Yah aku sempat tenggelam dalam situasi yang dilematis. Satu sisi dia sudah mencuri hati orang tuaku hingga orang tuaku menyetujui dia untuk menjadi pacarku. Namun dalam lubuk hatiku yang paling dalam belum ada benih-benih cinta muncul. Aku pun mencoba untuk membangun cinta padanya dan untuk menghindari kemaksiatan aku mengajaknya ta'aruf. Awalnya dia bersedia namun tidak berusaha.

Awalnya dia memahami mengapa aku enggan bertemu dengannya hanya berdua namun terkadang dia memaksa untuk bisa bertemu hanya berdua. Aku pun mulai ragu akan keseriusannya dalam menggapai cinta yang suci. Mungkin dia memang serius ingin meminangku meski entah kapan namun dia tidak serius melalui prosesnya dengan di jalan Allah SWT. Saat dia mulai membara dalam mendekatiku mulai dari sering chat tentang hal yang menurutku tidak penting dan selalu mengajaku ketemuan berduaan namun aku selalu menolaknya karena aku takut ada fitnah di mana-mana.

Advertisement

Hingga detik demi detik, siang dan malam hati ini berbalik, ada setitik rasa rindu saat dia seharian tidak memberi kabar padaku, mulai ada rasa kesal saat dia terlalu lama membalas chat untukku dan yang paling parah adalah mulai ada rasa rindu yang hanya bisa diobati oleh temu.

Aku pun menyerah, mengikuti kata orang tua untuk takluk padanya, mengikuti alur yang ada namun sebenarnya pada saat itu hati aku menjerit bahwa ini “dosa”. Aku pun dilema, hampa dan pikiran pun tak karuan. Rasa nyaman yang tercipta bersama dia tidak tulus dari hati. Rasa cinta yang tumbuh seperti mengada-ada. Hingga akhirnya sebelum ada rindu yang membuatku candu, sebelum cinta ini tumbuh dengan sendirinya dan sebelum aku patah karena kehilangan arah.

Aku beranikan berbicara pelan-pelan kepada kedua orang tuaku. Bahwa aku ingin berpisah dulu dari dia, jodoh ataupun tidak itu rahasia Tuhan. Sejauh-jauhnya jarak selama ditakdirkan bersama kita bisa berbuat apa. Aku tidak membencinya namun sebaliknya ini adalah caraku menyayanginya. Agar dia tidak berlumur dosa karena kebersamaan yang diantaranya dosa tercipta. Bukan karena aku sudah baik akan tetapi karena aku jauh dari kata baik dan banyak dosa yang aku pikul, oleh karenanya aku ingin menjauhi hubungan ini setidaknya aku bisa mengurangi dosa-dosaku.

Advertisement

Mungkin aku tidak bisa berlomba-lomba dalam kebaikan setidaknya aku ingin berlomba-lomba untuk menjauhi kemaksiatan. Dan Alhamdulillah orang tuaku menyetujui keputusanku begitupun dia yang awalnya kecewa padaku.

Tuhan jika dia memang tersakiti akan sikapku, mohon beri petunjuk padanya dan ampunilah aku. Jika memang dia marah padaku, redakanlah dengan kuasamu agar dia tahu betapa aku tidak begitu membencinya. Tuhan ada ketakutan akan jauh dari jodoh saat aku ingin mengutarakan perpisahan padanya. Takut tak ada lagi yang mencintaiku selain dia. Namun aku lebih takut jauh dari-Mu. Ada rasa ingin bersamanya menciptakan moment indah.

Namun aku takut tak bisa merasakan momen indah di surga bersama Nabi. Aku tidak tahu apakah pilihan ini terbaik atau tidak. Yang sesungguhnya pilihan aku berpisah dengannya adalah karena-Mu. Karena aku ingin dicintai oleh-Mu, karena aku ingin bersama dia yang diridhai oleh-Mu, bersama dia yang mengajakku ke surga-Mu, aku tak ingin menebar dosa, dan aku ingin akhir hayatku dalam keadaan khusnul khatimah.

Memang terkadang ada sedikit penyesalan tentang keputusanku berpisah dengannya. Yang harusnya di malam tahun baru ini adalah janji dia akan memberiku moment indah yang entah itu apa, malam terindah antara aku dan dia, berbicara dari hati ke hati, duduk di tempat tertinggi, menatap kembang api, merasa nyaman dalam pelukannya, makan jagung bakar bersama hingga akhirnya kita tertawa bersama, tenggelam dalam dinginnya waktu menelan malam.

Indah memang namun itu semua hanya mimpi dan aku tidak berharap itu. Aku tidak menyesal kini, karena ada Tuhan yang sedang memelukku erat sembari tersenyum.  Manusia hanya bisa berencana, dan Tuhan yang berkehendak. Percayalah rencana Tuhan adalah yang terbaik.

Tuhan lebih tahu apa yang kamu butuhkan, bukan apa yang kamu inginkan. Dan untukmu yang di malam tahun baru tidak bersama sang kekasih yang belum halal mungkin Tuhan sedang sayang sama kamu. Hehe.. Karena sendiri bukan berarti benar-benar sendirian karena masih ada teman, ataupun sahabat yang siap meramaikan tahun barumu. Karena sendirian bukan berarti sendiri melainkan hati dan lingkungan sekitarnya tidak terintegrasi satu sama lain dan terciptalah hampa padahal dalam keramaian.

Tak apa tak bersama dia, masih ada sahabat yang mampu membuatku tertawa, tak apa aku harus menelan harapan karena tidak selalu bersama dia bisa mengukir keindahan, tak apa aku harus berteman rindu yang belum terbalas, masih ada doa yang mampu menggugurkannya hingga melepas dan tak apa aku harus merasa kehilangan karena dengan kehilangan ini mengajarkanku tentang keikhlasan.

Semoga di tahun 2019 rencanamu selalu disertai atas nama-Nya dan karena-Nya dan terwujud di tahun itu juga. Selama keputusanmu disertai karena-Nya insha Allah akhir yang indah setia menantimu.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya