ketika kau sedang susah. Maafkan aku yang masih menjadi anak yang manja dan bermewah-mewahan, masih belum mengerti apa itu kerja keras. Jika aku bisa putar balikan waktu, aku akan rubah semuanya biar aku tidak melukai hatimu lagi. Sungguh, aku menyesalkan waktu yang ada.

Dengan segala keterbatasan yang aku miliki, aku minta maaf padamu Ma, aku cinta padamu seumur hidupku di dunia dan di akhirat. Biarlah Allah yang kuasa yang akan terus melindungimu dan menjauhkan setiap rasa sakit. Maafkan aku yang gagal ini.

Anak sulung yang sedang berusaha untuk kerja keras dan selalu semangat 🙂